HomeBeritaMeneladani Ketangguhan Penyintas

Meneladani Ketangguhan Penyintas

Peserta berfoto bersama setelah mengikuti Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Katapang (25/1/2017).

“Kenapa Bapak nggak dendam, nggak kepingin nge-balas gitu? Apa yang membuat Bapak bisa tabah?” Demikian siswi berkerudung itu mengajukan pertanyaan. Keingintahuannya tersebut muncul setelah mendengarkan kisah Suyanto, penyintas Bom Bali 2002.

Menanggapi pertanyaan itu Suyanto menceritakan bahwa pada awalnya memang sulit mengikhlaskan musibah yang telah membuatnya menderita dan merenggut nyawa banyak orang. Setelah pulih dari cedera, dia bersama teman-temannya sesama korban bom saling memotivasi untuk menjalani kehidupan dengan percaya diri. Seiring waktu Suyanto ikhlas menerima kejadian Bom Bali yang menimpanya sebagai suratan takdir. Tak sekadar mengikhlaskan masa lalu, dia bahkan memaafkan mantan pelaku aksi terorisme. “Saya punya prinsip kalau dendam dibalas dengan dendam tidak akan ada habisnya,” kata dia.

Pemandangan tersebut adalah bagian dari kampanye perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Jawa Barat, akhir Januari lalu. Selama sepekan penuh AIDA bersafari ke lima sekolah di bumi parahyangan untuk menyelenggarakan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”. Melalui kegiatan tersebut AIDA mengajak para pelajar menggali makna ketangguhan sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan. Lima sekolah yang dikunjungi adalah SMAN 1 Padalarang, SMAN 1 Baleendah, SMAN 1 Katapang, SMAN 1 Ngamprah dan SMAN 1 Dayeuhkolot.

Dialog Interaktif di lima sekolah tersebut menghadirkan narasumber Tim Perdamaian yang terdiri atas korban dan mantan pelaku aksi terorisme, yaitu Suyanto (penyintas Bom Bali 2002), Tita Apriyantini (penyintas Bom JW Marriott 2003) dan Ali Fauzi (mantan anggota kelompok terorisme).

Tanya jawab antara Suyanto dan seorang siswi di atas terjadi dalam Dialog Interkatif di SMAN 1 Padalarang. Sebelumnya, ayah dua anak itu berbagi kisah tetang pengalamannya selamat dari serangan teror. Saat kejadian dia sedang bekerja mencari nafkah di Jalan Legian Kuta, Bali. Tiba-tiba ledakan sangat kuat terjadi dan seketika dia terlempar sekitar 10 meter dari tempat semula. Akibat ledakan, dia mengalami kerusakan jaringan tulang lunak di bagian telinga, tertancap logam di lengan serta tertembus sebilah bambu di bagian kaki.

Dalam kesempatan Dialog Interaktif di SMAN 1 Ngamprah, anggota Tim Perdamaian, Tita Apriyantini, juga berbagi kisah kepada para peserta. Mengawali kisahnya, Tita mengajak para siswa membentuk simbol cinta dengan jari-jari tangan. “Menurut saya cinta ini adalah satu faktor utama untuk kita menuju perdamaian. Kalau kita punya cinta di hati, kita tidak akan tega menyakiti sesama,” ujarnya yang disambut tepuk tangan peserta.

Tita berkisah, saat bom meledak dia sedang bertugas sebagai pegawai magang di Restoran Syailendra Hotel JW Marriott Jakarta. Selain goncangan hebat, efek bom membakar apa saja yang ada di dekat lokasi pemboman. Dia melihat orang-orang berdesakan keluar restoran dengan tubuh terbakar. Tita pun berusaha keluar dari ruangan yang telah penuh asap tersebut tanpa menyadari sepatunya terlepas dan banyak pecahan kaca tertancap di kakinya. “Kaki saya berdarah kena kaca itu tidak saya rasakan. Yang saya rasakan adalah panas, panas sekali di tangan, di telinga dan di kepala saya, dan itu rasanya sakit sekali,” kata dia mengenang peristiwa 13 tahun lalu.

Seperti halnya Suyanto, Tita telah ikhlas menerima musibah bom dan memaafkan mantan pelaku terorisme. Seorang peserta Dialog Interaktif di SMAN 1 Ngamprah menanyakan bagaimana bisa Tita berbesar hati memaafkan mantan pelaku. Dia menjawab, prosesnya berekonsiliasi dengan mantan pelaku cukup panjang. Dia menilai orang yang telah meninggalkan jalan kekerasan tidak pantas dibenci tetapi justru harus didukung.

Dalam kegiatan Dialog Interaktif, mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi, juga membagi kisah hidupnya. Dia dikenalkan dengan konflik dan ketidakadilan yang terjadi di berbagai belahan dunia, dan didoktrin untuk bergabung dengan kelompok teroris. Serangan teror diklaim kelompok itu sebagai pembalasan atas ketidakadilan yang ditimpakan kepada umat Islam di berbagai tempat.

Setelah sekian lama akhirnya Ali Fauzi menyadari bahwa aksi-aksi teror dengan alasan apa pun tak dapat dibenarkan. Kelompok teroris, kata dia, menyerang secara acak dan menimbulkan korban dari masyarakat sipil seperti yang menimpa Suyanto dan Tita. “Bom ditaruh di hotel lalu meledak, ditaruh di kafe lalu meledak. Bahkan di tahun 2006 bom ditaruh di dalam masjid di Mapolresta Cirebon. Itu adalah kekeliruan mereka dalam berpikir,” katanya. Dia menambahkan bahwa para siswa peserta Dialog Interaktif harus mewaspadai ajakan-ajakan terorisme yang kini banyak beredar di media sosial.

Suyanto, Tita dan Ali Fauzi kini telah berekonsiliasi, meninggalkan keterpurukan masa lalu dan menatap kehidupan masa depan dengan optimis. Mereka berharap generasi muda bangsa menggalakkan budaya cinta damai serta menghindari segala aksi kekerasan.

Seorang siswa SMAN 1 Dayeuhkolot mengaku mendapatkan banyak pelajaran setelah mengikuti Dialog Interaktif. “Saya mengambil kesimpulan bahwa kekerasan itu tidak perlu dibalas dengan kekerasan. Dari Pak Suyanto, kan dia itu korban dari pengeboman, dia itu punya jiwa yang kuat bisa memaafkan seorang mantan pelaku, jadi saya bisa mencontoh dia,” ucapnya.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, menambahkan bahwa para siswa peserta Dialog Interaktif juga mesti mengambil hikmah dari pengalaman mantan pelaku, yakni tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. Dia mengatakan, bila ketidakadilan di satu tempat dibalas dengan menciptakan ketidakadilan lainnya di tempat lain maka yang terjadi adalah jatuhnya korban dari orang-orang tak bersalah. [MLM]

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XII April 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....