HomeInspirasiAspirasi DamaiMaryam Gul, Potret Ketangguhan...

Maryam Gul, Potret Ketangguhan Korban Teror Christchurch

Peristiwa penembakan yang terjadi di Christchurch, Selandia Baru yang dilakukan oleh seorang esktrimis kulit putih mengejutkan dunia. Pasalnya, aksi teror itu terjadi di negara yang menyandang predikat negara paling aman dan damai di dunia. Sebanyak 50 orang tewas dalam peristiwa nahas itu. Kematian mereka meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Luka itu dirasakan oleh seorang wanita muslimah asal Pakistan bernama Maryam Gul. Ia kehilangan seorang saudara kandung beserta kedua orang tuanya dalam peristiwa itu. Maryam yang saat ini tinggal di Karachi, Pakistan harus kuat menerima kenyataan hidup bahwa keluarga yang sangat ia cintai sudah tiada, tanpa ada satu pun yang bisa terselamatkan. Dalam wawancara dengan BBC News di Karachi, ia bercerita bagaimana keluarganya bisa berada di Selandia Baru.

Saudara laki-lakinya, Zeeshan pindah ke Selandia Baru untuk bekerja sejak empat tahun yang lalu. Pria lulusan teknik mesin ini pindah ke Auckland pada 2014 dengan status sebagai warga tetap (permanent citizen). Setelah lebih kurang empat tahun tinggal di Auckland, ia kemudian pindah ke sebuah rumah di dekat Masjid Al Noor Christchurch beberapa hari sebelum tragedi. Masjid yang terletak di Deans Avenue itu sendiri merupakan satu dari dua lokasi yang disasar pelaku penembakan.

Adapun orang tua Maryam sebenarnya tinggal di Karachi bersamanya. Hanya beberapa hari sebelum kejadian, keduanya bepergian ke Selandia baru untuk mengunjungi Zeeshan. “Mereka semua keluarga saya. Saya hanya punya satu saudara, satu ayah, dan satu ibu. Kedua orang tua saya harusnya sudah balik ke Pakistan bulan depan,” ungkap Maryam.

Namun, takdir berkata lain. Maryam sangat terkejut ketika mengetahui ia tidak akan dapat berkumpul lagi bersama keluarganya.

Pada saat kejadian, ketiga anggota keluarga Maryam berada di lokasi penembakan dan masuk ke dalam daftar 50 korban jiwa dari tragedi paling berdarah dalam sejarah Selandia Baru. “Di dunia ini, saya telah kehilangan semua anggota keluarga saya,” ucap Maryam dengan mata berkaca-kaca.

Maryam sempat tidak menyangka mengapa tidak ada seorang pun dari keluarganya yang selamat. Perasaannya menjadi campur aduk. Menghadapi kenyataan itu, ia berusaha untuk menguatkan hati dan mengikhlaskan kepergian orang-orang yang paling ia cintai. Ia memang telah kehilangan keluarga, namun ia percaya meski sekarang hidup sebatang kara, Tuhan akan selalu hadir menyertainya.

Maryam mengaku awalnya marah dan ingin agar pelaku dihukum seberat-beratnya. Ia tidak habis pikir mengapa ada orang yang sampai tega berbuat sekeji itu. Akan tetapi, lambat laun ia mulai sadar bahwa kemarahan dan kebencian tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw. “Saya baru menyadari bahwa itu (amarah) bukanlah sunnah dari Nabi saya. Beliau pernah memaafkan orang-orang yang telah membunuh keluarganya,” terangnya.

Ketabahan hati yang dibangun Maryam tidak hanya membuatnya ikhlas akan kepergian orang tua dan saudaranya, namun juga memunculkan harapan agar di masa depan tidak ada lagi pihak yang melancarkan aksi teror. Ia bahkan mendoakan kebaikan untuk pelaku. “Saya harap si pelaku menjadi muslim suatu hari nanti, lalu bertobat dan menyadari kesalahannya. Dengan begitu ia bisa menyadari betapa Islam itu sesungguhnya adalah agama yang damai,” kata dia.

Maryam Gul menjadi inspirasi bagi dunia, bahwa seorang muslim mesti mengedepankan kesabaran dan ketangguhan dalam menghadapi cobaan dan tantangan. Kebesaran hati Maryam untuk memaafkan orang yang telah menzaliminya turut menjadi bunga harapan akan terwujudnya perdamaian, sekaligus terputusnya rantai permusuhan.

Oleh: Farouq Arjuna Hendroy

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...