Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu.
Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu.
“Indonesia sebelum ada Islam sudah ada kerajaan Majapahit, Sriwijaya, kerajaan Hindu, Buddha yang sangat besar sekali kekuasaannya. Para ulama tempo dulu mengambil jalan tengah di dalam menyebarkan ajaran Islam. Bagi yang mengerti fikih dakwah akan cukup tahu bagaimana mengarifi keadaan ini,” tutur dia.
Baca juga: Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah
Kiyai Moqsith mengatakan para ulama dahulu sudah mencoba ingin mendirikan negara Islam di Indonesia tapi mereka sudah sangat bijak terhadap kondisi bangsa Indonesia yang beragam. Ada Hindu, Buddha, Katolik, Kristen, Konghucu dan agama-agama lokal maka pilihan negara kesatuan dianggap ideal.
“Maka terjadilah penghapusan tujuh kata di dalam Piagam Jakarta, lalu terjadilah persatuan seluruh warga bangsa,” tegasnya. [AS]
