HomeBeritaMenguatkan Karakter Tangguh Pelajar...

Menguatkan Karakter Tangguh Pelajar MAN 2 Surakarta

Aliansi Indonesia Damai- Kepala MAN 2 Surakarta, Drs. H. Nuri Hartono, mengingatkan anak didiknya untuk waspada terhadap paham-paham kekerasan. Ia menyampaikan pesan tersebut saat membuka acara Diskusi Interaktif bertema Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh, Kamis (19/1/2023) lalu.

Kegiatan hasil kerja sama dengan AIDA tersebut diikuti oleh 80 siswa-siswi MAN 2 Surakarta. Dua aktivis perdamaian di Kota Solo, Nurul Mustofa dan M. Ibnu Nafiuddin, bertindak sebagai fasilitator kegiatan.

Nuri mengutarakan, pelbagai cara dan sarana digunakan kelompok kekerasan untuk meracuni generasi muda. Dari cara-cara yang halus dan sembunyi-sembunyi, sampai yang secara terang-terangan melancarkan propaganda kekerasan.

Baca juga Menempa Ketangguhan Siswa SMAN 5 Surakarta

Ia meyakini, para remaja masih dapat mengikuti pendidikan dengan baik selama masih menempuh pendidikan di jenjang sekolah menengah. Sebagai contoh di madrasah yang ia pimpin, dicanangkan program sekolah ramah anak. Seluruh warga MAN 2 Surakarta dilatih untuk membiasakan budaya-budaya yang mendukung program tersebut.

Akan tetapi, dia mewanti-wanti anak didiknya ketika nanti melanjutkan ke bangku perkuliahan bakal dihadapkan pada berbagai pilihan organisasi dan pemahaman. Dikhawatirkan, apabila ketangguhan dalam diri pelajar lemah maka cenderung mudah terpengaruh kelompok kekerasan.

“Ciri-cirinya apa? Gampang sebenarnya. Kalian nanti jangan sampai terjerumus di situ. Kalau ada gerakan bawah tanah itu dia mengunggulkan organisasinya dan merendahkan orang lain atau organisasi lain, itu cirinya. Kalau sudah seperti itu sampeyan jangan mengikuti,” ujarnya.

Baca juga Menginspirasikan Ketangguhan di SMAN 2 Surakarta

Nuri kemudian menceritakan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh keluarganya yang pernah terpapar paham kekerasan semasa kuliah di perguruan tinggi. Dalam forum kajian kelompok tersebut ditekankan kebencian terhadap negara dan pemerintah, serta ragam informasi yang kurang tepat mengenai ajaran agama.

“Dia kuliah, masuk organisasi. Hampir kuliahnya itu jebol, tidak mau. Kuliah nanti untuk apa, paling pol masuk pemerintah. Gaji pemerintah itu berasal dari yang haram-haram. Sampai seperti itu paham yang ditekankan kelompok itu ke pengikutnya,” katanya.

Dari itu, ia mendukung AIDA menyelenggarakan Diskusi Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di MAN 2 Surakarta. Ia berharap para siswa yang mengiktui kegiatan mampu menumbuhkan karakter tangguh dalam diri serta menjadi duta perdamaian di mana pun berada. “Mudah-mudahan Aliansi Indonesia Damai bisa benar-benar mewujudkan perdamaian, kokoh, sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi harga mati untuk kita semua,” pungkasnya.[MLM]

Baca juga Empati Terhadap Korban Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...