HomeOpiniPendidikan untuk Merawat Hak...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026.

Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua, pendidikan seharusnya menjadi fondasi damai yang melindungi kehidupan, bukan ruang yang membiarkan kekerasan terus berulang. Pendidikan Papua dapat dianalogikan seperti pohon di tengah badai yang rapuh tetapi tetap bertahan. Akar pendidikan seharusnya menahan runtuhnya nilai kemanusiaan di tengah situasi konflik yang berkepanjangan.

Seperti akar yang menjaga pohon tetap berdiri di tengah badai, pendidikan menjadi penopang nilai kemanusiaan di tengah situasi yang rapuh. Ia menumbuhkan kesadaran kolektif untuk mencegah kekerasan yang terus terjadi dalam relasi negara dan warga sipil. Ia membentuk suara hati sebelum tindakan kekerasan mengambil alih kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa pendekatan keamanan tidak boleh menghapus nilai hidup manusia. Ia menjaga agar kehidupan tidak kehilangan makna dalam sejarah panjang konflik di Papua.

Sejumlah peristiwa kekerasan di Papua kembali dilaporkan menimpa anak-anak sekolah pada berbagai waktu berbeda. Pada 9 Desember 2014 di Paniai, dilaporkan meninggal dunia para pelajar, Alpius Youw (17), Yulian Yeimo (17), Simon Degei (18), dan Alpius Gobai (17), dalam insiden yang juga menewaskan warga sipil lainnya. Pada tahun 2026 di Dogiyai, seorang pelajar sekolah dasar bernama Martinus Yobee (±11-12 tahun) juga dilaporkan menjadi korban dalam operasi keamanan di wilayah tersebut. Sementara itu, pada 13–15 April 2026 di Distrik Kembru, Puncak Jaya, dilaporkan korban jiwa termasuk Para Walia (5 tahun) serta satu janin dalam kandungan akibat rangkaian operasi di wilayah sipil. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa warga sipil, termasuk anak-anak, berada dalam situasi sangat rentan di tengah operasi bersenjata yang terjadi di beberapa daerah. Secara keseluruhan, operasi di Dogiyai dan Puncak Jaya dilaporkan menimbulkan sedikitnya 30 korban jiwa dari kalangan sipil.

Kondisi kekerasan tersebut menunjukkan bahwa luka kemanusiaan telah merusak makna hidup yang seharusnya dilindungi oleh negara. Data korban sipil memperlihatkan bahwa kehidupan tidak lagi diperlakukan sebagai nilai utama dalam pendekatan keamanan. Negara yang seharusnya melindungi justru hadir dalam bentuk kekuatan bersenjata yang menimbulkan ketakutan. Situasi ini memperdalam krisis kepercayaan dan memperlebar jurang kemanusiaan di Papua. Pada titik ini, pendidikan damai kepada berbagai institusi negara di Indonesia menjadi kebutuhan mendesak untuk memulihkan makna hidup yang telah terluka.

Kekerasan struktural

Kekerasan struktural dalam konteks Papua menggambarkan relasi yang tidak setara antara negara dan warga sipil dalam praktik kekuasaan yang berlangsung lama. Dalam berbagai catatan dan laporan internasional, termasuk diskursus Perserikatan Bangsa-Bangsa, konflik Papua kerap dipahami sebagai konflik antara rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia dengan sorotan pada isu perlindungan hak asasi manusia. Dalam banyak peristiwa yang tercatat, warga sipil menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak kekerasan sehingga persoalan ini menunjukkan adanya pola relasi kekuasaan yang tidak seimbang dan terus berlangsung. Situasi ini memperlihatkan bahwa adanya berbagai konflik Papua lebih merujuk pada dimensi kekerasan struktural.

Pendekatan keamanan di Papua sering ditandai oleh dominasi aparat bersenjata dalam ruang-ruang sosial masyarakat. Kehadiran aparat dalam konteks sipil kerap menimbulkan ketegangan, rasa takut, serta meningkatkan risiko terjadinya kekerasan di lapangan. Dalam pengalaman masyarakat di berbagai wilayah, kondisi ini tidak jarang memperburuk situasi yang sudah rapuh dan memperkuat ingatan kolektif terhadap berbagai peristiwa kekerasan sebelumnya. Akibatnya, pendekatan bersenjata dipersepsikan memiliki dampak sosial yang signifikan bagi anak-anak dan warga sipil tidak bersalah. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan tidak dapat dipisahkan dari dimensi kemanusiaan yang menyertainya.

Secara keseluruhan, situasi yang berlangsung menunjukkan kebutuhan mendesak akan perubahan pendekatan yang lebih berorientasi pada perlindungan manusia. Banyak pihak menilai bahwa penyelesaian konflik tidak dapat bertumpu pada kekuatan bersenjata, melainkan harus mengedepankan dialog yang lebih terbuka, serius, dan berkelanjutan. Dalam kerangka ini, keselamatan warga sipil menjadi prinsip utama yang perlu ditempatkan di atas seluruh pendekatan kebijakan negara agar siklus kekerasan dan luka kemanusiaan tidak terus berulang.

