Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan rohani dari Allah Swt, Tuhan semesta alam.
Selain melaksanakan ritual puasa dan salat tersebut, umat Islam juga bahu membahu membangun solidaritas dan kebersamaan. Sebagai misal, ada yang meningkatkan jumlah dan intensitas bersedekah, ada yang gotong royong membersihkan masjid, ada yang menfasilitasi dan menyumbang buka puasa untuk kaum duafa dan orang yang membutuhkan. Silaturahmi yang dikemas dalam kegiatan buka bersama juga ada di mana-mana. Ringkasnya, solidaritas dan kesalehan sosial juga terlihat nyata, tenang dan damai di bulan Ramadan. Puncaknya, mereka membayar zakat fitrah dan merayakan hari raya Idul Fitri (kembali ke fitrah).
Berbagai pengalaman di bulan Ramadan tersebut memberikan hikmah dan pembelajaran agar umat Islam lebih tangguh dalam memperjuangkan dan menjaga perdamaian.
Baca juga: Ramadan Bulan Kedamaian
Pertama, ketangguhan dalam beriman. Dalam Alquran, perintah puasa ditujukan kepada orang-orang beriman, sebagaimana perintah serupa pernah diberikan kepada umat sebelum datangnya Islam, agar menjadi orang yang bertakwa (Q.S. 2: 183). Pengalaman ruhani dan sosiologis puasa, sejatinya membuat umat Islam menjadi lebih sungguh-sungguh dan intim dalam melaksanakan perintah Allah Swt dan meninggalkan larangan-Nya.
Perintah dan larangan Allah Swt mempunyai maksud generik dan substansial dengan arti kata Islam yang secara etimologis berasal dari akar kata salima yang berarti selamat, sentosa, damai dan aman. Pada gilirannya, keislaman umat dan ketangguhan dalam beriman merupakan jalan menuju keselamatan dan perdamaian. Mukmin yang sungguh-sungguh memahami dan menghayati makna Islam dan menjalankan semua perintah Allah Swt adalah mukmin yang dalam kesehariannya senantiasa menebarkan perdamaian dan kasih sayang.
Kedua, ketangguhan dalam solidaritas. Pengalaman sosiologis dan kultural umat dalam bulan Ramadan juga telah menunjukkan tingginya jiwa korsa, kebersamaan dan solidaritas, tak terkecuali kebijakan THR (tunjangan hari raya) dari negara dan swasta. Orang berlomba-lomba bersedekah dan membantu sesama, minimal pada momen buka puasa. Hal ini menimbulkan efek berupa pergerakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif, seperti bisnis parsel menjelang hari raya idul fitri.
Baca juga: Fitrah dan Keberagamaan yang Berdampak
Semua itu merupakan hamparan kesalehan sosial yang terlaksana karena keyakinan kolektif bahwa mereka tidak sekedar membantu dan membahagiakan orang, melainkan juga akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Swt. Kesalehan sosial yang berdasar pada keyakinan kolektif tersebut meningkatkan solidaritas di kalangan umat dan bangsa.
Puncak dari kesalehan kolektif tersebut, umat berlomba-lomba menunaikan kewajiban prinsipalnya kepada Allah Swt, yakni zakat fitrah. Dengan menunaikan zakat fitrah, umat akan membersihkan jiwa dan harta mereka dari segala yang kotor dan menyempurnakan seluruh ibadah mereka di bulan Ramadan. Jiwa yang damai dan tenang, tentu akan membawa mereka ke jalan perdamaian.
Ketiga, ketangguhan menjaga perdamaian. Berbekal pada dua ketangguhan di atas, seyogyanya umat Islam dan bangsa Indonesia menjadi lebih tangguh dalam meningkatkan kohesi sosial dan perdamaian, khususnya di tengah situasi konflik global dan regional di kawasan Timur Tengah belakangan ini.
Baca juga: Kembali ke Fitrah Perdamaian
Umat harus sadar dan peduli untuk mencegah terjadinya kekerasan di dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja dan masyarakat sekitar. Aparat penegak hukum juga harus memberi contoh dalam menekuk segala yang mungkar nan jahat. Birokrasi dan tata kelola pemerintahan, seharusnya makin bersih dari segala bentuk praktik suap dan korupsi.
Semangat ketangguhan Ramadan tahun ini perlu dilaksanakan oleh semua komponen bangsa, baik sebagai individual umat maupun sebagai warga dan aparat negara. Secara individual, umat harus senantiasa berusaha menjalankan ketaaan pada Allah Swt; sebagai warga dan atau aparat negara, umat wajib untuk tunduk pada konstitusi dan Undang-undang (UU).
Dengan mengamalkan pembelajaran (ibroh) Ramadan tersebut, bangsa Indonesia akan semakin tangguh dalam menjaga perdamaian.
