HomeBeritaKetangguhan Istri Korban Bom...

Ketangguhan Istri Korban Bom Kuningan

“Waktu itu anak saya sempat melarang ayahnya bekerja, sampai dipeluk dengan kencang. Pokoknya nggak boleh pergi kerja. Ayahnya berpesan, sekolah yang pintar dan jaga Mama.”

Aliansi Indonesia Damai- Demikian Yuni Arsih mengenang kata-kata terakhir suaminya, Suryadi, yang meninggal dunia akibat Bom Kuningan 2004. Diiringi isak tangis, Yuni bercerita tentang perjuangan hidupnya setelah kepergian sang suami di hadapan ratusan peserta “Halaqah Alim Ulama: Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” yang digelar AIDA secara daring pekan lalu.

Yuni masih ingat hal-hal tak biasa yang dilakukan oleh suaminya menjelang berangkat kerja. Pagi itu, usai mengantarkan anaknya ke sekolah dekat rumahnya, Yuni buru-buru pulang ke rumah untuk menyiapkan bekal makanan untuk suami. Tetapi sesampainya di rumah, Suryadi ternyata sudah pergi menuju tempat kerjanya di kantor Kedubes Australia, di mana ia bertugas sebagai penata taman (gardener).

Baca juga Bersinergi Melawan Provokasi Kekerasan

Yuni juga mendengar cerita dari iparnya yang tinggal dekat dengannya tentang perilaku tak biasa sang suami. Saat berpapasan dengan keponakannya, Suryadi spontan menggendongnya yang lantas mengompol hingga membasahi baju Suryadi. Alih-alih balik ke rumah mengganti baju, ia malah lanjut berangkat ke tempat kerjanya.

Yuni lantas menjalankan aktivitas rumah tangga seperti biasa. Hingga kemudian Yuni menyalakan televisi dan menyaksikan berita ledakan besar di depan kantor Kedubes Australia kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Ia yang dihinggapi kepanikan segera berlari ke warung telepon (wartel) untuk menghubungi Suryadi. Panggilan teleponnya tersambung, tetapi tidak diangkat.

Baca juga Pentingnya Saling Menyalehkan

Yuni kembali ke rumah untuk menyaksikan kelanjutan berita kejadian tersebut. Tubuh Yuni langsung lemas tak berdaya ketika melihat nama suaminya terpampang sebagai korban tewas di layar kaca.

Hidup Yuni berubah drastis seketika. Ia harus menjalani hidup tanpa suami, berjuang membesarkan buah hati seorang diri. Saat suaminya masih hidup pun, ia mengaku kehidupannya cukup susah. Apalagi setelah ditinggal suami, Yuni tidak bisa membayangkan bagaimana membesarkan anaknya.

Baca juga Menyerukan Semangat Perdamaian kepada Ulama Sulawesi

Terlebih lagi, kondisi psikis sang anak terguncang hebat mengetahui ayahnya telah wafat. Anaknya berubah menjadi keras kepala dan susah diatur. “Yang tadinya rajin belajar, terus tiba-tiba nggak mau sekolah. Susah banget diatur. Saya jadinya sampai bingung,” Yuni mengungkapkannya sambil menangis sesegukan.

Seiring waktu Yuni menyadari dirinya tak boleh berlama-lama meratapi nasib. Tiada guna sedih berkepanjangan. Kehidupan harus terus berlanjut. Fokusnya adalah membesarkan sang anak hingga menjadi orang bermanfaat di kemudian hari. Selain menyemangati diri sendiri, Yuni juga berusaha menyemangati anaknya agar tidak larut dalam kesedihan.

Baca juga Islam Rahmat Identik Perdamaian

“Saya pelan-pelan mendidik anak agar lulus SD. Saat masuk SMP, tidak mau sekolah lagi. Saya berusaha agar dia tetap sekolah, meskipun harus pindah sana-sini mencari sekolah yang nyaman untuknya. Yang penting saya sebagai ibu terus mendorongnya untuk sekolah sampai lulus,” kata Yuni.

Motivasi tak kenal lelah yang diberikan oleh Yuni akhirnya berbuah manis. Sang anak mau melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Pola pikirnya semakin dewasa. Sang anak ingin menjadi orang sukses agar kelak bisa membahagiakan ibunya. Kisah ketangguhan Yuni mendapatkan simpati dari peserta yang hadir. Salah seorang peserta merasa takjub atas kesabaran Yuni. “Ikut terharu mendengar cerita Ibu Yuni. Barakallah Bu atas semua kesabarannya,” tutur peserta tersebut. [FAH]

Baca juga Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...