HomeBeritaBelajar Kasih Sayang dari...

Belajar Kasih Sayang dari Korban Tragedi Christchurch

Penyintas teror penembakan di Christchurch, Selandia Baru pada 15 Maret 2019 lalu, telah memaafkan pelaku. Sikap penyintas tersebut merupakan perbuatan mulia yang layak dijadikan inspirasi di tengah berbagai situasi tak damai yang terjadi di berbagai belahan dunia.

“Saya ingin menyampaikan pesan kepada orang yang telah melakukan ini, atau jika ia memiliki teman yang juga berpikir seperti ini, ‘Saya masih menyayangimu dan saya ingin memeluk kamu serta bertemu ibu kamu, dan menganggapnya sebagai bibi saya juga.” Demikian Farid Ahmed, korban aksi penembakan massal di Masjid Al-Noor Christchurch, mengatakan kepada media. Imigran asal Bangladesh yang sudah bertahun-tahun menetap di Selandia Baru itu, mengalami luka tembak di bagian kakinya. Ia bersyukur masih bisa selamat dari aksi teror tersebut, kendati istrinya, Hosne Ahmed (44) meninggal dunia diberondong peluru oleh pelaku.

Selandia Baru merupakan negara yang terkenal tenang, damai, dan sangat nyaman untuk dihuni. Keragaman budaya dan agama juga sangat dijunjung tinggi di sana. Christchurch, sebuah kota di belahan pulau selatan negeri kiwi tersebut, bahkan menyandang gelar sebagai kota damai. Di kota itu terdapat banyak tempat ibadah dari berbagai macam agama. Di antaranya adalah Masjid Al-Noor dan Linwood Islamic Centre. Setiap Ramadan, dua masjid tersebut mengadakan iftar bersama, tak terbatas hanya untuk komunitas muslim tetapi juga terbuka untuk masyarakat umum. Sebutan sebagai kota yang damai dalam sekejap ternoda setelah terjadi peristiwa “Jumat kelabu”, penembakan brutal yang mengakibatkan 50 orang meninggal dan 34 lainnya luka-luka. Serangan yang dilakukan seorang ekstremis sayap kanan itu berlangsung saat umat muslim sedang menjalankan ibadah salat Jumat di kedua masjid.

Selain Farid Ahmed, terdapat korban teror Christchurch lainnya yang bernama Aden Diriye, imigran asal Somalia yang pindah ke Selandia Baru sejak 1990. Ia kehilangan anak laki-lakinya yang berumur 3  tahun, Mucad Ibrahim, akibat insiden tersebut. Bocah tak bersalah itu meregang nyawa setelah tertembus timah panas yang dilesakkan pelaku. Di balik kesedihan tak berperi karena kehilangan sang putra, Aden mengaku tidak menyimpan kebencian dan enggan mengutuk pelaku.

Aden justru menyampaikan pesan yang menggugah hati, bahwa dirinya serta minoritas muslim di Christchurch akan tegar dan tetap beribadah. “Saya sangat bahagia,” katanya saat diwawancara setelah salat. “Allahu Akbar. Saya telah kembali di masjid ini, dan kami segera bangkit kembali untuk beribadah,” lanjutnya.

Ucapan korban terorisme seperti yang dilontarkan Farid Ahmed dan Aden Diriye sungguh layak dicontoh. Sikap mereka menunjukkan bahwa memaafkan adalah sifat mulia yang hanya bisa dimiliki orang-orang istimewa. Dengan memaafkan, Farid dan Aden bisa menghadirkan kedamaian di hati sekaligus menghilangkan dendam. Keduanya menyadari bila kebencian dan dendam dipelihara, itu dapat memicu kekerasan serupa yang telah menjadikan merenggut nyawa orang-orang terkasih mereka.

Ungkapan hati dari Aden dan Ahmed yang kehilangan anggota keluarganya akibat serangan brutal itu sangat luar biasa. Dengan memaafkan, mereka ingin menunjukkan bahwa Islam yang mereka yakini menganjurkan untuk memaafkan dan menyanyangi sesama manusia.

Pasca tragedi Christchurch, gelombang solidaritas keprihatinan dan empati kepada para korban mengalir dari berbagai pihak. Sepekan setelah penembakan, sekitar 3.000 orang yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat berkumpul di sebuah taman sebagai bentuk dukungan kepada komunitas muslim bahwa kebebasan beragama mereka terjamin di Selandia Baru. Aksi tersebut juga menandai dibukanya kembali Masjid Al-Noor dan Linwood Islamic Centre usai direnovasi menyusul serangan teror sepekan sebelumnya. [TH]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...