HomeOpini”Overthinking”

”Overthinking”

Oleh: Kristi Poerwandari
Dosen Fakultas Psikologi UI

Anak muda sering menggunakan istilah overthinking. Jika ngobrol atau berdiskusi dengan mahasiswa, mereka bercerita mengenai cemas atau sulit tidur akibat overthinking. Yang lain bahkan harus berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater untuk membuat dirinya sedikit lebih sejahtera.

Awalnya saya sulit membayangkan apa yang dimaksud dengan istilah overthinking itu. Berarti di masa sebelum sekarang, saya jarang atau nyaris tidak pernah mengalaminya, sampai sulit membayangkan bagaimana rasanya. Belakangan baru saya mengerti tidak nyamannya situasi diri akibat mengalami terus-menerus berpikir dan tidak mampu membuat otak beristirahat.

Baca juga Islam Indonesia Berkelanjutan

Saat itu saya harus menyelesaikan suatu tulisan yang bagi saya sangat sulit, memerlukan membaca banyak sekali literatur dalam waktu amat terbatas. Sambil sekaligus mencari lubang-lubang dan jawaban sementara dari review literatur tersebut untuk dapat disajikan menjadi suatu tulisan akademik yang komprehensif dan memiliki kebaruan.

Dua bentuk

Campur aduk antara antusias, cemas, dan tegang akibat tugas yang sulit dan bertumpuk, kita dapat berminggu-minggu bekerja di depan komputer. Dengan tuntutan pada diri untuk dapat menyelesaikan tugas sebaik mungkin, kita nyaris tidak beristirahat dan larut malam pun masih menjelajah internet.

Ketika sadar bahwa kita telah demikian kelelahan, dan memaksa diri mengambil jeda, ternyata otak telanjur sulit menurunkan aktivitasnya. Otak tetap seperti lampu yang panas menyala dengan berbagai pikiran berkecamuk hilir mudik, membuat istirahat dan tidur sulit dilakukan.

Baca juga Merawat Kebangsaan

Situasi lain yang sering dikenai istilah overthinking adalah ketika kita tidak dapat membebaskan diri dari berpikir atau mencemaskan segala sesuatu secara berlebihan. Biasanya yang dipikirkan atau dibayangkan ialah berbagai hal negatif. Seolah tidak ada ujungnya, kita memikirkan yang lalu, mencemaskan yang mungkin terjadi dalam waktu dekat, maupun untuk jangka panjang.

Penyebab yang kedua lebih bervariasi. Mungkin kita memang memiliki karakteristik diri banyak berpikir dan mencemaskan sesuatu meski lingkungan tidak menuntut demikian. Bisa jadi keluarga atau lingkungan terdekat menuntut kita untuk selalu sempurna. Atau kita pernah mengalami peristiwa menyakitkan tentang suatu kegagalan atau kesalahan yang menyebabkan kita jadi mudah khawatir.

Hidup lebih seimbang

Untuk meminimalkan overthinking, tampaknya kita perlu menyadari kembali bahwa hidup ini perlu dijalani lebih seimbang. Bekerja dan belajar memang mengisi waktu terbanyak dalam hidup kita, tetapi kita juga perlu beristirahat dan memiliki kehidupan sosial.

Mengingat kerja dengan internet dan teknologi tinggi menjauhkan kita dari alam, akan baik jika kita dapat mengembalikan unsur-unsur alam dalam kehidupan kita. Caranya dapat disesuaikan dengan yang cocok dan memungkinkan untuk kita.

Baca juga Otonomi bagi Anak

Apakah dengan mempercantik rumah dengan elemen alam, seperti warna hijau? Berkebun sederhana di halaman rumah? Memelihara binatang? Menghadirkan tanaman di dalam rumah? Cuti untuk berlibur menikmati alam?

Untuk mereka yang tinggal di apartemen sempit serba beton dan tertutup, mungkin baik untuk mencari udara segar saat istirahat, atau bahkan mencari taman atau tempat di luar ruangan untuk bekerja.

Kita perlu lebih tegas menetapkan batasan waktu menggunakan internet atau gawai agar otak dapat diistirahatkan, ada waktu untuk mengerjakan hobi, dan hubungan sosial mulai dapat dibangun kembali.

Baca juga Ilusi Media Sosial

Penelitian menunjukkan bahwa waktu istirahat dan saat menyenangkan dengan teman dan keluarga itu merupakan saat recharge. Jadi, tidak perlu khawatir bahwa pekerjaan akan terbengkalai. Pilih mana: terus sibuk bekerja dengan kepala pusing, hati kesal dan hasil tidak maksimal, atau beristirahat dulu dan kemudian dapat bekerja dengan lebih segar?

Berpikir positif

Overthinking itu muncul karena kita dipenuhi kecemasan atau rasa takut. Tetapi, membayangkan yang serba negatif justru akan membuat kita makin cemas, bahkan seperti terlumpuhkan. Menjadi kacau dalam berpikir, dipenuhi kesedihan, dan sulit untuk dapat mengambil keputusan dengan tenang.

Jadi, lebih baik tidak berpikir ”bagaimana jika nanti gagal atau tidak berjalan baik”, melainkan membayangkan bahwa kita akan mampu menjalani hari meski situasinya tidak sempurna.

Baca juga Tawaf

Di dunia serba teknologi canggih dan penuh kompetisi ini kita memang seperti dikejar-kejar untuk menjadi hebat dan sempurna. Tetapi, justru kita perlu secara berkala mengingatkan diri kembali bahwa kita bukan manusia super atau sempurna.

Jika ketegangan dan kecemasan datang, tarik dan embuskan napas panjang berulang-ulang agar kita merasa lebih tenang. Ubah kata-kata yang kita sampaikan pada diri menjadi ”tidak adil untuk menuntut diri menjadi perfect”, ”saya akan mampu menjalaninya”, ”tugas ini dapat diselesaikan”.

Tidak perlu menuntut diri perfect karena memang diri kita tidak sempurna. Upayakan bahwa kita dapat menyelesaikan tugas tanpa harus menjadi sangat sempurna. Pilih mana: ingin kesempurnaan tetapi malahan jadi tidak pernah selesai dengan tugas, dan makin menyesali diri, atau menyelesaikan tugas dengan satu dua kekurangan, dan dapat berlanjut dengan tahapan berikutnya?

Baca juga Hijrah dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya

Pada akhirnya, ada banyak hal di dunia ini yang pastinya tidak dapat kita kendalikan. Siapa presiden berikutnya, bagaimana kebijakannya, apakah besok akan hujan, bagaimana tetangga berperilaku, bagaimana atasan mengambil keputusan, serta apa yang dipikirkan oleh teman atau orang-orang di sekitar kita.

Yang dapat kita kendalikan adalah pikiran, perasaan, dan perilaku kita sendiri. Jadi, marilah membantu diri sendiri dengan berkata: ”Aku bukan manusia sempurna, tetapi aku berharga, sama seperti manusia-manusia lainnya. Hidup ini juga tidak sempurna, tetapi semoga aku dapat melakukan hal-hal sederhana untuk membuat hidupku (lebih) baik.”

*Artikel ini dimuat di Kompas.id, 24 September 2022

Baca juga Melindungi Anak dari Pornografi dan Narkoba

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...