HomeOpiniBahasa Berdaulat, Pendidikan Bermutu

Bahasa Berdaulat, Pendidikan Bermutu

Oleh Ahmad Arianto

(Widyabasa di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah)

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 03 Mei 2025

Bahasa mencerminkan bangsa. Ungkapan ini tentu sarat makna. Bahasa bukan saja perkara komunikasi, melainkan lebih dalam lagi pada cerminan identitas budaya dan karakter suatu bangsa. Cara orang berbicara dengan menggunakan pilihan kata, struktur kalimat, hingga ekspresi tubuh menunjukkan nilai-nilai kearifan dan lebih jauh lagi menunjukkan bangsanya.

Cara bertutur di negara timur sangat dipengaruhi oleh tingkatan sosial dan relasi antarindividu, sedangkan di negara barat, cenderung bertutur dengan gaya bahasa yang to the point, egaliter, dan tanpa terlalu banyak basa-basi.

Sebagai bangsa timur, Indonesia tentu memegang teguh kesantunan dan hierarki dalam bertutur. Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang digunakan dalam pergaulan formal dan informal turut mendukung gaya berbahasa ketimuran.

Sapaan ”kamu” tentu diungkapkan kepada lawan bicara yang secara sosial memiliki derajat setara atau di bawahnya. Akan terasa aneh jika kita menyapa orang yang lebih tua dengan menyebut ”kamu”.

Masuknya globalisasi turut andil membawa budaya dan bahasa asing masuk ke Indonesia dan memengaruhi cara kita berbahasa. Di ruang publik, media sosial, bahkan percakapan sehari-hari dipenuhi dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Akibatnya, banyak orang mulai meninggalkan bahasa Indonesia dan tergoda untuk mencampuradukkan bahasa. Kita lebih sering mendengar atau bahkan mengucapkan kata meeting, deadline, feedback, follow up, dan schedule dibandingkan kata rapat, batas waktu, umpan balik, tindak lanjut, dan jadwal.

Baca juga Pendidikan Kita Memang Telah Usang

Alih-alih menggunakan kata konfirmasi, menyerahkan, peluncuran, pemutakhiran, unduh, dan unggah, bahasa dalam persuratan kerap menggunakan ungkapan confirm, submit, ground breaking, update, download, dan upload.

Salah satu upaya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, untuk meminimalkan dampak snobisme bahasa asing ialah dengan mencanangkan gerakan Trigatra Bangun Bahasa melalui pengutamaan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, dan penguasaan bahasa asing.

Salah satu agenda penting dalam gerakan pengutamaan bahasa negara ialah Peluncuran Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia bertajuk ”Menjaga Kedaulatan Bahasa Negara” yang digelar oleh Kemendikdasmen bekerja sama dengan Komisi X DPR RI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Dalam Negeri, dan Dewan Pers.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 25 April 2025, di Plaza Insan Berprestasi, Kemendikdasmen. Selain sebagai bentuk sosialisasi kebijakan, peluncuran ini juga bertujuan untuk memasyarakatkan substansi peraturan menteri mengenai kedaulatan bahasa serta mendorong keterlibatan aktif para pemangku kepentingan dan masyarakat dalam mengimplementasikan pengawasan bahasa.

Baca juga Sasaran Kemarahan Itu Bernama Sekolah

Upaya konkret ini menjadi langkah strategis untuk menyatukan pandangan guna mengembalikan sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia di berbagai ranah. Keterlibatan aktif para pemangku kepentingan menunjukkan bahwa pengutamaan bahasa negara bukan sekadar wacana, melainkan gerakan bersama yang mencerminkan semangat nasionalisme.

Diharapkan, pengawasan ini dapat menjadi titik balik dalam menempatkan bahasa Indonesia secara terhormat di ruang-ruang publik serta menghidupkan kembali rasa bangga berbahasa di tanah air sendiri.

Bahasa inklusif untuk pendidikan progresif

Pengutamaan bahasa Indonesia menjadi bagian integral dari upaya mewujudkan pendidikan yang bermutu dan merata. Penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah tentu menjadi fondasi utama dalam proses belajar-mengajar yang inklusif, efektif, dan progresif.

Bahasa Indonesia yang digunakan secara baik dan benar mampu menjangkau lebih banyak kelompok tanpa bias bahasa. Oleh karena itu, peluncuran pedoman ini bukan hanya soal kebahasaan, tetapi juga soal komitmen bersama terhadap pendidikan.

Makin banyak pemangku kepentingan dan elemen masyarakat yang sadar dan tergerak untuk mengawal pelaksanaan pengawasan bahasa tentu makin tegak rasa nasionalisme dan lebih dalam lagi makin merata mutu pendidikan nasional.

