Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula.
Pada 14 Januari 2016, Agus tengah menyeberang dari mal Sarinah menuju ke arah Gedung Bawaslu untuk pulang ke kosannya. Saat melintas di dekat pos polisi di kawasan Jalan Thamrin, bom bunuh diri meledak dan Agus terkena dampak ledakan tersebut.
“Apa yang sudah terjadi tak bisa kembali. Tinggal ke depan kita harus bagaimana. Saya bersama teman-teman korban seperjuangan berusaha untuk bangkit dan survive,” tutur Agus dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di MAN Balikpapan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Februari 2023 silam.
Baca juga: Membahagiakan Saudara yang Berujung Malapetaka
Agus menegaskan sakit dan derita yang dialaminya tak perlu diratapi terus menerus. Justru Agus berusaha untuk bangkit dari keterpurukan dan melawan trauma yang dirasakannya. Sebab ia tak ingin menjadi korban untuk kedua kalinya ketika ia tak mampu bangkit dari keterpurukan.
“Dalam kesakitan saya terus memutar otak gimana caranya saya bangkit dan melawan trauma. Kita pun sesama korban saling menguatkan untuk bisa bangkit. Yang lalu biarlah berlalu, ke depan kita harus lebih baik,” ujar Agus.
Ia pun mengajak para pelajar untuk tidak terus meratapi kesedihan dan keterpurukan karena tidak ada gunanya. “Mungkin ini sudah takdir saya,” cetusnya. [AS]