Akar konflik

Akar persoalan dalam konflik Papua berpusat pada ketidakadilan struktural yang berlangsung lama. Ketimpangan relasi antara negara dan masyarakat Papua melahirkan situasi yang kompleks dan penuh ketegangan sosial. Dalam praktiknya, pendekatan keamanan yang melibatkan aparat bersenjata menjadi cara dominan dalam penanganan konflik. Hal ini memperkuat pola kekerasan yang berulang dari waktu ke waktu di berbagai wilayah.

Dalam sejumlah peristiwa, pendekatan militer dilaporkan berujung pada jatuhnya korban dari kalangan sipil. Operasi keamanan yang berlangsung di wilayah permukiman warga sering menimbulkan dampak langsung terhadap masyarakat tidak bersenjata. Kondisi ini melahirkan trauma kolektif yang mendalam dan berkepanjangan di tengah masyarakat. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa warga sipil berada dalam posisi paling rentan dalam dinamika konflik yang terjadi.

Penggunaan kekuatan bersenjata dalam penyelesaian konflik juga berdampak pada ketidakstabilan sosial. Meskipun negara menyatakan bahwa kehadiran aparat bertujuan menciptakan keamanan, dalam praktiknya hal tersebut sering dipersepsikan berbeda oleh masyarakat di lapangan. Warga sipil hidup dalam situasi tidak pasti dan rentan terhadap ketakutan yang berkelanjutan. Anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak secara psikologis maupun sosial, yang menunjukkan bahwa pendekatan keamanan belum menghasilkan stabilitas yang diharapkan.

Dalam konteks ini, akar masalah tidak dapat dipisahkan dari struktur kebijakan yang berjalan selama ini. Ketimpangan dalam perlindungan hukum memperlemah posisi warga sipil di hadapan negara. Kekerasan yang berulang di berbagai wilayah menunjukkan bahwa persoalan ini bersifat sistemik dan struktural. Karena itu, penyelesaian konflik membutuhkan perubahan mendasar dalam pendekatan negara terhadap Papua dengan menempatkan perlindungan kehidupan manusia sebagai prioritas utama.

Jalan damai

Penyelesaian konflik Papua menuntut perubahan pendekatan secara mendasar. Pendekatan militer tidak lagi relevan dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Kekerasan hanya melahirkan korban baru dan memperpanjang penderitaan. Jalan damai menjadi satu-satunya opsi yang rasional dan manusiawi. Dialog menjadi instrumen utama dalam membangun solusi berkelanjutan.

Selama ini, berbagai pihak telah mendorong dialog sebagai jalan penyelesaian. Namun, ruang dialog belum sepenuhnya terbuka secara serius dan konsisten. Ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang berkonflik masih sangat tinggi. Hal ini menghambat proses rekonsiliasi yang seharusnya dilakukan. Dibutuhkan keberanian moral dari negara RI untuk membuka ruang dialog setara dengan rakyat Papua.

Pengurangan pendekatan militer menjadi syarat penting dalam membangun perdamaian. Kehadiran aparat bersenjata yang berlebihan hanya memperburuk situasi sosial. Penarikan bertahap kekuatan militer dari wilayah sipil menjadi langkah yang mendesak. Keamanan sipil harus dikembalikan kepada prinsip perlindungan. Ini menjadi dasar penting dalam membangun kepercayaan baru.

Dalam konteks global, keterlibatan komunitas internasional dapat memperkuat proses perdamaian. Penguatan standar hak asasi manusia menjadi bagian penting dari solusi. Pendidikan HAM bagi aparat negara menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Pendampingan internasional dapat membantu menciptakan ruang dialog yang lebih netral. Semua ini bertujuan untuk menghentikan siklus kekerasan yang telah berlangsung lama.

Pada akhirnya, tidak ada pembenaran atas hilangnya nyawa manusia di tanahnya sendiri. Kehidupan harus ditempatkan sebagai nilai tertinggi dalam setiap kebijakan negara. Kekerasan tidak boleh lagi dipertahankan selamanya menjadi kata kunci perdamaian dalam penyelesaian konflik. Papua hanya membutuhkan ruang hidup yang damai, berperadaban dan bermartabat. Jalan damai adalah satu-satunya masa depan yang layak diperjuangkan bersama.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini,...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016,...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...

Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Berdamai dengan diri sendiri merupakan hal yang sangat penting karena apabila tidak bisa berdamai dengan diri sendiri maka tidak akan bisa berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama...

Substansiasi Hijrah

Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute Artikel ini berasal dari mediaindonesia.com yang terbit pada 19 Juni 2026 MUHARAM kembali hadir. Seperti biasa, media sosial pun dipenuhi narasi tentang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Komunitas-komunitas keagamaan mengajak masyarakat memperbarui komitmen spiritual mereka. Fenomena itu tentu menggembirakan. Itu...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...