HomeBeritaMenjaga Kedamaian Kampus Lewat...

Menjaga Kedamaian Kampus Lewat Film ‘Tangguh’

ALIANSI INDONESIA DAMAI – “Ketika kita meminta maaf, maka kita sudah melakukan langkah untuk perdamaian,” ucap salah seorang peserta dalam Diskusi dan Bedah Film ‘Tangguh’ di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rabu (19/12/18) lalu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial UNJ dan Mahasiswa Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN), didukung oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Acara ini bertujuan untuk mendorong mahasiswa agar semakin bersemangat mengampanyekan perdamaian di lingkungan kampus.

Secara keseluruhan 67 mahasiswa mengikuti Diskusi dan Bedah Film ‘Tangguh’ di Kampus UNJ.  Mereka tampak khidmat menyaksikan kisah korban dan mantan pelaku terorisme yang diangkat ke dalam karya dokumenter ini. Tiga mantan pelaku terorisme yang menjadi pemeran dalam film telah menyadari kekeliruan masa lalunya serta meminta maaf kepada para korban. Kini ketiganya telah meninggalkan dunia kekerasan terorisme dan berbalik menyuarakan pentingnya perdamaian di Indonesia. Para korban pun berbesar hati memaafkan kesalahan mantan pelaku.

Rekonsiliasi yang terjalin di antara korban dan mantan pelaku menjadi ruh dari film ‘Tangguh’ yang diproduksi AIDA pada 2018.

“Saya agak penasaran dengan alurnya. Dalam film mereka langsung bertemu dan berdamai, apa tidak ada konflik antara pelaku dan korban?” Seorang mahasiswa mengungkapkan keingintahuannya usai menonton ‘Tangguh’.

Seorang mahasiswi UNJ yang menjadi fasilitator kegiatan menanggapi pertanyaan tersebut. Dia menjelaskan bahwa langkah AIDA dalam mempertemukan antara korban dan mantan pelaku terorisme merupakan tahapan yang cukup lama, tidak instan.

“Ketika mediasi bukan hal mudah. Dari korban pasti ada perasaan yang tidak enak terhadap mantan pelaku. Mantan pelaku pun tidak punya dalil pembelaan diri karena melihat korban terluka fisik dan psikis. Namun, dari AIDA saya mengamati, ketika maaf terucap, hati menjadi luluh,” kata mahasiswi berkerudung itu. Dia pernah mengikuti Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang diselenggarakan AIDA di Bogor awal Desember 2018.

Foto Bersama Bedah Film Tangguh - Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
Foto Bersama Bedah Film Tangguh – Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

Mahasiswa lainnya mengaku berutung dapat berkesempatan mengikuti Diskusi dan bedah Film ‘Tangguh’. Dia memahami bahwa generasi muda penting untuk menjaga lingkungannya terbebas dari pemahaman keagamaan yang menyimpang.  “Film ini bagus sekali, membuka pikiran. Bahwa pelaku itu sendiri mengapa dia berperilaku seperti itu karena lingkungan, bisa sahabat atau teman,” kata dia.

Muhammad Syafiq selaku Program Manager AIDA dalam sambutanya menyebutkan bahwa dari film ‘Tangguh’ para mahasiswa diharapkan memahami bahwa pihak-pihak yang sangat berseberangan sekali pun dapat berdamai.

“Pesan utamanya adalah rekonsiliasi. Ini ada dalam Alquran dalam Surat Al-Hujurat ayat sembilan, apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya,” ujarnya. [MSH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...