HomeOpiniEfek Sorotan

Efek Sorotan

Oleh: Alissa Wahid

Saat sedang menyusuri jagat maya, sering sekali kita disodori berita tentang para pesohor dan juga para pemengaruh (influencers). Kelompok kedua ini biasanya orang-orang yang menjadi terkenal melalui media sosial, baik karena kepakaran tematis mereka maupun karena aksi-aksi yang dibuatnya.

Teknologi informasi dan media sosial menciptakan egalitarianisme dalam akses informasi. Siapa saja dapat menjadi sumber informasi dalam topik apa saja. Setiap orang dapat menerima informasi tanpa batas dari siapa saja yang menarik perhatian mereka.

Baca juga Akhlak Mulia

Salah satu dampaknya adalah fenomena matinya kepakaran (the death of expertise) yang dipopulerkan Tom Nichols. Para pakar yang menguasai pengetahuan atau topik tertentu menjadi kalah pengaruh dibandingkan dengan orang awam yang piawai dalam media sosial. Contoh paling kuat di Indonesia adalah para pemuka agama yang berilmu tinggi banyak dikalahkan oleh para pesohor media sosial yang mengajarkan agama walaupun tidak memiliki keilmuan yang memadai.

Di sisi lain, para artis yang tidak memiliki akses kepada industri seni dapat menampilkan dirinya di media sosial dan platform internet dan menemukan panggungnya di jagat maya. Salah satu contohnya adalah Alip Ba Ta, sosok yang memukau dunia melalui permainan gitarnya. Atau para MUA (make-up artist) yang bermunculan menjadi influencers media sosial senyampang menguatnya industri kecantikan.

Baca juga Ki Hadjar dan Engku Syafei, Inspirator Kemerdekaan dari Ruang Kelas

Demikian juga para crazy rich yang awalnya tidak dikenal, tetapi berkat media sosial dapat memamerkan kekayaan dan gaya hidup hedonistik mereka. Bahkan, hal ini menjadi salah satu media promosi investasi bodong, seperti yang kita lihat beberapa waktu lalu.

Cukup banyak masyarakat yang tergiur dengan gaya hidup serba mewah dan nyaman seperti itu sehingga tergerak berinvestasi yang menjanjikan cara mudah dan cepat. Ujungnya, publik pun tertipu.

Peluang terkenal dan mendapatkan keuntungan materi melalui media sosial memang sangat besar. Walhasil, banyak orang ”biasa” dari sudut-sudut Indonesia pun membanjiri media sosial dan platform internet lainnya dengan kreasi konten-konten yang beraneka warna. Bahkan, kadang dibuat sebombastis mungkin, menabrak kelaziman dan bahkan etika, dengan alasan demi konten.

Baca juga ”Overthinking”

Sejatinya, setiap orang memiliki keyakinan bahwa orang-orang di sekitar memiliki perhatian berlebih kepada dirinya. Ini biasanya membuat orang menjadi lebih sadar diri dan menahan diri. Padahal, kenyataannya, publik di sekitarnya tidak terlalu memperhatikan. Demikian kesimpulan sebuah penelitian pada 1999 oleh psikolog Tim Gilovich.

Fenomena ini disebut Spotlight Effect (Efek Sorotan), seakan kita berada di bawah lampu sorot yang terang benderang dan membuat semua orang dapat melihat kita secara utuh. Ini adalah salah satu bentuk bias kognitif, di mana kita merasa poros dunia adalah kita. Kita menjadi lebih hati-hati dalam menampilkan diri di ruang publik. Padahal, setiap orang merasa demikian pula.

Baca juga Islam Indonesia Berkelanjutan

Menariknya, di Indonesia, khususnya di jagat maya, justru yang terjadi sebaliknya. Kesadaran efek sorotan ini justru membuat banyak orang memanggungkan dirinya untuk mendapatkan perhatian publik. Insentifnya jelas: penghasilan dan popularitas. Karena itu, muncul juga fenomena narsis yang disematkan kepada para pesohor media sosial atau mereka yang beraspirasi menjadi pesohor.

Berhubung masyarakat Indonesia tidak membedakan urusan pribadi dengan urusan publik, muncullah dampak lain, yaitu keingintahuan yang besar mengenai seluruh detail aspek kehidupan si pesohor. Semisal kasus-kasus konflik keluarga seorang pemengaruh gaya hidup dan kecantikan. Dan ini ditangkap oleh penyedia jasa informasi berbasis platform internet melalui kecerdasan artifisial (AI) sehingga berita-berita mengenai para pesohor ini berhamburan di jagat maya.

Baca juga Merawat Kebangsaan

Seluruh fenomena ini menciptakan banyak tantangan baru. Berbagai jebakan psikososial pun menguat dalam skala yang mengkhawatirkan. Semisal kecenderungan untuk faking good alias berpura-pura menampilkan sesuatu yang sebetulnya tidak dilakukan di dunia nyata. Akibatnya, masyarakat kita dapat bergeser menjadi masyarakat munafik.

Gambaran di media sosial yang selalu indah, misalnya kemesraan pasangan pesohor yang bertagar #relationshipgoal, atau perjalanan dengan pesawat privat, dan lain-lain, berkembang menjadi impian rakyat jelata di Indonesia.

Baca juga Otonomi bagi Anak

Bahkan, ketika impian tersebut berjarak demikian jauh dari kenyataan, atau terbukti sang pesohor hanya berpura-pura demi konten, masyarakat tetap bertahan pada impian tersebut. Akibatnya, sebagian anggota masyarakat kita pun menjadi masyarakat yang tidak realistis.

Padahal, cepat atau lambat, sering kali kepura-puraan itu terekspos akibat kepiawaian netizen untuk mencari informasi. Di dunia maya sering disebut bila netizen Indonesia sudah seperti Badan Intelijen Negara dalam hal mencari informasi.

Baca juga Ilusi Media Sosial

Bila kemudian terungkap, ramai-ramai publik dunia maya menghakimi dan menghujat sang pesohor. Bahkan, seringkali hujatan tersebut merembet kepada orang-orang terdekat si pesohor. Akibatnya, masyarakat kita telah bergeser menjadi masyarakat penghujat.

Perubahan sosial ini terjadi tanpa benar-benar kita sadari. Kita bisa bayangkan apabila ini terus berlangsung dan menguat. Apakah masyarakat Indonesia akan membentuk kultur dan nilai kepura-puraan, munafik, tidak realistis, suka mengurusi orang lain, tak mampu membedakan urusan publik dan privat, dan suka menghakimi dan menghujat? Pelik bukan?

*Artikel ini diterbitkan Harian Kompas, Minggu, 2 Oktober 2022

Baca juga Tawaf

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...