HomePilihan RedaksiPenyintas Bom Kuningan: Saya...

Penyintas Bom Kuningan: Saya Terima Takdir Saya

Aliansi Indonesia Damai-  Pagi hari, 9 September 2004. seperti biasa, Rizah, petugas kebersihan di Graha Binakarsa Swadaya, mulai menjalankan tugasnya membersihkan sudut-sudut ruang di gedung perkantoran tersebut. Menjelang pergantian shift tugas di jam 11 pagi, Rizah sedang bertugas di lantai 3. Teman-temannya mulai meninggalkan lantai tersebut untuk beristirahat, namun Rizah masih tetap di situ. Ia berdiri di depan jendela kaca besar sambil memikirkan uangnya yang hanya tersisa 20 ribu rupiah di sakunya.

Ia memutuskan untuk tidak makan siang, namun berniat untuk beristirahat di belakang gedung. Saat membalikkan badannya, ledakan dahsyat terjadi. Ia terkena reruntuhan kaca. Ia mencoba untuk berlari tanpa menyadari bahwa serpihan-serpihan kaca mengenai wajahnya. “Ternyata ada bom. Saya mencoba masuk ke dalam, ruangan ternyata gelap, saya nggak bisa lewat. Saya lihat penuh darah muka saya. Saya mencoba minta tolong lewat tangga darurat. Ternyata udah ramai, ada teman saya lihat saya, dan saya ditolong temen-teman saya,” ujarnya mengenang kejadian pahit 17 tahun yang lalu.

Baca juga Inspirasi Pemaafan Penyintas

Rizah dibawa ke Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (RS MMC), tak jauh dari tempat kerjanya. Di sana ia melihat korban-korban yang lain. Di situ pula ia baru menyadari telah menjadi korban dari aksi pengeboman di depan kantor Kedutaan Besar Australia yang berjarak sekitar 50 meter dari tempatnya bekerja. “Ketika di rumah sakit, dokter bilang muka saya harus ditangani untuk dioperasi karena lukanya ada di sekitar mata, takutnya kena pembuluh darah. Di situlah saya dioperasi tanpa disuntik bius,” kata Rizah mengenang.

Tak kurang dari 16 jahitan mendarat di wajah Rizah, namun rasa sakitnya seolah tak bisa ia rasakan. Ada hal lain yang lebih ia pikirkan. “Saya menangis, yang saya pikirin siapa yang bayar perawatan saya. Uang saya cuma 20 ribu, saya kan nggak bisa ngandelin keluarga saya karena saya tulang punggung keluarga,” ujarnya.

Baca juga Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Rizah merasa beruntung ketika salah satu temannya datang menepis kerisauannya. Ia mendapat kabar bahwa biaya rumah sakit akan ditanggung oleh pihak kantor tempatnya bekerja. Perasaan lega menyelimuti diri Rizah meski dokter mengatakan ia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Awalnya ia sempat menolak untuk dirawat inap karena memikirkan anaknya yang masih kecil. “Saya minta ke perawat untuk pulang karena anak saya nggak ada yang merawat, tapi tidak diperbolehkan,” katanya.

Seminggu setelah operasi, Rizah tetap memaksa untuk pulang. Pihak rumah sakit mengizinkannya menjalani rawat jalan. “Setelah sampai di rumah saya berobat jalan, saya tadinya mau dioperasi lagi sama pihak Kedubes. Katanya biar di-rapihin, tapi saya nggak mau. Kalau operasi kan butuh perawatan, sedangkan saya ini orang biasa yang harus masak, harus kerja, harus ngurus anak. Saya terima kalau udah takdir saya seperti ini,” katanya mengenang.

Baca juga Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Dua minggu setelah kejadian, dalam kondisi luka yang masih diperban, Rizah mulai kembali bekerja. Ia tak mau berlama-lama bergelut dengan rasa sakit. Sebagai tulang punggung keluarga ia merasa harus bertanggung jawab. Rizah mencoba melawan rasa sakitnya, melawan traumanya, sebab ia harus melanjutkan hidup. Perempuan 44 tahun itu hingga kini masih trauma dengan suara ledakan. Namun ia tetap bersyukur masih selamat dari musibah itu.

Baca juga Kebangkitan dan Ikhtiar Memaafkan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...