Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan bom berdaya ledak tinggi yang dilakukan kelompok Jamaah Islamiyah (JI).
“Buat saya tidak mudah untuk bisa berdamai dengan diri sendiri, butuh proses panjang. Banyak cobaan, tantangan dan perjuangan yang harus dilakukan,” ujar Erniati dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Juli 2024 silam.
Erniati menceritakan dahulu dirinya sering sedih dan menangis. Bahkan, terkadang ia tiba-tiba menangis tanpa sebab. Pikirannya pun entah kemana. Bertahun-tahun ia merasakan kesedihan dan mental yang rapuh.
Baca juga: Berdamai dengan Diri Sendiri
Namun seiring berjalannya waktu, Erniati mulai menyadari bahwa kondisi tersebut sangat tidak baik untuk dirinya. “Secara perlahan saya menyadari jika terus menerus begini maka saya tidak akan bisa melakukan apa-apa. Saya punya tanggung jawab besar terhadap dua anak saya,” tuturnya.
Ia pun memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan. Ia berusaha menerima kenyataan dan berdamai dengan diri sendiri. “Saya tak bisa terus menangis. Saya harus membesarkan mereka, saya harus kuat,” ungkap dia.
Erniati mulai menyibukan diri dengan pekerjaan agar tidak terus larut dalam kesedihan. Ia pun mengajak buah hatinya jalan-jalan untuk menguatkan dirinya. “Saya bisa seperti saat ini karena anak-anak saya,” ungkap dia. [AS]
