HomeBeritaIkhtiar Tokoh Agama Wujudkan...

Ikhtiar Tokoh Agama Wujudkan Perdamaian Indonesia

Aliansi Indonesia Damai- Tiga puluh perwakilan tokoh agama dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) se-kota Solo Raya mengikuti Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Surakarta, 30-31 Oktober 2019. Kegiatan yang digelar AIDA ini untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga nilai-nilai perdamaian di tengah-tengah masyarakat. Di samping itu, kegiatan juga bertujuan untuk  mengedepankan dialog dan mengambil pembelajaran (ibroh) dari kisah orang-orang yang pernah terlibat dalam dunia kekerasan dan korbannya.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi mengatakan pelatihan ini mengembangkan satu perspektif tentang kesadaran dialogis melalui pendekatan kisah sebagai panduan utama. Menurutnya, pendekatan kisah adalah spirit ajaran Alquran. “Di dalam Alquran, aspek halal-haram hanya sekitar lima persen, selebihnya merupakan kisah-kisah orang terdahulu. Dari sinilah kisah di dalam Alquran merupakan poin penting. Karena kita bisa belajar untuk mengambil ibroh (pembelajaran). Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, bantulah saudaramu yang melakukan kezaliman dan yang dizalimi,” katanya. 

Baca juga Ibroh dari Kisah Penyintas dalam Halaqah Alim Ulama

Hadir selaku narasumber, Choirul Ikhwan, salah seorang mantan pelaku yang pernah terlibat di dunia ekstrem. Choirul mengisahkan, dunia kekerasan yang pernah ia lakukan sesungguhnya tidak sesuai dengan hati nuraninya.  Ia tidak pernah berpikir tindakan kekerasan akan melahirkan banyak korban tak bersalah serta tak tahu apa-apa. Namun demikian, pertemuan dengan sejumlah korban terorisme dan mendengar kisah-kisah kepiluan hidup korban menyadarkannya bahwa apa yang dahulu pernah diperjuangkan merupakan jalan yang salah.

“Setelah saya bertemu dengan korban terorisme, saya merasakan empati. Hal itu (korban-korban) tidak pernah kami pikirkan sebelumnya. Oleh karenanya, saya meminta maaf atas perilaku ikhwan-ikhwan (saudara-saudara),” ujar Choirul. 

Menerima Keadaan

Dalam kegiatan itu, AIDA juga menghadirkan Hayati Eka Laksmi, salah seorang korban Bom Bali 2002. Meskipun peristiwa itu terjadi 17 tahun lalu, Eka merasakan betul beratnya kehilangan seorang suami. Apalagi saat itu ia tidak bekerja, dan lebih memilih fokus mengasuh anak. 

Choirul Ikhwan dan Hayati Eka Laksmi dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Surakarta.

Meskipun mendapatkan cobaan yang begitu berat, Eka menyadari bahwa kehilangan itu tak boleh membuatnya lemah. Ia harus bangkit dari keterpurukan. “Saya harus siap menerima keadaan ini. Saya harus berdiri tegak dan bisa menyelamatkan keluarga”, tuturnya di hadapan para pemuka agama.

Baca juga Kunci Perdamaian Adalah Persaudaraan

Eka juga tidak ingin anak-anaknya menyimpan dendam kepada pelaku. “Saya katakan, untuk apa membalas dendam dan membalas kekerasan dengan kekerasan? Saya ajarkan itu kepada anak-anak saya selama 17 tahun. Sedikit demi sedikit saya mengajarkan itu. Akhirnya anak saya ikut memaafkan, bahkan bertemu anak Ali Fauzi (mantan pelaku dan saudara pelaku Bom Bali),” ungkapnya.  

Setelah mendengar kisah Choirul dan Eka, seorang peserta mengatakan, ia merasakan empati dan pembelajaran penting. “Dari kisah mantan dan korban terorisme, kita memahami bahwa kita harus saling menguatkan peran keluarga dan masyarakat untuk mencegah terjadinya kekerasan terorisme dan jangan membalas kekerasan dengan kekerasan, ” kata peserta dari Sukoharjo tersebut. [FS]

Baca juga Meneladani Akhlak Nabi dalam Kisah Penyintas

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....