HomeBeritaMenginspirasikan Ketangguhan di SMAN...

Menginspirasikan Ketangguhan di SMAN 2 Surakarta

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar kampanye perdamaian di SMAN 2 Surakarta, Jawa Tengah, awal Oktober 2022 silam. Kegiatan ini merupakan rangkaian safari perdamaian AIDA di sekolah-sekolah Surakarta. Kegiatan dihadiri sekitar 80 siswa aktivis organisasi intrasekolah.

Dalam kegiatan ini, AIDA menghadirkan kisah ketangguhan korban-korban terorisme. Sebagian korban yang terkena langsung dampak serangan mengalami cedera parah hingga membuatnya mengalami disabilitas. Sementara korban tidak langsung, yaitu mereka yang kehilangan anggota keluarga akibat ledakan bom, harus menanggung derita karena kehilangan tulang punggung keluarga.

Baca juga Empati Terhadap Korban Terorisme

Saat bersamaan, AIDA juga menghadirkan kisah mantan pelaku terorisme. Meskipun memiliki latar belakang cerita yang beragam, namun secara garis besar mereka terjerumus dalam jaringan ekstremisme karena ghirah keagamaan yang tinggi dan dipengaruhi oleh orang-orang terdekat. Sejumlah pelaku lantas memutuskan bertobat dan keluar dari kelompoknya yang dulu.

Kisah korban dan mantan pelaku menginspirasi siswa-siswi SMAN 2 Surakarta. Salah satu siswa mengungkapkan, kisah perjuangan korban yang mengalami disabilitas atau kehilangan anggota keluarga menyuntikkan semangat pada dirinya agar menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Baca juga Membekali Pelajar dengan Karakter Ketangguhan

“Mereka (korban) saja yang terpuruk sedemikian rupa mampu menghadapi masalah dan bangkit kembali. Bagaimana dengan saya yang bukan siapa-siapa dan masih sehat-sehat saja? Saya harusnya bisa sekuat korban,” ujarnya.

Menurut dia, kisah yang paling menyentuh hatinya adalah para perempuan yang mati-matian menghidupi anak-anaknya seorang diri karena suaminya meninggal dalam peristiwa serangan bom.

Baca juga Kesepahaman untuk Perdamaian

Sementara dari kisah mantan pelaku terorisme, siswa tersebut menekankan pentingnya sikap kritis yang membuat pelaku bisa menyadari bahwa paham yang mereka anut sebelumnya salah. “Selama ini mantan pelaku diberitahu oleh pimpinannya untuk tidak menerima ajaran lain selain kelompok mereka. Tapi dengan sikap kritisnya, mantan pelaku berani berdiskusi dengan ustaz atau orang lain. Itu membuka pikiran mereka,” ucap siswa tersebut.

Lebih dari itu, dalam hematnya, mantan pelaku juga mengajarkan keberanian keluar dari ‘zona nyaman’. Padahal keluar dari kelompok itu pasti sangat berisiko. Mereka bisa saja dibenci bahkan dimusuhi oleh kelompoknya sendiri.

Selain itu mantan pelaku juga berani mengakui kesalahan. “Setelah mendengar cerita korban, mantan pelaku menyadari kesalahan di masa lalu. Mereka dulu telah mengakibatkan banyak sekali kerugian, trauma, dan kesedihan bagi korban. Mantan pelaku mau mengaku salah dan legowo karena menyadari telah melakukan kesalahan yang fatal,” ujarnya. [FAH]

Baca juga Menolong Korban dan Mantan Pelaku Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...