HomeBeritaNegara Urus Korban Sekadarnya

Negara Urus Korban Sekadarnya

PARA korban aksi tindak pidana terorisme kerap dilupakan masyarakat bahkan negara. Korban dalam proses pemulihan justru dibiayai swasta, LSM termasuk Aliansi Indonesia Damai (Aida), hingga kedutaan besar asing.
Peran negara selama ini sekadar uang kerahiman yang seadanya.
Melihat kenyataan tersebut dan seiring dengan momentum revisi Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Direktur Aida Hasibullah Sastrawi meminta penguatan terhadap hak-hak korban dimasukkan ke revisi.
Selama ini pemberian kompensasi, yakni sesuai dengan Pasal 36 UU Terorisme, harus berdasarkan putusan pengadilan. Praktis, sejak UU Terorisme berlaku hingga 2014, tidak ada korban yang mendapatkan kompensasi.
“Persoalannya (kompensasi di) UU ini juga tidak pernah diimplementasikan dan diberikan ke korban. Aida ­sudah ta­nya ke korban, mereka (korban) tidak pernah dapat kompensasi, yang mereka terima ialah bantuan kemanusiaan atau uang kerahim­an,” ujar Hasibullah dalam pelatihan bertema Penguatan perspektif korban dalam peliputan isu terorisme bagi insan media, di Jakarta, kemarin.
Harapan sempat muncul dari pengesahan UU tentang Perlindungan Saksi dan Korban pada 2014. Menurut Pasal 6 ayat 1, korban berhak mendapatkan bantuan medis, bantuan rehabilitasi psikososial dan psikologis. Akan tetapi, baru sekitar 40 korban terorisme dari 300 korban yang mendapat hak tersebut. Untuk mendapatkan hak itu, korban harus mendapatkan surat keterangan korban yang tidak jelas siapa yang mengeluarkan.
Hasibullah meminta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memudahkan korban mendapat status korban. Caranya, LPSK mengambil alih sebagai lembaga yang me­ngeluarkan surat keterangan korban dengan verifikasi-­verifikasi yang bisa ditentukan LPSK sendiri.
Lebih lanjut, Hasibullah mengusulkan tiga penguatan untuk korban dalam revisi UU Terorisme. Pertama, merumuskan ulang penetapan kompensasi tanpa melalui vonis peng­adilan. Cukup melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau LPSK.
Kedua, revisi UU Terorisme memberi norma bahwa negara menjamin seluruh kebutuhan medis korban terorisme dari masa-masa kritis. Ketiga, dalam revisi UU Terorisme perlu dibedakan antara korban atau tidak. Hasibullah menilai selama ini terjadi salah kaprah dan menganggap keluarga pelaku juga sebagai korban. Padahal, korban adalah warga sipil yang terkena dampak terorisme, sedangkan keluarga pelaku merupakan korban penanganan terorisme yang hak rehabilitasinya sudah diatur dalam UU Terorisme.
Pilih yang memanusiakan
Pada kesempatan yang sama, korban teror bom kuningan 2004 Iwan Setiawan mengaku yang memberi bantuan medis hingga pulih adalah Kedutaan Besar Australia. Pemerintah Indonesia memberikan bantuan medis selama dua minggu, tetapi ia lebih memilih bantuan dari Kedubes Australia karena lebih ‘memanusiakan’. “Berobat ke mana saja ditanggung.”
Sri Hesti, ibu dari korban bom Hotel JW Marriot 2003 Rudi Dwilaksono yang berprofesi sebagai satpam, mengaku bantuan dari negara hanyalah uang kerahiman dari Kapolri Da’i Bachtiar. Untuk pemakaman pun Sri hanya mendapat Rp5 juta dari manajemen Hotel JW Marriot.
“Boro-boro (ada dari pemerintah), cuma cerita tidak ada ininya (realisasi),” ungkapnya sedih. (P-1)
*Artikel pernah dimuat di Harian Media Indonesia edisi 7 April 2017.
(SWD)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...