HomeOpiniIdul Fitri, Nyepi, dan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute

Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026

Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri. Baik umat Islam maupun umat Hindu pada hari ini sama-sama memiliki momentum istimewa untuk melakukan perenungan dan introspeksi bagi terbentuknya manusia saleh dan suci.

Bagi umat Hindu, Hari Suci Nyepi adalah Tahun Baru Saka 1948 yang dimaknai sebagai momen penyucian diri melalui refleksi diri, hening, dan meditasi. Dilaksanakan dengan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak menyalakan api atau lampu, tidak bekerja dan bepergian, serta tidak bersenang-senang. Mereka fokus berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Berhenti beraktivitas selama 24 jam untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, merenung, dan memulai tahun baru dengan hati yang suci. Heningnya suasana dimanfaatkan untuk merenungkan dan mengevaluasi perbuatan di masa lalu untuk meniti masa depan yang lebih baik.

Baca juga: Internalisasi Kerukunan di Tengah Keragaman

Tidak berbeda dengan umat Islam, Hari Raya Fitri juga merupakan hari kembalinya manusia pada fitrahnya yang suci seperti bayi yang baru lahir dan menjadi makhluk yang paling baik (ahsani takwim). Sebab, pada bulan Ramadhan yang baru saja dilalui, umat Islam betul-betul diberikan berbagai kesempatan oleh Allah untuk menyucikan jiwa dan rohaninya, diampuni segala dosanya sesuai dengan tujuan berpuasa (Ramadhan) selama sebulan penuh untuk menjadi manusia yang bertakwa dan dapat meniti hidup yang lebih baik selama sebelas bulan ke depan.

Dalam konteks pelaksanaan peringatan, di sini memang ada pemandangan yang kontras pada kedua agama tersebut. Jika pada umat Hindu Hari Suci Nyepi bermakna tidak ada keramaian dan aktivitas, mereka harus bersemedi; pada Hari Raya Fitri justru umat Islam melakukan ritual takbiran dengan semarak, baik di rumah ibadah maupun di ruang publik, misalnya takbir keliling, saling berkunjung dan bermaaf-maafan satu sama lain secara terbuka, mudik ke kampung halaman untuk berziarah dan bertemu keluarga.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi perbedaan dalam memperingati momentum kedua umat beragama itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menginstruksikan kepada kedua umat beragama tersebut untuk saling menghormati dan menjaga kedamaian bersama.

Baca juga: Menjaga Kerukunan Bersama

Menag juga meminta kepada umat Islam di Bali untuk melaksanakan takbiran Idul Fitri dengan penyesuaian, tanpa pengeras suara (sound system), tanpa konvoi, dan dibatasi pada pukul 18.00-21.00 Wita. Kesepakatan ini diambil bersama tokoh masyarakat Bali untuk merawat toleransi dengan harapan, Nyepi tetap tenang dan takbiran tetap khidmat.

Menyatu dalam damai

Bagaimana momentum Hari Raya dan Hari Suci Nyepi bagi kedua umat beragama ini dapat direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, dengan bersama-sama saling introspeksi dan memperbaiki hubungan yang harmonis serta memperbaiki citra religiusitasnya?

Dom H Camara, seorang aktivis dan uskup agung, menyerukan agar seluruh umat beragama bersatu dan membuka kembali kitab sucinya masing-masing untuk menemukan ajaran kemanusiaan universal dalam rangka melawan musuh nyata ketidakadilan.

Lalu aktivis Muslim, Asghar Ali Engineer (1993: 29), mengimbau perlunya memperjuangkan secara serius problem bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia dengan menata kembali kehidupan sosial yang adil dan egaliter. Oleh sebab itu, menurut Ali, orang beriman yang sejati adalah bukan hanya mereka yang mengucapkan kalimah syahadah, melainkan mereka yang menegakkan keadilan dan memperjuangkan kelompok yang tertindas (al-mustadh’afin). Untuk menuju ke arah kedamaian dan keutuhan umat, keadilan harus terus diperjuangkan.

Baca juga: Fitrah dan Keberagamaan yang Berdampak

Menurut ajaran Hindu, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Sang Hyang Widhi Wasa yang paling sempurna karena memiliki potensi jasmani, akal, dan jiwa (Tri Pramana). Dan tujuan hidupnya adalah untuk mencapai moksa (menyatunya jiwa dengan Tuhan) melalui jalan Catur Purusartha (dharma, artha, kama, moksa). Manusia dalam pandangan Hindu harus dapat hidup harmonis dengan alam, sesamanya, dan Tuhan (Tri Hita Karana), serta selalu berbuat baik (dharma) untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin.

Tidak berbeda dengan ajaran Islam, bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT) juga dalam sebaik-baik bentuk (QS At-Tin), yang memiliki entitas jiwa, raga, akal, dan kalbu. Entitas jiwa akan kembali ke haribaan Tuhan Yang Maha Esa (masuk surga) jika di saat hidup di dunia, manusia beramal saleh. Manusia juga harus memiliki relasi yang baik (harmoni) kepada Tuhan-nya, sesama manusia, dan alam semesta (hablun min Allah, min An-Nas, dan min al-Alam).

