HomeOpiniBahasa Indonesia Mendunia, Bahasa...

Bahasa Indonesia Mendunia, Bahasa Nusantara Tetap Terjaga

Oleh Waliyadin, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Mahasiswa PhD di University of Canberra, Australia

Artikel ini dimuat di Kompas.id, 27 Oktober 2025

Setelah diakui sebagai salah satu bahasa resmi oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada November 2023, bahasa Indonesia akan mulai digunakan dalam sidang umum UNESCO pada 1 November 2025. Hal itu tentu menjadi kabar baik dan penanda kiprah bahasa Indonesia di kancah internasional.

Namun, bahasa Indonesia yang saat ini menjadi bahasa nasional dan dikenal sebagai bahasa pemersatu bangsa memiliki sejarah yang panjang dan unik. Keberhasilan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dianggap sebagai suatu keajaiban, miraculous success (Woolard 2000); sukses besar a great success” (Bukhari 1996: 19) dan fenomena linguistik yang spektakuler, perhaps even the most spectacular linguistic phenomenon of our age (Alisjahbana 1962: 1).

Bahasa Indonesia mulanya adalah bahasa Melayu yang digunakan sebagai bahasa perdagangan (Paauw, 2009; Sneddon, 2003). Puncaknya adalah ketika bahasa ini dipilih sebagai bahasa pemersatu; pada 28 Oktober 1928 bahasa Indonesia dikumandangkan sebagai salah satu isi sumpah pemuda: ”Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Catatan sejarawan menunjukkan beberapa alasannya. Misalnya, Jared Diamond (2019) menjelaskan alasan bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu dan kini bahasa nasional. Menurut dia, bahasa Jawa sebenarnya menjadi bahasa yang paling banyak digunakan oleh kurang dari sepertiga populasi Indonesia ketika itu dan dikenal sebagai bahasa elit politik dan sosial, the language of the political and social elite (Holmes dan Wilson, 2022, hlm: 148). Sehingga muncul kekhawatiran akan adanya dominasi Jawa, sebagaimana saat ini juga masih dikhawatirkan berbagai pihak.

Selain itu, bahasa Jawa juga memiliki hierarki atau dalam sosiolinguistik bahasa Jawa dikenal memiliki sistem penanda kesopanan yang kompleks (Holmes dan Wilson, 2022). Saat Anda berbicara dengan orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi, kosakata yang digunakan berbeda ketika berbicara dengan orang dengan status sosial biasa atau yang lebih rendah.

Sebaliknya, bahasa Melayu relatif lebih mudah untuk dipelajari (Paauw, 2009). Hanya sekitar 18 tahun setelah Indonesia menduduki Papua Niugini yang saat itu masih diduduki Belanda, saat ini masih banyak ditemui orang Papua Niugini di daerah pedalaman yang bisa berbahasa Indonesia (Diamond, 2019).

Faktor lain, tata bahasa Indonesia lebih sederhana dan supel dengan menambah awalan atau akhiran pada kata dasarnya menjadikan bahasa Indonesia mudah dipelajari. Misalnya kata bersih (kata sifat) ditambah awalan me- dan akhiran -an menjadi membersihkan (kata kerja). Dibandingkan dengan bahasa Inggris, misalnya, ada 16 bentuk waktu dan banyak juga kata kerja tidak beraturan yang tetap harus dihafalkan. Adapun dalam bahasa Indonesia kata kerja tidak mengenal bentuk waktu seperti dalam bahasa Inggris.

Bahasa Indonesia yang saat ini menjadi bahasa nasional juga diakui sebagai bahasa yang secara ekonomi bermanfaat atau economically useful (Clarke dan Morgan, 2011). Dengan demikian, bahasa ini juga mulai diminati di beberapa negara, seperti Australia. Bahasa Indonesia banyak diminati warga Australia yang akan bekerja di bagian diplomasi. Hal ini beralasan karena Indonesia dan Australia adalah negara di kawasan Asia Pasifik yang menjalin kerja sama ekonomi maupun pertahanan. Dengan demikian, menguasai bahasa Indonesia menjadi keharusan bagi calon diplomat yang akan ditempatkan di Indonesia.

Tidak hanya soal kepentingan ekonomi dan hubungan diplomasi, ada juga warga Australia yang menikah dengan orang Indonesia sehingga mereka perlu belajar bahasa Indonesia. Ada juga yang belajar bahasa Indonesia sekadar untuk keperluan berwisata ke Indonesia, terutama ke Bali.

Meskipun demikian, internasionalisasi bahasa Indonesia masih mengalami berbagai tantangan. Pertama bahasa Indonesia belum menjadi bahasa pengantar dalam interaksi antarnegara karena kekurangan kekuatan politik dan keterbatasan pengaruh budaya dan saintifik (Zein, 2022).

Saat ini, bahasa internasional yang utama adalah bahasa Inggris. Tidak heran memang karena bahasa Inggris berkembang lewat kolonisasi serta diperkuat dengan dominasi ekonomi Amerika Serikat. Adapun bahasa Indonesia tidak memiliki sejarah kolonisasi yang masif selain ketika Indonesia mengambil alih Papua Niugini yang saat itu masih dikuasai Belanda (Diamond, 2019).

