Aliansi Indonesia Damai- Dahulu kala ketika ada aksi pengeboman (amaliyat) kami langsung meneriakan takbir Allahu Akbar dengan lantang berulang-ulang. Sama sekali tidak kepikiran bagaimana para korban dari aksi pengeboman tersebut.
Demikian dinyatakan mantan anggota jaringan kelompok ekstrem, Kurnia Widodo dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara, pertengahan September lalu.
“Namun setelah saya bebas dari penjara dan bertemu dengan salah seorang korban bom Hotel JW Marriott Jakarta tahun 2003, saya melihat langsung korbannya catat permananen, sebagian tubuhnya terbakar dan kulitnya rusak,” tutur Kurnia Widodo.
Baca juga: Tantangan Kembali ke Jalan Perdamaian
Ia mengungkapkan saat bertemu korban dirinya langsung menyampaikan permohonan maaf kepada korban meski ia tidak pernah terlibat dalam aksi pengeboman. Menurut dia, pertemuan dengan korban dan mendengarkan kisahnya semakin memperkuat tekadnya untuk meninggalkan jalan kekerasan.
“Apalagi ketika saya bertemu AIDA semakin banyak lagi berjumpa dengan korban-korban. Dari situ saya semakin bertambah jauh dan yakin untuk meninggalkan ekstremisme,” tegas Kurnia.
Banyak kesedihan dan derita yang dialami oleh para korban, lanjut dia, ada yang terluka hingga sekarang masih harus melakukan perawatan medis, kehilangan bola mata/penglihatan, kehilangan kaki, luka bakar, kehilangan pendengaran, dan rahangnya hancur. [AS]