Peran agama-agama

Secara umum, peranan agama dalam kehidupan manusia dapat dilihat dari dua aspek. Pertama adalah aspek konatif (conative aspects). Aspek ini berkaitan dengan kemampuan agama dalam menyediakan sarana kepada masyarakat dan anggota-anggotanya untuk membantu mereka menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.

Kedua, aspek yang bersifat kognitif (cognitive aspects). Aspek ini terkait dengan peranan agama dalam menetapkan kerangka makna yang dipakai oleh manusia dalam menafsirkan secara moral berbagai kesukaran dan keberhasilan pribadi mereka, juga sejarah masyarakat mereka di masa yang silam dan keadaannya di masa kini (EK Nottingham, 1985: 107-108).

Pemahaman terhadap peranan agama semacam itu dapat ditemukan batu pijakannya dalam berbagai sumber suci agama-agama semit. Dalam Islam, misalnya, Al-Quran tidak hanya mewajibkan kepada umatnya untuk melakukan ibadah-ibadah ritual-seremonial yang bisa memberikan kelegaan emosional dan spiritual, tetapi juga membuka ruang penafsiran intelektual guna membantu manusia dalam mendapatkan makna dari seluruh pengalaman hidupnya. Peran seperti ini tampak dengan jelas dalam hampir setiap ibadah ritualnya yang selalu terkandung apa yang biasa disebut dengan pesan moral.

Bahkan, begitu pentingnya pesan moral ini, harga suatu ibadah dalam perspektif Islam dinilai dari sejauh mana pesan moralnya bisa dijalankan oleh pemeluknya. Apabila suatu ibadah tidak bisa meningkatkan moral seseorang, maka ibadahnya dianggap tidak ada maknanya.

Oleh karena itu, ketika seseorang melakukan hal-hal yang terlarang secara fikih, tebusannya adalah menjalankan pesan moral itu sendiri. Misalnya, pada bulan puasa (Ramadhan), sepasang suami istri berhubungan intim pada siang hari, maka kifarat (dendanya) ialah memberi makan enam puluh orang miskin, karena salah satu pesan moral puasa ialah memperhatikan orang-orang yang lapar di sekitarnya.

Aspek kognitif peranan agama semacam ini juga bisa dijumpai dalam agama yang lain. Dalam Kristen, misalnya, narasi tentang Ayub dalam Bibel—atau Nabi Ayyub dalam Al-Quran—merupakan simbol persoalan kemanusiaan yang mengandung ajaran moral sangat dalam. Kesungguhan Ayub dalam menjalankan kewajiban sosial dan keagamaan memang tidak serta-merta menjadikannya bahagia, sebaliknya menyebabkan ia memperoleh cobaan penderitaan.

Namun, kesungguhan Ayub dalam menghayati niali-nilai sakral yang terdapat dalam perintah-perintah Tuhan tidak hanya menyebabkan dia bertahan atas penderitaan tersebut, tetapi juga membantunya menemukan makna dari seluruh pengalaman hidupnya. Oleh karena itu, ketika Ayub minta keterangan kepada Tuhan tentang apa yang terjadi, bukan keadaan dirinya yang diutamakan, melainkan justru nasib buruk yang menimpa seluruh umatnya yang dikedepankan (EK Nottingham, 1995: 108-109).

Pesan agama yang terpantul dari kisah tentang Ayub itu adalah bahwa ketidaksamaan nasib untung dan malang manusia tidak dapat dijelaskan begitu saja menurut ukuran baik buruk manusiawi, tetapi harus dilihat pula dari segi adanya penilaian-penilaian Tuhan di dalamnya. Di situlah terletak (salah satu) fungsi agama yang penting, yaitu ”memberikan makna moral dalam pengalaman-pengalaman kemanusiaan”.

Makna moral di sini paralel dengan apa yang dikatakan oleh Paul B Horton dan Chester L Hunt (1993: 304) bahwa semua agama besar menekankan kebajikan seperti kejujuran dan cinta sesama. Kebajikan seperti ini sangat penting bagi keteraturan perilaku masyarakat manusia, dan agama membantu manusia untuk memandang serius kebajikan seperti itu.

Apabila suatu masyarakat mampu memahami peranan agama secara tepat, maka agama akan hadir sebagaimana fungsinya (mendamaikan). Sebaliknya, jika mereka salah dalam melakukan interpretasi-interpretasi tersebut, agama bisa menjadi lahan subur bagi perkembangan konflik di tengah-tengah masyarakat.

Konflik atau intoleransi sosial yang diakibatkan oleh salah penafsiran terhadap ajaran agama itu sedikitnya ada dua bentuk. Pertama, konflik intern agama atau yang lazim disebut konflik antarmazhab. Konflik semacam ini biasanya bermuara dari perbedaan pemahaman terhadap ajaran agama di antara sesama pemeluk suatu agama.

Kedua, konflik antar-agama atau antarumat beragama. Konflik seperti ini skalanya bisa lebih luas dari yang pertama meski faktor-faktor lainnya pun memiliki peran yang tidak kecil. Misalnya, faktor ekonomi, politik, mekanisme dakwah, struktur sosial, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, dalam momentum Hari Raya Fitri dan Hari Suci Nyepi bagi kedua agama tersebut sangat tepat untuk dilakukan kerja sosial bersama, membangun komitmen bersama bagi terwujudnya kehidupan berbangsa dan bernegara secara adil dan demokratis, rukun dan damai, serta penuh keharmonisan dan kedamaian.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...