HomeInspirasiAspirasi Damai"Sang Kamus" Jaringan Terorisme...

“Sang Kamus” Jaringan Terorisme dan Ekstremisme

Oleh Hasibullah Satrawi, Direktur Eksekutif Aliansi Indonesia Damai (AIDA)

Saya baru mengenalnya beberapa tahun belakangan. Kurang lebih di tahun 2010-an melalui sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ternama di Jakarta yang konsern dengan penelitian di bidang kebebasan beragama dan berkeyakinan. Pada saat itu, nama beliau sudah sangat besar di bidang riset dan penelitian, khususnya terkait dengan media dan isu-isu ke-Islam-an.

Dari pengalaman dan perjumpaan di lembaga tersebut, saya menjadi lebih dekat dengan beliau, termasuk mulai sering silaturahmi ke rumahnya di daerah Depok. Bahkan saya juga diminta oleh beliau bantu-bantu anak-anak Yatim di sebuah Pondok Pesantren di kawasan yang tak jauh dari rumahnya. Selama beberapa tahun saya bantu-bantu di pondok ini, selama itu pula perjumpaan dengan beliau terus berlangsung. Ditambah lagi dengan acara-acara yang mempertemukan kami berdua, baik dalam kegiatan lembaga lain maupun kegiatan di lembaga yang didirikan oleh beliau (bersama beberapa tokoh senior lain) bernama AIDA – Aliansi Indonesia Damai.

Sependek yang saya tahu, beliau sangat konsern terkait isu ekstremisme dan terorisme, khususnya terkait jaringan dan sepak terjang dari para pelaku ekstremisme di Indonesia. Saya bersaksi beliau sangat ahli dan menguasai peta jaringan terorisme dan ekstremisme, khususnya di Indonesia. Beliau memiliki pengetahuan dan informasi yang sangat lengkap dan mendetail terkait tokoh-tokoh terorisme dan ekstremisme di Indonesia. Di AIDA kami biasa memanggil beliau dengan “kamus berjalan” terkait jaringan terorisme dan ekstremisme.

Beberapa buku yang telah diterbitkan oleh beliau bisa menjadi contoh dari keahliannya di bidang jaringan terorisme dan ekstremisme. Salah satunya adalah buku berjudul NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia. Buku ini telah diterjemahkan ke beberapa bahasa dan menjadi rujukan di banyak kampus maupun pusat penelitian. Tentu ini sangat dipahami mengingat kualitas dan kedalaman yang termuat di dalamnya.

Keahlian beliau di bidang jaringan terorisme dan ekstremisme telah membuatnya dekat dengan banyak lembaga, baik lembaga pemerintah, pendidikan atau bahkan lembaga-lembaga yang bersifat swadaya masyarakat atau LSM. Secara pribadi saya tidak ragu untuk menjuluki beliau sebagai ahli terbaik di Indonesia terkait jaringan terorisme dan ekstremisme. Beliau adalah “Sang Kamus” di dunia terorisme dan ekstremisme.

Apakah hanya ini keahlian beliau? Saya yakin tidak, apalagi beliau menggeluti isu yang cukup luas sebagaimana disampaikan di atas, yaitu media dan Islam. Terkait media, beliau memiliki sikap yang sangat istimewa. Walaupun memiliki kapasitas yang sangat tinggi sebagai narasumber, tapi beliau termasuk sangat jarang tampil di media, khususnya media televisi, terlebih lagi media sosial. Alasan yang selalu disampaikan adalah, mosok wartawan mewawancarai wartawan.

Kini beliau sudah meninggalkan dunia fana ini. Melalui sambungan WhatsApp (WA), seorang teman mengabarkan bahwa Bapak Solahudin meninggal dunia. Awalnya kami tidak percaya dengan kabar yang ada. Tapi setelah dicek kembali, memang benar Kang Solah (demikian sapaan akrab beliau) telah meninggal dunia. Ini adalah kehilangan besar bagi kami dan juga Indonesia, khususnya di dunia terorisme dan ekstremisme. Semoga amal-amal almarhum diterima oleh Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan untuk melanjutkan keteladanan-keteladanan beliau. Selamat jalan Kang Solah. Terimakasih untuk semua kontribusi dan keahliannya dalam upaya membangun Indonesia yang lebih damai.

Ciputat, 27 Desember 2025

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...