HomeBeritaMeneladani Akhlak Nabi dalam...

Meneladani Akhlak Nabi dalam Kisah Penyintas

“Ketika mas Jojo (Joshua Ramos) menyampaikan testimoni dan kisahnya, memaafkan semua sakit hatinya, dan tegar melalui musibah itu, saya meneteskan air mata, karena teladan mas Jojo adalah Rasulullah Saw“

Aliansi Indonesia Damai- Kesan itulah yang disampaikan Shihhah wal ‘Afiyah, Wakil Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Surakarta dalam acara “Halaqah Alim Ulama; Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Muayyad, Windan, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (31/8/2019). Menurutnya, Kisah Joshua Ramos (penyintas bom Kuningan 2004) telah menginspirasi dirinya karena Joshua mau memaafkan pelaku dengan meneladani sikap luhur Nabi Muhammad Saw.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Putri Surakarta itu mengaku takjub dengan kisah Joshua. Sebab, titik balik permaafan Joshua kepada pelaku berawal dari kisah-kisah akhlak luhur Nabi. Hal itu menurutnya juga pernah dialami oleh seorang jenderal besar dalam Islam, Shalahuddin Al-Ayyubi saat menghadapi masyarakat Muslim yang pesimis. “Kisah mas Joshua pernah dialami oleh Shalahuddin al-Ayyubi, ketika menemukan masyarakat Muslim ketika itu malas untuk berjuang, malas beribadah, maka resep obatnya adalah membaca shalawat dan meneladani Nabi Muhammad Saw,” katanya.

Ia mengatakan, shalawat begitu ampuh mengobati setiap persoalan-persoalan yang ada. Sebagaimana permasalahan besar yang dihadapi Joshua, perlahan-lahan mampu dilalui berkat keteladanan Nabi. “Kalau kita bershalawat, Rasulullah selalu di dekat kita, melihat kita, membantu kita, pasti beliau akan hadir. Sebagaimana mas Jojo alami, ketika di dalam hati semula tidak akan memaafkan para teroris itu yang telah memporak-porandakan dirinya, keluarganya, bahkan pekerjaannya, maka atas dasar kisah-kisah yang ia temukan dalam akhlak Nabi Muhammad Saw, hatinya menjadi damai, menjadi lunak, menjadi lembut seperti itu,” ucapnya sembari bershalawat kepada Nabi.

Baca juga Alim Ulama Harapan Perdamaian Bangsa

Tak hanya itu, pimpinan Majelis Shalawat Jamhuri, Surakarta tersebut juga mengaku kagum kepada Kurnia Widodo, salah seorang mantan pelaku ektremisme yang telah bertaubat. Kisah pertaubatan Kurnia menurutnya tak lepas dari hidayah Allah Swt. Ia berharap Kurnia bisa memengaruhi teman-temannya di kalangan kelompok ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian dan mengampanyekan pentingnya perdamaian bagi kalangan masyarakat umum. 

“Pak Kurnia juga luar biasa, itu adalah hidayah yang ia temukan, setelah sebelumnya ia mendapatkan dakwah yang salah yang merugikan orang banyak. Setelah ia menemukan bahwa Islam itu rahmatan lil’alamin dan ajaran Rasulullah tidak pernah menyampaikan kekerasan, saya sangat apresiasi dan semoga banyak orang (teroris) yang menyusul pak Kurnia dan membawa teman-temannya ke jalan perdamaian,” tuturnya.

Ia berpesan kepada masyarakat agar berhati-hati memilih guru agama dan kelompok kajian di luar mainstream. Sebagaimana kisah Kurnia, kesalahan memilih guru bisa menjadikan seseorang terjerumus ke dalam jurang kesesatan, bahkan ke paham dan jaringan ekstremisme. “Kepada masyarakat harus hati-hati memilih guru agama, karena sebagaimana pak Kurnia ia mendapatkan dakwah dari orang-orang yang salah, dan membuat dia menjadi radikal, menjadi ekstrem, karena memilih pengajian yang salah. Jangan sampai salah memilih majelis, memilih buku, dan memilih guru,” katanya.

“Kepada tokoh masyarakat, ayo kita tengok dan monitor anak kita jangan sampai terbelokkan.”

Selain itu ia juga berpesan kepada orang tua agar menjaga anak-anak generasi muda bangsa agar tidak terpapar ideologi dan gerakan ekstremisme. “Ada anak-anak, generasi yang harus kita pantau, kadang-kadang kita kecolongan di kampus, ikut kegiatan di kampus yang bertolak dengan aqidah orang tuanya, na’udzubillahi min dzalik. Kepada tokoh masyarakat, ayo kita tengok dan monitor anak kita jangan sampai terbelokkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, ia mengaku senang dengan kegiatan yang diinisiasi AIDA karena belum pernah berjumpa langsung dengan mantan teroris. Kesempatan ini menurutnya momentum baik karena bertepatan menjelang tahun baru Islam. Semangat perdamaian agama Islam diharapkan menyebar ke dalam semangat masyarakat “AIDA luar biasa, hari ini adalah hari yang tepat menjelang tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1441,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, kegiatan tersebut dihadiri oleh penggagas Gerakan Suluh Kebangsaan, Mahfud MD sebagai keynote speaker, Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, dan sejumlah narasumber di antaranya Direktur AIDA Hasibullah Satrawi, KH Dian Nafi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, Kurnia Widodo, Joshua Ramos, dan dimoderatori oleh tokoh Muda PP Muhammadiyah, Zuly Qodir. (AH)

Baca juga Empati Tokoh Agama kepada Penyintas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...