HomeBeritaKisah Penyintas Menjadi Inspirasi...

Kisah Penyintas Menjadi Inspirasi Dakwah

Dok. AIDA –
Narasumber KH. M. Dian Nafi mengajak peserta berdiskusi saat menyampaikan materi dalam kegiatan, Sabtu (4/3/ 2017).

Seorang peserta beranjak dari tempat duduk menghampiri Jatmiko Bambang yang berulang kali tersedu menahan tangis. Dia memeluk Bambang, mencoba menguatkan dan menenangkannya. Bambang pun tak kuasa menahan air mata, terharu atas empati yang begitu dalam dari peserta.

Peristiwa di atas adalah sepenggal cerita dari pelaksanaan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Surakarta, awal Maret lalu. Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) tersebut Bambang membagi kisah hidupnya sebagai penyintas aksi teror Bom Bali 2002. Dia mengaku bersyukur masih dilindungi Tuhan dan hanya mengalami luka ringan akibat ledakan bom mobil di dekat tempatnya bekerja.

Secara fisik Bambang memang tidak mengalami luka serius, namun secara psikis dia tampak terpukul akibat tragedi Bom Bali. Rusak dan terbakarnya kawasan Legian, Kuta akibat bom membuatnya kehilangan pekerjaan. Pria asal Malang itu mengatakan kondisi perekonomiannya terpuruk sejak aksi teror terjadi. Dia mengaku tidak mendapatkan santunan atau bantuan dari pemerintah, seperti yang diterima kebanyakan korban Bom Bali, lantaran lukanya ringan dan tidak dirawat di rumah sakit.

Tangisnya mulai pecah saat mengingat keterbatasan ekonomi yang dia alami pascatragedi. Dia menceritakan pernah merasa sangat terpukul saat tak mampu memberikan uang saku kepada anaknya untuk ke sekolah. Ia juga sering didesak anaknya untuk menghubungi pihak sekolah terkait pelunasan biaya pendidikan. “Anak saya bilang, Pak, tolong telepon ke sekolahan, Pak, kalau nggak telepon nanti Bapak dipanggil terus ke sekolah,” kata Bambang menirukan keluhan putranya. Sebagai korban terorisme Bambang rela tidak mendapatkan santunan, tetapi dia berharap pemerintah sudi membantu biaya pendidikan dan kesehatan anak-anaknya.

Dalam kegiatan tersebut Sri Hesti, ibunda alm. Rudi Dwi Laksono, korban Bom JW Marriott 2003, juga berbagi kisah. Dia merasakan firasat sebelum kepergian putra bungsunya. Beberapa hari terakhir sebelum kepergian Rudi, dia merasa nasi yang dimasaknya berbau tak sedap. Pada hari itu sebelum berangkat bekerja sebagai petugas keamanan di Hotel JW Marriott Jakarta, Rudi lama memandangi foto mendiang ayahnya. Selain itu, Hesti merasa anak kesayangannya pagi itu tidak seperti biasanya, bersikap agak manja, dan meminta untuk diikatkan tali sepatunya. Pada waktu kejadian Rudi sedang bertugas mengatur mobil-mobil yang hendak parkir di Hotel JW Marriott. Saat bermaksud mendekati mobil yang belakangan diketahui membawa bom, Rudi terkena ledakan.

Selain bersilaturahmi dengan korban, peserta Pelatihan mendapatkan materi Belajar dari Tim Perdamaian yang disampaikan oleh penyintas dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi, yaitu Vivi Normasari (korban Bom JW Marriott 2003) dan Ali Fauzi (mantan anggota kelompok teroris). Di hadapan para aktivis dakwah di Surakarta Vivi dan Ali mengisahkan pengalaman hidup masing-masing hingga akhirnya berekonsiliasi dan bersatu menjadi Tim Perdamaian.

Ali menuturkan hampir 70 persen orang-orang yang bergabung dengan jaringan terorisme sangat memahami ajaran agama. “Bahkan banyak di antara mereka yang hafiz, hafal ratusan hadis-hadis Nabi. Mengapa mereka bisa tergelincir, karena mereka sebetulnya terlalu bebas di dalam memahami konteks-konteks ayat,” ujarnya. Dia menilai kelompok tersebut terpengaruh pemahaman Khawarij yang cenderung berlebihan mengamalkan ajaran agama, seperti mudah menyematkan identitas kafir bagi umat Islam yang tidak sepemahaman dengan mereka.

Sementara itu, Vivi mengisahkan proses panjang rekonsiliasinya dengan mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi. Dia mengatakan, awalnya membenci Ali karena pernah tergabung dengan kelompok teror yang menyebabkan diri dan rekan-rekannya menderita. Seiring waktu dia menyadari bahwa Ali bersungguh-sungguh meninggalkan jalan kekerasan. “Alhamdulillah dalam hati saya sekarang tidak ada dendam, atau kesal, atau marah kepada Pak Ali, malah saya berdoa mudah-mudahan Pak Ali bisa mengubah teman-temannya yang pemikirannya masih radikal,” kata dia.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, dalam Pelatihan mengatakan, peran para peserta sangat dinanti untuk mengimplementasikan pembelajaran dari kisah-kisah korban dalam dakwah di masyarakat. Dia berharap kisah korban dapat memperkaya metode para aktivis dakwah guna menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga perdamaian sekaligus mewaspadai paham-paham prokekerasan.

“Kalau kita berpegang pada Alquran, kita temukan kebanyakannya adalah kisah. Dari kisah-kisah tersebut kita dituntut menyerap ibrah atau ilmu yang terkandung di dalamnya. Kita harapkan kisah korban bisa menjadi inspirasi di dalam kita menyampaikan dakwah kepada masyarakat sebagai metode yang qurani,” kata Hasibullah mengutip Alquran Surat Yusuf Ayat 111, “Sungguh di dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang yang berakal.”

Selain korban dan mantan pelaku, Pelatihan selama dua hari tersebut menghadirkan narasumber pakar jaringan terorisme dari Universitas Indonesia, Solahudin, dan Wakil Rois Syuriah PW Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, KH. M. Dian Nafi’. Sejumlah peserta memberikan tanggapan setelah mengikuti Pelatihan. Seorang peserta mengatakan kesaksian para penyintas dan mantan pelaku membuktikan bahwa aksi kekerasan dengan mengatasnamakan apa pun tak dapat dibenarkan karena melanggar norma kemanusiaan. Dia mengajak para aktivis dakwah peserta Pelatihan membuat gerakan nyata untuk mencegah individu atau kelompok melakukan kekerasan. [MLM]

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XII April 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...