HomeBeritaDialog Siswa SMAN 8...

Dialog Siswa SMAN 8 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai – Sumarno, mantan narapidana terorisme, dihadirkan sebagai narasumber dalam Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar AIDA, Senin (06/09/2021). Kegiatan diikuti secara daring oleh 53 siswa SMAN 8 Surakarta, Jawa Tengah.

Dalam kesempatan ini, Sumarno membagikan kisah sepak terjangnya selama di jaringan ekstremisme dan pertobatannya. Ia mengaku mulai mendapatkan pemahaman ekstrem ketika  menempuh pendidikan di pondok pesantren yang dikelola oleh pamannya yang merupakan “Trio Pelaku Bom Bali” yaitu Ali Imron, Ali Ghufron alias Mukhlas, dan Amrozi. Sumarno ditangkap pada tahun 2003 karena terbukti menyembunyikan senjata dan sisa-sisa bahan peledak. Ia divonis hukuman 5 tahun penjara.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Surakarta dengan Penyintas Bom Kuningan

Di dalam Lapas, perlahan Sumarno mengoreksi pemikirannya. Ia mulai menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang merugikan orang lain. Secara bertahap ia meninggalkan kelompok ekstrem secara total. Setelah bertobat, kini ia menjalani aktivitasnya sebagai pengajar di pondok pesantren milik keluarganya. Ia juga aktif menyuarakan perdamaian.  “Saya mau ber-khidmat (mengabdi: red) pada umat, dan menjadi orang yang lebih berguna dan bermanfaat,” katanya.

Usai Sumarno menyampaikan kisahnya, beberapa pertanyaan muncul dari siswa. Salah satunya bertanya tentang pesantren yang saat ini dikelola Sumarno. “Apakah ada jaminan bahwa di pesantren itu tidak ada ajaran ekstremisme di dalamnya,” ucap siswa tersebut.

Baca juga Ketangguhan Penyintas di Mata Siswa SMAN 2 Surakarta

Sumarno mengakui, dulu pondok pesantren milik keluarganya memang terpengaruh oleh ketiga pamannya yang mempelajari ekstremisme secara teoretis maupun praktis dari Afghanistan. “Tapi sekarang yang kita ajarkan adalah maklumat tentang Islam. Keutamaan amal dalam Islam, murni dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, salaful ummah, dari ulama yang masyhur. Tidak seperti dulu,” ujarnya menerangkan.

Pertanyaan selanjutnya adalah tentang eksistensi kelompok ekstrem di Indonesia dan ciri-cirinya. Menanggapi hal tersebut Sumarno mengatakan bahwa masih ada orang yang berpikiran ekstrem. Namun seharusnya mereka menyadari bahwa kondisi di Indonesia berbeda dengan kondisi di luar negeri seperti di Afghanistan. “Ciri-ciri kelompok itu bersumbu pendek. Kalau berbeda pendapat mudah tersulut. Padahal dalam Islam, perbedaan di antara umat adalah rahmat, dan itu yang harus disyukuri,” katanya.

Baca juga Menyemai Bibit Perdamaian di SMAN 4 Surakarta

Usai kegiatan, salah seorang siswa menyampaikan pembelajaran dari kisah Sumarno. Menurut dia, meskipun masa lalu itu buruk, manusia harus bisa terus berubah lebih baik. “Tidak ada kata terlambat memulai hal baik. Tidak ada kata terlambat menebar kebaikan ke seluruh saudara dan teman-teman kita. Masa lalu sebaiknya dijadikan pelajaran dan hikmah agar lebih baik menjalani kehidupan,” ujarnya. [LADW]

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...