Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam.
“Pelajar yang terpapar ideologi ekstrem faktanya memang ada, bukan hanya mahasiswa yang terpapar ekstremisme. Kasusnya seperti yang di Medan itu. Dia bahkan menjadi admin channel telegram ISIS yang sering share konten padahal masih bocil tapi seolah-olah seperti ustaz besar,” tutur Kurnia dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Samarinda, Kalimantan Timur yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Mei 2024 silam.
Kurnia mengatakan jika menemukan pelajar yang terpapar ekstremisme ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan. Pertama, jika kita merasa mampu maka bisa diingatkan dan menggunakan narasi atau kisah korban terorisme dan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat. Kedua, jika kita merasa tak mampu maka lebih baik menjauhinya.
Baca juga: Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme
“Jika dia sudah berbahaya maka bisa lapor ke guru. Namun jika sudah mengarah ke aksi kekerasan maka bisa lapor ke pihak berwajib,” jelas Kurnia.
Kurnia mengajak pelajar untuk mengenali ciri-ciri ekstremisme sehingga ke depan bisa membentengi diri dan mewaspadainya. Menurut dia, di antara cirinya yaitu sangat mudah mengkafirkan orang lain, menganggap negeri ini kafir atau thaghut, dan menganggap aparat sebagai anshor thaghut.
“Mereka juga bersikap intoleran terhadap sesama. Isu yang sering mereka sampaikan soal khilafah, Daulah Islam, dan bid’ah dhalalah,” ujarnya.
Kurnia menegaskan identifikasi seseorang terpapar ekstremisme tidak bisa dilihat melalui pakaian, berjenggot atau bercadar tetapi melalui pendapat dan prilakunya. [AS]
