HomeBeritaMenciptakan Iklim Sekolah yang...

Menciptakan Iklim Sekolah yang Damai

Aliansi Indonesia Damai- Sukamto, Kepala SMAN 7 Surakarta, menekankan pentingnya merawat kedamaian di lingkungan pendidikan. Pasalnya, situasi nirdamai berdampak luas pada pelbagai aspek pendidikan serta merugikan semua pihak.

“Ini harus kita ciptakan betul sekolah yang damai. Lingkup kecil saja kita, kelas damai. Diawali dari kelas lalu lebih luas antarkelas. Nanti lebih luas lagi tingkat provinsi. Lebih luas lagi tingkat nasional, lebih luas lagi tingkat internasional,” ujarnya saat membuka acara “Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di sekolah yang dipimpinnya, Rabu (18/1/2023).

Baca juga Makna Ketangguhan Menurut Pelajar Maliska

Ia mengaku prihatin setiap menyaksikan kabar di media massa di mana sejumlah pelajar di satu sekolah terlibat bentrok dengan sesamanya dari sekolah lain. Pihaknya juga merasa miris bahwa di dunia pendidikan masih terjadi tiga perilaku negatif yang menjadi ancaman bersama. Menyitir Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim, Sukamto menyebut tiga ‘dosa besar pendidikan’ tersebut adalah pelecehan seksual, perundungan, dan intoleransi.

Terkait pelecehan seksual di lingkungan sekolah, ia mewanti-wanti anak didiknya agar pandai-pandai mengendalikan diri. “Ini pembelajaran ya buat anak-anakku semua, hati-hati. Yang bisa mengendalikan apa? Ya, agama kita, keimanan kita. Bergaul boleh tapi harus ada batas-batasnya,” katanya kepada 80 siswa SMAN 7 Surakarta yang menjadi peserta kegiatan.

Baca juga Menguatkan Karakter Tangguh Pelajar MAN 2 Surakarta

Lebih jauh Sukamto menjelaskan bahwa seluruh warga sekolah juga wajib mencegah perundungan serta sikap intoleran. Dalam hematnya perbedaan agama, budaya, atau hal lainnya tidak menghalangi setiap individu untuk berinteraksi sosial secara baik dengan sesama.

“Kedamaian yang ada di sekolah, kita semua ini menjadi pionirnya. Kalau ada hal-hal yang menyimpang atau tidak damainya sekolah, maka kami harapkan anak-anak untuk tidak segan-segan memberikan masukan kepada teman ini. Karena memang kalau terjadi ketidakdamaian, ini yang kena dampaknya adalah semuanya,” kata dia.

Baca juga Menempa Ketangguhan Siswa SMAN 5 Surakarta

Kegiatan ini diselenggarakan AIDA untuk menguatkan karakter pelajar bangsa. Para peserta menyimak kisah ketangguhan dari penyintas aksi terorisme serta mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang telah bertobat. Ketangguhan penyintas tampak pada semangatnya bangkit dari keterpurukan akibat peristiwa terorisme. Sementara mantan pelaku menunjukkan ketangguhan dengan pertobatannya dari jalan kekerasan. Kedua pihak, penyintas dan mantan pelaku, saling melengkapi untuk mengampanyekan perdamaian dan semangat ketangguhan kepada generasi muda. [MLM]

Baca juga Menginspirasikan Ketangguhan di SMAN 2 Surakarta

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....