HomeOpiniIdul Fitri, Kohesi Sosial...

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang

Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026

Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali dalam keadaan bersih dari dosa, baik kepada Allah maupun sesama manusia. Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi momentum memperbaiki hubungan sosial.

Fitrah tidak hanya bersih dari dosa kepada Allah, tetapi juga dari dendam, sakit hati, dan permusuhan dengan sesama. Dengan saling memaafkan, umat Islam memperkuat tali silaturahmi, menghapus konflik, dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Hikmah memaafkan hati menjadi lebih tenang dan damai, hubungan keluarga, tetangga, dan masyarakat semakin harmonis, serta menghapus dendam dan kebencian yang bisa merusak persaudaraan.

Dalam Surat Al-A’raf Ayat 199, Allah berfirman: ”Jadilah pemaaf, perintahlah pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” Ayat ini menegaskan bahwa memaafkan adalah sikap kebesaran hati yang mampu meredam permusuhan dan memperkuat hubungan antarsesama. Demikian pula dalam Surat An-Nur Ayat 22, Allah memerintahkan agar orang-orang beriman memaafkan dan berlapang dada karena Allah pun Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Manfaat sosial dan psikologis

Memaafkan dapat meredam konflik, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kedamaian batin. Dalam artikelnya, ”Beyond Apologies: A Systematic Review of Forgiveness in Different Relationship Contexts”, Ahana Lahiri dan P Padmakumari (2025) menyebutkan bahwa pemaafan membantu mengurangi stres, menurunkan emosi negatif (seperti marah dan dendam), serta mendorong pertumbuhan pribadi. Memaafkan memperbaiki kualitas hubungan, mengurangi konflik, dan meningkatkan stabilitas relasi. Pemaafan berkontribusi pada harmoni sosial, memperkuat ikatan antaranggota, dan meningkatkan kesehatan mental kolektif. Pemaafan dipandang sebagai kekuatan yang menumbuhkan resiliensi, empati, dan kesejahteraan jangka panjang.

Baca juga: Refleksi Idul Fitri: Belajar Pemaafan dari Korban Terorisme

Demikian pula dalam artikel ”A Path to Better Mental Health Among Emerging Adults: Forgiveness as a Protective Factor”, M A Toussaint dan L Worthington Jr (2023) menyebutkan bahwa pemaafan berfungsi sebagai faktor protektif bagi kesehatan mental mahasiswa dan dewasa muda. Individu dengan tingkat pemaafan tinggi menunjukkan: harga diri lebih baik, harapan lebih tinggi. Depresi lebih rendah, kemampuan mengelola kemarahan lebih baik. Pemaafan bukan hanya proses interpersonal, melainkan juga strategi intrapersonal yang memperkuat resiliensi dan kesejahteraan emosional. Pemaafan memperkuat hubungan interpersonal dengan mengurangi konflik, meningkatkan kepercayaan, dan memperbaiki kualitas relasi. Pemaafan berkontribusi pada harmoni komunitas, memperkuat ikatan sosial, dan meningkatkan kesehatan mental kolektif.

Hubungan sosial dalam konteks kenegaraan

Negeri ini saat ini terutama dipengaruhi oleh polarisasi politik, dinamika politik identitas, serta ketegangan pascapemilu. Bisa jadi hubungan sosial politik saat ini lebih buruk dari ”kasus” Pemilu 1955 akibat politik aliran dan identitas sehingga memunculkan apa yang disebut Herbert Feith dan Samuel P Huntington sebagai bentuk political decay. Pembusukan politik saat ini makin dahsyat akibat pengaruh media sosial, yang bahkan dapat direkayasa oleh akal imitasi (AI).

Huntington (1965) dalam tulisannya tentang political development menekankan bahwa ketidakseimbangan antara perkembangan sosial-ekonomi (dan teknologi informasi) dan kelembagaan politik dapat menyebabkan political decay. Ketika institusi politik gagal beradaptasi dengan perubahan sosial, muncul ketidakstabilan, korupsi, dan lemahnya legitimasi pemerintah. Gagasan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam bukunya, Political Order in Changing Societies (1968). Setelah itu, konsep ini diperluas oleh ilmuwan lain seperti Francis Fukuyama dalam bukunya, Political Order and Political Decay (2014), yang mengaitkan fenomena ini dengan demokrasi modern.

Baca juga: Kembali ke Fitrah Perdamaian

Meskipun masyarakat Indonesia memiliki tradisi gotong royong dan solidaritas, perbedaan pilihan politik dan identitas sering kali melemahkan rasa kebersamaan. Kohesi sosial adalah tingkat keterhubungan, kepercayaan, dan solidaritas antaranggota masyarakat. Saat ini, kohesi sosial menghadapi tantangan besar karena polarisasi politik: perbedaan pilihan dalam pemilu sering memicu ketegangan dan konflik sosial.

Politik identitas umumnya menggunakan isu agama, etnis, atau ras yang dalam hubungan politik dapat memperkuat solidaritas kelompok tertentu, tetapi juga berpotensi memecah belah masyarakat. Ketidaksetaraan ekonomi dan sosial seperti adanya jurang antara kelompok kaya dan miskin memperlemah rasa kebersamaan. Media sosial yang canggih makin mempercepat penyebaran hoaks dan ujaran kebencian, yang memperburuk polarisasi.

Akibatnya, pemilu dan pilkada menjadi momen sensitif dalam memperuncing perbedaan pilihan politik dan sering menimbulkan ketegangan serta melemahkan kohesi sosial. Multikulturalisme Indonesia bisa menjadi kekuatan kohesi, tetapi juga rawan konflik bila tidak dikelola dengan baik. Tantangan utama polarisasi politik, masyarakat sering terbelah berdasarkan pilihan politik. Eksploitasi identitas oleh elite politik melalui media sosial dan para buzzer memperkuat loyalitas kelompok, tetapi melemahkan persatuan nasional.

Baca juga: Merayakan Syawal sebagai Bulan Perdamaian

Fakta ini diperberat oleh hadirnya ketidakadilan sosial-ekonomi sehingga dapat memperbesar rasa ketidakpuasan dan mengurangi solidaritas. Disinformasi di media sosial dapat mempercepat konflik dan memperlemah kepercayaan antarwarga. Dari titik ini diperlukan pendidikan multikultural dengan menanamkan nilai toleransi sejak dini, dialog lintas agama dan etnis, serta memperkuat rasa kebersamaan di tengah perbedaan.

Sebagaimana disinggung Huntington dan Fukuyama tersebut, diperlukan kebijakan inklusif dari pemerintah dengan memastikan distribusi kesejahteraan yang adil, penguatan ruang sosial tradisional seperti pasar, komunitas lokal, dan kegiatan budaya, agar bisa menjadi perekat sosial. Tidak kalah pentingnya etika bermedia sosial, dengan literasi digital untuk mengurangi hoaks dan ujaran kebencian. Di zaman Orba, pengendalian media massa sangat kuat, sebaliknya saat ini. Diperlukan kebijakan titik tengahnya.

Dari deretan persoalan tersebut, Idul Fitri diperintahkan sebagai momen saling memaafkan agar umat atau masyarakat benar-benar kembali suci, tidak hanya secara spiritual kepada Allah, tetapi juga secara sosial kepada sesama manusia.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...