HomeTajukObituari Buya Syafi’i Selamat...

Obituari Buya Syafi’i
Selamat Jalan, Sang Pencerah!

Indonesia kembali kehilangan salah satu warga terbaiknya, Buya Syafi’i Ma’arif. Sang Guru Bangsa wafat di tengah situasi makin menggejalanya tantangan perdamaian di masyarakat akibat menjamurnya ujaran kebencian, berita palsu, juga propaganda paham ekstrem, baik di dunia nyata maupun maya.

Semasa beliau masih sugeng (sehat wal afiat), dalam berbagai kesempatan, gagasannya tentang perdamaian bak taufan yang membadai di belantara media. Bahkan di era media sosial yang terasa makin liar, beberapa kutipan yang menyejukkan dari ucapan atau tulisan beliau coba diviralkan oleh segenap masyarakat yang peduli terhadap kedamaian di negeri tercinta ini.

Wabil khusus saat beliau mengomentari anomali segelintir orang yang rela melakukan aksi bom bunuh diri, Buya begitu garang. Setidaknya ketika Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2000-2005 itu berbicara dalam sebuah kegiatan AIDA di Surakarta pada Maret 2018 lalu.

Dalam hematnya, ideologi yang dianut para teroris adalah “berani mati tapi tidak berani hidup.” Ya, pelaku teror -termasuk para pendukung dari paham ini- dalam pandangan beliau sudah sedemikian putus asa menghadapi tantangan kehidupan, sehingga terlena dengan rayuan para ideolog teroris yang selalu membajak ajaran luhur agama demi membenarkan perilaku tak manusiawi mereka.

Terkait klaim para teroris yang menyebut aksi mereka terdorong atas motivasi agama dan keyakinan, Buya Syafii mengatakan, tindakan kekerasan yang dilakukan justru menodai dan membunuh agama itu sendiri.

AIDA barangkali salah satu bagian dari elemen bangsa yang sungguh beruntung merasakan kebesaran sosok Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif. Sejak awal berdiri pada 2013, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta itu berkenan menjadi “payung” bagi AIDA dalam melancarkan kerja-kerja pembangunan perdamaian di Indonesia melalui kisah inspiratif dari penyintas dan mantan pelaku terorisme. Selama kurang lebih 9 tahun AIDA berkarya untuk mengupayakan Indonesia yang lebih damai, Buya Syafi’i menduduki jabatan sebagai Pelindung AIDA.

Terkait kerja AIDA yang mengupayakan terjadinya islah di antara korban dan mantan pelaku terorisme, tokoh nasional yang sering menyebut diri sebagai Si Anak Kampung dari Sumpur Kudus Sumatera Barat itu menegaskan, “Humanity is one.”

Dalam pandangannya, rekonsiliasi antara mantan pelaku dan korban terorisme adalah contoh konkret dari kemanusiaan. Al-Qur’an sendiri, kata dia, juga memerintahkan manusia agar memelihara sifat kemanusiaan yang manusiawi. Menyatukan atau mengupayakan rekonsiliasi antara korban terorisme dan mantan pelaku, lanjut beliau, “adalah salah satu bentuk nyata dari humanity is one.

Selamat jalan, Sang Pencerah,
Sang Guru Bangsa yang selalu istikamah,
Sang Pegiat Perdamaian yang tak kenal lelah,
Selamat jalan, Buya!

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...