HomeBerita“Umat Perlu Belajar dari...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai– Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren, majelis taklim, badan kemakmuran masjid dan pengurus ormas Islam mengikuti kegiatan dengan antusias.

Pengasuh El Sharea Management yang juga alumnus Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama, Hj. Enok Muthia, Lc., menekankan kepada para hadirin agar menginternalisasikan ajaran luhur Islam dalam kehidupan secara kaffah. Kata ‘Islam’ yang bermakna penyerahan diri kepada Allah yang Esa dan kata ‘salām’ yang artinya perdamaian atau keselamatan, kata dia, dalam ilmu Bahasa Arab berasal dari satu akar kata yang sama. Dari itu hendaknya setiap Muslim di mana pun berada menjadi sumber kemanfaatan, bukan sebaliknya.

Terkhusus mengenai kisah korban terorisme dan mantan anggota kelompok teroris yang telah bertobat yang disajikan dalam kegiatan, Enok menilai banyak ‘ibroh yang wajib dijadikan inspirasi oleh umat dalam menjalani hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Baca juga: Muslim Diajak Amalkan Islam Wasathiyah

“Sikap maaf-memaafkan harus ada di diri seorang Muslim. Umat perlu belajar dari kisah hidup korban, yang meskipun sudah menderita karena aksi terorisme, namun mereka tetap mau memaafkan,” ujarnya dalam kegiatan yang dihelat di aula Masjid Agung Lombok Tengah itu.

Enok menyadari bahwa masyarakat masih cenderung bertindak tidak sabar dalam menghadapi masalah, sehingga mudah sekali terdorong melakukan kekerasan. Di era serba digital ini, katanya, bahaya misinformasi begitu mengkhawatirkan. Setiap orang bisa mengakses informasi dari ujung jari masing-masing. Jangankan yang berbeda keyakinan, sesama umat Islam pun, katanya, acap terpecah gara-gara perdebatan di media sosial.

“Saya ingatkan jamaah agar terus bertabayun dan jangan merasa kelompok lain buruk sehingga harus disakiti. Setiap Muslim kedudukannya sama dan seharusnya memiliki tujuan yang sama untuk menyebarkan perdamaian.” Demikian Enok Muthia berpesan.

Baca juga: Peran Perdamaian Tokoh Agama Lombok

Pada sesi tanya jawab, sejumlah peserta kegiatan mengutarakan gagasan. Seorang peserta menanyakan bagaimana kiat mencegah ekstremisme di kalangan anak.

Menjawab hal itu, Ustazah Enok menekankan pentingnya keteladanan orang tua, khususnya ibu sebagai madrasah pertama bagi anak, serta pengawasan terhadap pengaruh kekerasan dari luar rumah, termasuk permainan di gawai atau game.

Seorang peserta lain mengapresiasi inisiatif AIDA menggelar kampanye perdamaian dengan menggandeng El Sharea Management di pusat kota Lombok Tengah. Ia menyarankan agar kegiatan serupa diperluas hingga menjangkau masyarakat di pelosok. Generasi muda di pedalaman Lombok, kata dia, sangat membutuhkan penyuluhan perdamaian guna membendung gelombang pengaruh negatif seperti narkoba dan budaya kekerasan.

Perwakilan AIDA, Muhammad L. Maghfurrodhi, mengajak seluruh peserta menjadi duta damai di komunitas masing-masing. “Dari korban dan mantan pelaku terorisme kita mestinya menyadari betapa kehidupan kita ini harus damai. Kami mohon dibantu agar Bapak-Ibu sekalian menjadi duta damai,” ujarnya. [MLM]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...