HomeOpiniGeng Siswa dan Kekerasan...

Geng Siswa dan Kekerasan di Sekolah

Oleh: Fuad Ariyanto
Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2007-2008

Seorang gadis belia menyusuri jalan kampung sambil menangis. Di belakangnya, sekelompok siswa berseragam sekolah dasar berteriak mengolok-olok gadis itu. Mereka rame-rame menuduh gadis itu mencuri barang milik siswa lain.

Sampai di rumah, orang tua si gadis kaget menerima kehadiran anaknya dikeler teman-temannya dan segera menenangkannya. Sementara gerombolan siswa itu terus berteriak seperti pendemo di depan gedung dewan. Mereka baru bubar setelah beberapa hansip (keamanan kampung) menghalau para perundung.

Baca juga Meneladani Kenegarawanan Nabi

Peristiwa itu tentu sangat melukai perasaan si gadis, sebut saja namanya Savitri. Malu, marah, dan kecewa menggumpal jadi satu. Perangainya yang biasa ceria berubah murung, pasif, mengurung diri, dan hampir saja tak mau lagi menginjakkan kaki di sekolah. Namun, orang tuanya pelan-pelan berhasil memulihkan kekuatan mental Savitri sampai kembali normal.

Anehnya, pihak sekolah tidak berbuat apa-apa. Seakan tidak terjadi apa-apa. Kejadian itu dianggap sebagai keisengan siswa biasa. Padahal, perbuatan mereka jelas perundungan (bullying) yang sangat berpengaruh pada perkembangan mental korban.

Baca juga Efek Sorotan

Perundungan merupakan salah satu bentuk kekerasan pada anak. Dalam cerita fiksi kriminal, perundungan seperti itu bisa membuat seseorang jadi pembunuh. Traumanya terbawa sampai dewasa, sementara kemampuan intelektualnya tercecer. Suatu saat dendamnya terpicu dan korban perundungan itu pun mencari satu per satu teman sekelas yang pernah merundungnya. Maka, terjadilah pembunuhan berantai. Itu fiksi.

Umumnya, guru, orang tua, dan pendidik lain menerjemahkan kekerasan hanya berupa memukul, menendang, mencakar, menjambak rambut, dan kekerasan fisik lain. Prima Dea Pangestu dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang jadi narasumber pada webinar bertema Sekolah Bebas Kekerasan; Mengenal Bentuk Kekerasan di Sekolah dan Penanganannya, pada 27 Mei 2022, sebagaimana dikutip dari laman dtpsd.kemendikbud.go.id. mengatakan, jenis kekerasan yang paling sering dialami anak usia 13–17 tahun di kota maupun desa adalah kekerasan emosional (psikis). Dari data hasil survei, lanjut Dea, 3 dari 10 anak laki-laki dan 4 dari 10 anak perempuan usia 13–17 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan.

Baca juga Akhlak Mulia

Direktur Sekolah Dasar Kemendikbud Dra Sri Wahyuni MPd mengatakan, webinar tersebut digelar untuk memberikan edukasi kepada orang tua, guru, dan para pemangku kepentingan tentang bentuk-bentuk kekerasan dan cara mengatasinya. Harus dipastikan bahwa tiap sekolah –utamanya jenjang SD– mampu melaksanakan kegiatan belajar-mengajar dalam situasi kondusif. Lingkungan satuan pendidikan terjaga dengan baik dari kekhawatiran terjadinya kekerasan dan perundungan.

Sri mengingatkan, perundungan merupakan salah satu dosa pendidikan sebagaimana telah ditegaskan Mendikbud. Tiga dosa pendidikan yang harus ditangani serius adalah perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. Kerja sama yang kompak di lingkungan satuan pendidikan –kepala sekolah, tenaga pendidik, orang tua, dan siswa– menjadi kunci utama pencegahan kekerasan di sekolah.

Baca juga Ki Hadjar dan Engku Syafei, Inspirator Kemerdekaan dari Ruang Kelas

Dra A. Kasandra Putranto, psikolog klinis dan forensik Kasandra Associates, yang juga sebagai narasumber webinar tersebut mengungkapkan, di masa pandemi perundungan yang dialami siswa SD merambat ke ranah online. ’’Artinya, peserta didik lebih rentan mengalami perundungan secara langsung maupun online (daring) ketika mereka banyak berkegiatan dengan gawai,’’ tutur Kasandra.

Plus-Minus Geng Siswa

Kekerasan di sekolah, termasuk perundungan, kadang berkaitan dengan geng siswa. Karakter umum geng siswa adalah show of force, unjuk kekuatan. Kekuatan positif maupun negatif.

Tidak semua geng siswa bersifat negatif. Banyak juga yang positif. Misalnya, geng olahraga, musik, teater, melukis, dan geng-geng yang berkaitan dengan kegiatan kurikuler lain.

Baca juga ”Overthinking”

Geng jenis itu umumnya antikekerasan. Saya pernah bergabung geng jenis ini yang mayoritas beranggota siswa SMP-SMA. Tak pernah sekali pun geng terlibat dalam kekerasan di sekolah. Bahkan, saya mendapatkan istri dari geng itu. Unjuk kekuatan yang dipamerkan geng ini berupa prestasi. Geng itu pernah menjuarai lomba drama tingkat nasional pada 1981 dan memboyong Piala Menteri Agama (waktu itu) Alamsyah Ratu Prawiranegara. Sampai sekarang mantan anggota geng itu masih sering berhubungan dan sesekali bertemu untuk ngobrol.

Tawuran antarpelajar yang berkali-kali terjadi, termasuk belakangan ini, sedikit banyak juga melibatkan geng siswa. Bisa jadi itu salah satu unjuk kekuatan mereka untuk mempertegas eksistensinya. Geng-geng siswa seperti ini kadang “terafiliasi” dengan geng di luar sekolah yang dipimpin preman jalanan atau anak pejabat dengan kawalan kopral sangar.

Baca juga Islam Indonesia Berkelanjutan

Geng-geng jenis ini tak takut menghadapi siapa saja. Termasuk kepala sekolah. Apalagi guru bertubuh kerempeng. Pelototan mata kopral cukup membuatnya gemetar.

Dalam webinar tersebut tidak disebutkan secara khusus cara mengatasi kekerasan geng seperti itu. Namun, orang tua dan pendidik mungkin bisa mencegah terjadinya perilaku agresif peserta didik sebagaimana dijelaskan Kasandra Putranto. Misalnya, dengan memberikan perhatian khusus pada peserta didik yang menunjukkan kemarahan atau kekecewaan berlebihan, mudah tersinggung, tidak mau mengalah, atau tersaingi. Kasandra mengakui, “perilaku seperti itu memang perlu pemahaman cermat oleh orang tua dan guru.”

*Artikel ini terbit di Jawapos.com, Minggu, 23 Oktober 2022

Baca juga Merawat Kebangsaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...