Guna memperkuat peran bahasa Indonesia dalam pendidikan dan bahasa sebagai penghela ilmu pengetahuan perlu ada dorongan penguatan materi kebahasaan ke dalam kurikulum pembelajaran sejak jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Langkah ini bukan sekadar soal kemampuan berbahasa secara teknis, melainkan juga penguatan nalar, etika komunikasi, dan penanaman nilai-nilai kebangsaan. Dengan demikian, bahasa Indonesia tidak hanya hadir sebagai mata pelajaran, tetapi juga menjadi instrumen utama dalam membentuk cara berpikir kritis dan ekspresif, sekaligus memperkokoh semangat inklusivitas dalam dunia pendidikan yang kian dinamis.

Dinamika menjaga bahasa dalam pendidikan

Walakin, menjaga kedaulatan bahasa negara tidak semudah membalik telapak tangan. Penguatan bahasa Indonesia sebagai instrumen utama pendidikan menghadapi dinamika yang kompleks, mulai dari rendahnya kesadaran penuturnya hingga dominasi bahasa asing.

Daya dobrak globalisasi turut serta menciptakan tren bahasa global dalam lingkungan yang belum memiliki akar nasionalisme yang kuat. Masyarakat lebih sering membaca, mendengar, dan melihat penggunaan bahasa asing sehingga akan terpatri dalam pikiran.

Kelengahan itu didukung pula oleh tokoh masyarakat, pejabat, selebritas, dan pemengaruh yang justru lebih sering menggunakan bahasa asing dalam pidato, unggahan media sosial, atau komunikasi publik. Keteladanan berbahasa ini penting karena masyarakat cenderung meniru gaya berbahasa tokoh panutannya.

Keleluasaan berbahasa asing itu juga didorong oleh kurang maksimalnya regulasi kebijakan pengawasan terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Penegakan aturan tentang kewajiban penggunaan bahasa Indonesia di papan nama, dokumen resmi, dan layanan publik kerap longgar.

Baca juga Memperhatikan Ruang Aktual Pendidikan

Dinamika itu disokong pula dengan gengsi bahasa. Bahasa asing mendapatkan privilese dibandingkan dengan bahasa Indonesia dengan beragam alasan, mulai dari menandakan status sosial tinggi, pendidikan baik, hingga profesionalisme. Walhasil, bahasa Indonesia dicitrakan sebagai bahasa kelas dua, kurang mengikuti zaman, dan kurang internasional.

Selain faktor eksternal, kita juga perlu berkaca pada faktor dari dalam yang turut andil mengikis rasa nasionalisme berbahasa. Keterbatasan sumber daya dan pelatihan mengakibatkan kualitas pengajaran bahasa Indonesia belum maksimal. Keterbatasan ini ”berpartisipasi” dalam kemampuan dan rasa bangga berbahasa Indonesia sesuai dengan harapan.

Inovasi pembelajaran bahasa juga perlu digalakkan karena pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah sering dianggap membosankan dengan metode yang kurang variatif dan tidak kontekstual. Kelalaian ini secara langsung ataupun tidak langsung menjauhkan siswa dengan bahasa Indonesia, baik secara emosional maupun intelektual.

Semangat tak pernah padam

Meskipun banyak halang merintang, ”di mana ada kemauan, pasti di sana ada jalan”. Hambatan itu harus dipandang sebagai tantangan. Makin terjal tantangan, makin puas mengukir keberhasilan. Perlu kerja sama, kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas antarpihak untuk bersama-sama mendukung ketercapaian kedaulatan bahasa negara demi kemajuan pendidikan yang bermutu dan merata bagi semua kalangan.

Gerakan Cinta Bahasa Indonesia juga perlu digelorakan sebagaimana telah dicanangkan gerakan lain, seperti Cinta Produk Indonesia, Bela Negara, Bela Pengadaan, dan gerakan serempak lain yang turut mendukung rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Ketika setiap individu, institusi, dan pemangku kepentingan mengambil peran dalam penguatan bahasa Indonesia, kita sedang menenun masa depan pendidikan yang lebih bermutu dan berkarakter.

Dengan keyakinan bahwa bahasa adalah kekuatan, mari bersama-sama menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama yang membentuk logika berpikir, memperkuat etika bertutur, dan mengukuhkan identitas bangsa. Meskipun jalan tak selalu mulus, selama ada komitmen dan kerja bersama, tentu kita mampu menempatkan bahasa Indonesia di tempat yang semestinya di tengah derasnya arus zaman.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...