HomeOpiniKrisis Literasi Digital

Krisis Literasi Digital

Oleh Khoiruddin Bashori

(Psikolog Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Artikel ini pertama kali terbit di mediaindonesia.com, edisi 20 Januari 2025

Literasi digital menjadi aspek krusial dalam menghadapi era teknologi informasi yang terus berkembang. Di Indonesia, meskipun terdapat peningkatan indeks literasi digital dalam beberapa tahun terakhir, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Hal itu menandakan perlu adanya perhatian serius dari berbagai pihak, terutama dalam konteks pendidikan, agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih bijak dan efektif.

Salah satu tantangan utama ialah masih rendahnya pemahaman tentang pentingnya literasi digital di kalangan sebagian besar penduduk, terutama di daerah perdesaan. Ketidakmerataan akses terhadap teknologi dan informasi menjadi hambatan besar bagi pemerataan literasi digital. Di sisi lain, banyaknya informasi yang beredar di dunia maya tidak semuanya valid dan akurat sehingga menyebabkan kerancuan dan potensi penyebaran hoaks.

Untuk itu, penting bagi pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk bekerja sama dalam meningkatkan kualitas literasi digital. Pendidikan yang berbasis literasi digital tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan kritis untuk memilah dan memilih informasi yang diperoleh secara online.

Sekolah-sekolah di Indonesia perlu memperkenalkan kurikulum yang lebih mengarah pada pengembangan literasi digital sehingga generasi muda dapat menghadapi tantangan informasi secara lebih tanggap. Selain itu, peran orangtua juga tidak kalah penting dalam membimbing anak-anak untuk menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab. Literasi digital juga harus mencakup pemahaman tentang etika dan keamanan dunia maya agar pengguna tidak terjerumus dalam perilaku negatif di internet.

Literasi digital mencakup beragam keterampilan yang diperlukan untuk menavigasi lanskap digital yang semakin kompleks, yang mana individu tidak hanya harus mengonsumsi informasi, tetapi juga mengevaluasi secara kritis dan mengomunikasikannya secara efektif. Hal itu melibatkan kemampuan untuk menemukan, menilai, dan memanfaatkan sumber daya digital secara bertanggung jawab, menekankan pemikiran kritis dan skeptisisme, seperti yang ditekankan dalam penelitian terbaru yang menyoroti peran perlindungan terhadap misinformasi (Damayani et al, 2024).

Ketika siswa berinteraksi dengan beragam bentuk media, menumbuhkan literasi digital sangatlah penting sehingga memungkinkan mereka membedakan sumber yang kredibel dan informasi yang salah sehingga pada akhirnya meningkatkan kapasitas mereka dalam pengambilan keputusan, baik dalam konteks akademis maupun sosial.

Di era digital, yang mana informasi mengalir terus-menerus dan sering kali tidak terkendali, berpikir kritis muncul sebagai kompetensi penting bagi siswa dan pendidik. Dikembangkan melalui keterlibatan dengan program literasi media yang kuat, pemikiran kritis membekali individu dengan keterampilan yang diperlukan untuk mengevaluasi sumber informasi secara efektif, membedakan fakta dari informasi yang salah, dan menavigasi lanskap digital yang kompleks.

Penelitian menunjukkan bahwa intervensi yang ditargetkan dalam literasi media dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir kritis, mendorong pemberdayaan audiens dalam memerangi misinformasi yang meluas (Anstead et al, 2021). Selain itu, integrasi alat-alat inovatif, seperti chatbots yang dirancang untuk mendidik pengguna tentang argumen yang salah, telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis di tengah penyebaran disinformasi yang meluas (Carmi et al, 2023).

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Katadata Insight Center (KIC), indeks literasi digital Indonesia pada 2022 mengalami peningkatan menjadi 3,54 dari skala 5, naik 0,05 poin jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada di angka 3,49.

Peningkatan itu terutama terlihat pada aspek budaya digital dan etika digital. Namun, aspek keamanan digital masih memerlukan perhatian khusus dengan nilai yang relatif lebih rendah. Meskipun ada peningkatan, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam meningkatkan literasi digital, terutama di sektor pendidikan.

Penelitian dari Universitas Negeri Jakarta belakangan ini mengidentifikasi lima alasan utama rendahnya literasi digital di sektor pendidikan Indonesia. Pertama, kesenjangan kualitas pendidikan antara perkotaan dan perdesaan. Keterbatasan infrastruktur pendidikan di perdesaan mengakibatkan akses terhadap teknologi dan internet yang minim sehingga peserta didik kesulitan mengembangkan keterampilan literasi digital secara optimal.

Kedua, kurikulum yang terlalu teoretis. Materi pembelajaran yang cenderung fokus pada teori tanpa implementasi praktis dalam literasi digital membuat peserta didik kurang terlatih dalam menggunakan teknologi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, ketidaksiapan peserta didik menghadapi dunia kerja. Kurangnya integrasi literasi digital dalam kurikulum menyebabkan peserta didik tidak siap menghadapi tuntutan dunia kerja yang semakin digital. Keempat, keterbatasan kompetensi pendidik. Banyak pendidik yang belum memiliki kompetensi memadai dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pembelajaran. Kelima, minimnya fasilitas dan sumber daya. Sekolah-sekolah, terutama di daerah terpencil, sering kali kekurangan fasilitas pendukung seperti komputer dan akses internet yang memadai untuk mendukung pembelajaran digital.

Solusi alternatif

Menanggapi tantangan demikian, pemerintah melalui Kementerian Komdigi telah meluncurkan berbagai program untuk meningkatkan literasi digital masyarakat. Salah satunya ialah Gerakan Nasional Literasi Digital yang menyasar tiga segmen utama: pendidikan, pemerintahan, dan masyarakat umum.

Program itu bertujuan mengedukasi dan meningkatkan keterampilan digital masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Sayangnya, berbagai program tersebut belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Masih diperlukan kolaborasi lebih erat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan sektor swasta untuk menyediakan infrastruktur yang memadai, mengembangkan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dalam bidang teknologi informasi.

Dengan meningkatnya kemampuan literasi digital, masyarakat Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih bijak, tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk kemajuan bersama. Pemerintah perlu lebih mengupayakan kebijakan yang mendukung pengembangan literasi digital di semua lapisan masyarakat agar tercipta ekosistem yang lebih inklusif dan berbasis pengetahuan.

Berbagai tantangan masih harus diatasi untuk mencapai literasi digital yang merata dan optimal. Masyarakat harus diberdayakan melalui pembentukan komunitas-komunitas digital yang mengedukasi anggotanya tentang penggunaan teknologi secara positif.

Komunitas itu bisa menjadi tempat berbagi pengalaman, pengetahuan, serta solusi bagi mereka yang masih kesulitan dalam mengakses atau memahami teknologi. Pendeknya, diperlukan upaya bersama dari semua pihak terkait untuk memastikan setiap individu di Indonesia memiliki kemampuan literasi digital yang memadai sehingga mampu berpartisipasi.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran....

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...