Bahasa Indonesia akan mengglobal jika Indonesia mampu berperan dalam kancah global, baik dalam bidang ekonomi maupun penyebaran ilmu pengetahuan. Saat ini, kondisi di dalam negeri, para ilmuwan lebih memilih untuk menggunakan bahasa Inggris untuk diseminasi ilmu pengetahuan yang artinya orang Indonesia sendiri kurang percaya diri dengan bahasanya sendiri.

Namun, saya tidak mengatakan bahwa mempelajari bahasa asing seperti bahasa Inggris adalah satu hal yang harus dihindari. Saya ingin mengatakan bahwa seharusnya kita tetap bangga dengan bahasa Indonesia dengan menggunakannya sesuai dengan tempat dan waktunya. Ketika berada dalam forum-forum masyarakat Indonesia, kita usahakan untuk bangga menggunakannya secara paripurna.

Ketika berada pada lingkungan yang tidak memungkinkan untuk menggunakan bahasa Indonesia, alternatifnya adalah dengan mencampurkan dengan bahasa lain (code mixing). Dengan begitu, bahasa Indonesia akan berbaur dengan bahasa asing lainnya. Melalui pembauran itulah, ada kemungkinan bahasa Indonesia akan beralih menjadi bahasa yang mengglobal.

Dalam sidang umum UNESCO ada baiknya jika kita perkenalkan bahasa Indonesia campuran dari pada bahasa Indonesia terstandar. Selain karena bahasa Indonesia terstandar akan terasa sangat asing di dunia internasional, kita bisa menunjukkan bahwa bahasa Indonesia selain supel, juga bisa berbaur dengan bahasa lain. Nyatanya, kosakata bahasa Indonesia juga banyak menyerap dari bahasa asing, seperti Arab, Belanda, dan Inggris.

Internasionalisasi bahasa Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah tidak hanya bagi Balai Bahasa, tetapi juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Oleh karena itu, ilmuwan dan peneliti perlu mencantumkan bahasa Indonesia dalam publikasinya, paling tidak pada bagian abstraknya. Beberapa jurnal Sinta—jurnal Kemendiktisaintek—memang sudah memulai dengan mencantumkan abstrak dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris pada abstraknya.

Lebih dari itu, ketika mengirim ke jurnal internasional, para ilmuwan Indonesia bisa juga memilih jurnal yang ramah terhadap penggunaan bahasa Indonesia untuk dicantumkan paling tidak untuk bagian abstraknya. Dengan begitu, para ilmuwan juga ikut terlibat dalam diseminasi bahasa Indonesia dalam karya ilmiah di jurnal internasional. Para ilmuwan China dan Hong Kong, misalnya, sudah masif dalam penerbitan karya ilmiah di jurnal internasional dengan abstrak menggunakan bahasa China.

Selain ilmuwan, diaspora Indonesia juga bisa turut terlibat dalam penyebaran bahasa Indonesia di negara mereka saat ini bertempat tinggal; misalnya, melalui promosi kebudayaan dan bahasa Indonesia dalam festival multikultural yang sering diadakan di sejumlah negara. Saat ini, saya pun yang tengah studi S-3 berkesempatan untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia untuk warga Australia yang akan ditugaskan di Indonesia sebagai diplomat. Atau warga Australia yang ingin belajar bahasa Indonesia untuk menambah penguasaan bahasa asing selain bahasa pertama mereka (i.e. bahasa Inggris).

Namun, internasionalisasi bahasa Indonesia tidak harus berarti mengabaikan keragaman linguistik di dalam negeri. Wacana menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional sering kali menafikan realitas superglossia Indonesia, yakni situasi berbagai bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa global saling bersaing dalam ranah komunikasi (Zein, 2022). Dalam konteks ini, perencanaan bahasa nasional tidak cukup berfokus pada peningkatan status bahasa Indonesia semata, tetapi juga perlu melindungi dan menguatkan bahasa-bahasa daerah yang terancam punah. Anderbeck (2015) memperingatkan bahwa hampir separuh dari 707 bahasa yang masih hidup di Indonesia dapat punah dalam dua dekade mendatang jika tidak segera dilestarikan.

Superglossia Indonesia juga menuntut pengakuan terhadap Regional Lingua Franca, yakni bahasa-bahasa penghubung di tingkat lokal, seperti Melayu Papua, Melayu Manado, Bakumpai, atau Ngaju, yang berfungsi vital dalam interaksi sosial, perdagangan, dan budaya. Pengakuan terhadap variasi linguistik ini penting untuk membangun kebijakan bahasa yang lebih adil dan inklusif. Dalam konteks ini, kekuasaan dan politik kebahasaan seharusnya dijalankan dengan perspektif superdiversity (Quinn, 2012; Sze et al, 2015), yakni menghargai dinamika, agama, dan identitas penutur bahasa di seluruh wilayah Nusantara.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...