HomePilihan RedaksiRefleksi Kemerdekaan: Menjaga Perdamaian

Refleksi Kemerdekaan: Menjaga Perdamaian

Dirgahayu Republik Indonesia! Sudah 74 tahun negeri tercinta ini menikmati kemerdekaan.  Pertanyaanya, bagaimana kita mengisi kemerdekaan? Cukupkah dengan menggelar upacara bendera dan bermacam perlombaan setiap tahun? Di era globalisasi yang penuh kompetisi ini, setiap warga dituntut untuk mengisi kemerdekaan dengan berkarya, memberikan yang terbaik bagi kemajuan bangsa.

Berkarya untuk kemajuan bangsa adalah bentuk penghormatan sekaligus penghargaan terhadap jasa para pahlawan yang telah mewujudkan kemerdekaan dengan susah payah. Sebaliknya, setiap tindakan yang menyebabkan kerusakan bahkan kehancuran bangsa, tak lain merupakan pengingkaran terhadap jasa pahlawan dan nikmat kemerdekaan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, mengupayakan terciptanya kedamaian, keamanan, dan keharmonisan merupakan prioritas yang mesti dilakukan dalam mengisi kemerdekaan.

Perdamaian di masyarakat kini tengah menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari adanya polarisasi sosial akibat kontestasi politik pada Pemilu 2019, penyebaran kabar bohong dan fitnah, serta ancaman paham keagamaan yang ekstrem, seperti terorisme. Interaksi sosial di dunia maya sangat menampakkan adanya perpecahan bangsa, antara pendukung satu calon presiden tertentu di satu kubu, dengan para pendukung pesaingnya di kubu lainnya. Bila berlarut-larut dan terus disuburkan, kondisi tersebut sangat berpotensi untuk bereskalasi menjadi konflik.

Dari pengalaman Aliansi Indonesia Damai (AIDA), berdasarkan keterangan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat, perpecahan yang berujung konflik sangat dinanti-nantikan oleh kelompok teroris. Pasalnya, situasi konflik dianggap sebagai legitimasi untuk membenarkan aksi-aksi teror. Dan, dalam kondisi tersebut kelompok teroris bisa menanamkan pengaruh untuk kemudian melancarkan agenda-agendanya.

Dibutuhkan usaha-usaha yang serius untuk mencegah pecahnya konflik, sekaligus menghindarkan paham terorisme, serta mentradisikan perdamaian dalam kehidupan masyarakat. Seluruh komponen negara mengemban tugas ini, baik pemerintah eksekutif, legislatif, yudikatif, lembaga pers, maupun organisasi masyarakat sipil. Bahkan, keluarga sebagai lembaga terkecil masyarakat pun juga bertanggung jawab untuk menanamkan semangat perdamaian dalam jiwa setiap anggotanya.

Salah satu upaya untuk menjaga perdamaian adalah seperti yang dilakukan oleh sebagian penyintas terorisme di Indonesia. Mereka berbagi pengalaman hidup kepada masyarakat dengan harapan agar dampak dan bahaya paham terorisme semakin diketahui dan disadari secara luas. Apa yang telah diupayakan sebagian penyintas terorisme, yaitu berbagi kisah dan pengalaman hidup kepada masyarakat, merupakan sebentuk kontribusi dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yakni menciptakan perdamaian yang abadi. Semoga perdamaian terus lestari di negeri tercinta ini.

Dirgahayu Indonesia!

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...