HomeBeritaMengingat Bom Kuningan

Mengingat Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Pagi menjelang siang, sekira pukul 10 lewat, pada 9 September 2004 terjadi aksi pengeboman di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Tepatnya di depan gedung Kedutaan Besar (Kedubes) Australia. 9 orang meninggal dunia pada hari itu dan ratusan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan terorisme itu. Dari ratusan korban luka, dua di antaranya meninggal dunia selang beberapa waktu berikutnya lantaran cederanya yang parah.

Untuk mengenang 17 tahun aksi memilukan itu, beberapa penyintas mengadakan acara doa bersama di lokasi kejadian, pada Kamis (09/09/2021). “Karena kami tidak ingin ada kerumunan, maka yang hadir di lokasi hanya 6 orang korban saja sebagai perwakilan, dan dengan protokol kesehatan yang ketat,” kata Sucipto sebagai penanggung jawab kegiatan.

Baca juga Asep Wahyudi: Potret Ketangguhan Korban Bom Kuningan 2004

Kegiatan ini juga disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom agar penyintas yang lain bisa ikut merasakan hadir di lokasi. Aksi simpatik ini dimulai dengan berjalan kaki di sepanjang Jalan HR Rasuna Said sambil membawa karangan bunga. Para penyintas berhenti sejenak di masing-masing titik ketika mereka mengalami ledakan, sembari menceritakan kejadian saat itu. Mereka juga sempat melintasi Rumah Sakit MMC yang saat itu menjadi rujukan pertama bagi para korban.

“Ini adalah juga sebagai rasa syukur kami, karena setelah kejadian itu hingga kini kami masih diberi hidup dan kesehatan,” ujar Sucipto.

Baca juga Penyintas Bom Kuningan: Saya Terima Takdir Saya

Tepat pukul 10.10 WIB, untuk menandai detik-detik terjadinya pengeboman, karangan bunga bertuliskan “Peringatan 17 Tahun Bom Kuningan” diletakkan di depan gedung bekas kantor Kedubes Australia. Selanjutnya dilaksanakan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu penyintas, Zaidin Zainal. Dalam doanya terselip harapan agar tidak pernah ada lagi korban terorisme di Indonesia. “Kami ingin Indonesia damai dan tenteram,” demikian potongan doa yang dipanjatkan.

Kegiatan diprakarsai Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) dan Forum Kuningan (FK). Sucipto menegaskan, peringatan digelar bukan untuk mengungkit kembali luka dan rasa takut yang timbul akibat aksi teror. “Para penyintas memeringati peristiwa itu untuk saling mendukung dan menguatkan satu sama lain,” ucapnya. [LADW]

Baca juga Ketangguhan Istri Korban Bom Kuningan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....