HomeOpiniPesan Damai Puasa

Pesan Damai Puasa

Beberapa hari menjelang Ramadhan, 22 Mei, bom bunuh diri meledak di Manchester Arena, Inggris. Salman Abedi (22), si pelaku, terbukti terkait dengan NIIS.

Tiga hari kemudian, Kamis (25/5), bom bunuh diri meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Lima orang tewas: dua pelaku bom bunuh diri dan tiga aparat polisi. Beberapa warga sipil terluka. Dua bom bunuh diri itu adalah sebentuk teror dari para ekstremis radikal yang mengatasnamakan agama dalam aksinya. Miris sekaligus ironis, tibanya Ramadhan disambut dengan aksi yang kontra dengan pesan dan nilai-nilai religius Ramadan.
Ramadhan membawa pesan damai dan kebaikan, bukan kekerasan dan keburukan. Muslim pada bulan itu diwajibkan berpuasa, menahan diri. Maksudnya, menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Juga menahan segala anggota tubuh, seperti indera, dari melakukan hal-hal buruk atau jahat. Juga menahan hawa nafsu atau hasrat destruktif yang selalu mendorong pada hal-hal, keinginan-keinginan, niat-niat, dan rencana-rencana buruk atau jahat terhadap orang lain.
Puasa bertujuan menahan seseorang dari perilaku buruk, termasuk tindakan kekerasan, intimidasi, dan teror terhadap orang lain dengan alasan apa pun. Sebaliknya, puasa mendorong seseorang untuk meningkatkan kebaikan atau amal saleh serta berupaya membentuk diri sebagai pribadi berkualitas, yang punya rasa kasih sayang terhadap sesama, toleran, cinta damai, anti-kekerasan, dan seterusnya. Apa yang dilakukan para teroris dengan melakukan pengeboman dan membunuh manusia jelas berlawanan dengan tujuan puasa yang mulia.
Kekerasan, terorisme, atau tindakan-tindakan sejenis antara lain lahir dari sikap intoleran, tidak menghargai dan menghormati perbedaan. Para pelaku menyebut tindakan mereka dimotivasi oleh ajaran agama, padahal tidak. Fenomena terorisme yang terjadi di banyak negara di dunia, kata Murad W Hofmann dalam Islam the Alternative (1999), sama sekali tak ada hubungannya dengan Islam atau agama lain mana pun. Setidaknya, ada pula kekerasan yang dilakukan orang-orang non-Muslim, yaitu orang-orang yang terkait dengan agama Kristen, yang juga telah mencapai titik keputusasaan: para pendukung “teologi pembebasan” di Amerika Selatan, gerilya kota Irlandia Utara, para anggota Red Army Faction di Jerman, Action Directe di Perancis, dan Brigate Rosse di Italia.
Ajaran agama sesungguhnya mendorong pada sikap toleran. Dalam Islam, misalnya, Al Quran berulang-ulang menyatakan, perbedaan di antara umat manusia-baik warna kulit, kekayaan, ras, maupun bahasa-adalah wajar. Allah bahkan melukiskan pluralisme ideologi sebagai rahmat.
Ini bisa disimak dalam ayat: “Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan” (Al-Maidah: 48). Ayat lainnya: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (Yunus: 99).
Kegagalan ideologi sekuler
Para teroris, juga para pelaku kekerasan atas nama agama, ingin memaksakan kehendak dan keyakinannya atas orang lain. Ini jelas tindakan yang kontra dengan pesan Al Quran tadi.
Agama, sepanjang sejarahnya selama ribuan tahun, seperti disebutkan Karen Armstrong dalam bukunya, Fields of Blood: Religions and the History of Violence (2014), memang erat hubungannya dengan kekerasan dan perang. Namun, hubungan itu sesungguhnya lebih banyak bukan dimotivasi oleh ajaran agama, melainkan oleh motif politik dan ekonomi. Para nabi dan rasul pendakwah agama, atau para pemimpin yang dianggap menjadi pencetus suatu agama, selalu membawa pesan damai dan anti-kekerasan, bahkan sangat mengecam kekerasan dan perang yang sangat menghancurkan dan merusak.
John L Esposito dalam The Future of Islam (2010) menyebut bahwa penyebab utama terorisme global adalah kekecewaan politik dan ekonomi, tetapi sering disamarkan oleh bahasa dan simbolisme keagamaan. Agama menjadi cara efektif untuk melegitimasi dan memobilisasi dukungan. Sebagaimana terlihat di Irlandia Utara, Sri Lanka, India, Israel, Palestina, Irak pasca-Saddam, Kashmir, Chechnya, atau dalam strategi global Osama bin Laden dan Al Qaeda, kekecewaan dan tujuan utamanya sering bersifat nasionalis: untuk mengakhiri pendudukan wilayah atau untuk memaksa kekuatan militer “asing” keluar dari tempat yang oleh gerakan ini dianggap tanah mereka.
Maraknya gerakan terorisme, menurut Juergensmeyer (1993), berakar pada ketidakpercayaan terhadap ideologi nasionalis sekuler karena kegagalan ideologi sekuler dan pengaruh globalisasi. Dalam lingkungan seperti itu, agama dapat menjadi alternatif bagi munculnya ideologi tentang keteraturan (ideology of order). Selain itu, agama juga memiliki citra pertempuran kosmik (cosmic war) yang merupakan salah satu cara dalam melihat krisis-krisis sosial. Keppel (2006) menyebut munculnya kelompok jihadis disebabkan kekecewaan terhadap Barat. Kelompok ini menganggap bahwa sekularisme dan modernisme Barat telah menghancurkan nilai-nilai dan masyarakat Islam, dan karena itu harus diperangi, termasuk dengan kekerasan.
Tidak ada motif yang murni agama di situ karena agama jelas tidak menginginkan segala bentuk tindak kekerasan dan terorisme. Agama hanya ditarik-tarik untuk dijadikan sebagai pembungkus untuk menutupi motif sesungguhnya. Atau dijadikan sebagai stempel untuk mengecap suatu tindakan biadab (membunuh banyak orang) sebagai aksi religius yang kelak akan dibalas surga di akhirat.
Apa yang terjadi di Manchester, juga di Kampung Melayu, serta di tempat-tempat lain di berbagai belahan dunia dengan peristiwa sejenis, seperti di Timur Tengah yang hingga kini terus bergolak, merupakan bentuk pelecehan dan penodaan paling terang benderang terhadap nilai-nilai luhur agama yang seharusnya dijunjung tinggi. Adalah tugas utama semua orang beragama untuk menebarkan pesan damai, toleransi, dan sikap welas asih di mana pun berada.
*Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 19 Juni 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...