Pandit Terorisme Itu “Pensiun Dini”
Oleh: M. Syafiq Syeirozi, bekerja di AIDA, Lembaga nonprofit di mana Solahudin merupakan salah satu pendiri dan pembinanya
Zaman 1990-an, setiap penggila bola (gibol) tentu berat hati jika harus melewatkan siaran langsung Liga Italia Seri A di RCTI saban Minggu malam. Kala itu liga bola negeri Spaghetti masih rangking wahid di kalangan tifosi bola Indonesia. Salah dua komentatornya yang saya idolakan adalah Kusnaeni alias Bung Kus dan Tomi Welly alias Bung Towel (terlepas pernyataan-pernyataan mutakhirnya kerap menyulut kontroversi).
Keduanya sangat piawai dalam profiling masing-masing pemain. Misalnya, sosok Roberto Baggio berasal dari akademi bola A, capaiannya bla-bla…, hijrah ke klub B meraih trofi gelar pribadi ini dan itu, lantas direkrut klub C hingga kemudian menjadi pemain terbaik dunia. Anda tentu tidak bisa mengomparasikan kompetensi tersebut dengan situasi kini yang cukup klik chatgpt, gemini, atau syaikh Google. Belakangan, sosok seperti Bung Kus dan Bung Towel dilabeli sebagai pandit bola.
Itu di sektor bola. Saya tak sedang membahasnya di sini.
Sepuluh tahunan silam, ketika saya mulai menggumuli isu ekstremisme kekerasan, saya terpukau dengan sosok bernama Solahudin. Dalam salah satu forum di mana ia bertindak sebagai narasumber, seorang peserta menanyakan kiprah seorang narapidana teroris (napiter) kepadanya.
Sebagaimana Bung Kus dan Bung Towel, Solahudin secara lugas menjelaskan profil individu yang ditanyakan itu. Dari latar keluarganya yang memang punya “darah biru” dalam jagat ekstremisme kekerasan, kemudian pendidikan, proses ekstremisasi, jaringan gerakan, keterlibatannya dalam aksi-aksi kekerasan berbasis ideologi, bahkan hingga faktor disengagement kala menjalani hukuman di Lapas. Sebagai pemula, saya langsung celetuk, “keren banget ini orang.”
Saya mengenal Solahudin via bukunya, “NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia” terbitan Komunitas Bambu tahun 2011. Buku yang sempat dikritik oleh sebagian akademikus lantaran tidak jelas disiplin ilmu dasarnya, apakah sosiologi, sejarah, atau psikologi. Toh, buku itu lantas diterjemahkan ke versi Inggris bertajuk “The Roots of Terrorism in Indonesia: from Darul Islam to Jema’ah Islamiyah,” diberikan pengantar oleh indonesianis kenamaan, Greg Fealy, diterbitkan Cornell University Press, 2013. Sebagaimana Greg dalam pungkasan pengantar buku, kepada setiap orang yang ingin mempelajari terorisme, saya selalu merekomendasikan buku tersebut, lantaran paling kafah menelusuri akar dan perkembangan terorisme di Indonesia.
Solahudin juga kerap diundang mengisi ceramah di beberapa kampus luar negeri. Pernah dalam suatu perjalanan kereta api, ia tertawa sendiri melihat rekaman ceramahnya di Australia atau Singapura –saya lupa tepatnya. Ciri khasnya yang berapi-api tak luntur dengan aksen Ingsun (Inggris Sunda) yang kental.
Tak ayal nama Solahudin telah menjulang di kalangan pengkaji dan pegiat kontraekstremisme kekerasan kala saya bisa berinteraksi langsung dengannya. Kang Solah atau Kang So, demikian saya menyapanya memakmumi panggilannya yang populer, “hanya” Sarjana Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun sejumlah petinggi negeri kerap memanggilnya “Prof”. Ada pula yang menempelinya Dr (doktor). di depan namanya pada flyer-flyer promosi acara diskusi publik. Kang Solah tak pernah menghiraukannya karena ia tipe “manusia HP bukan casing.” Baginya yang penting adalah isi kepala bukan dandanan rambut. Maka sangat jarang ia berpenampilan necis perlente.
Pelabelan itu dilekatkan karena kualitas karya-karyanya. Sebagai mantan jurnalis, bahkan ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), ia mampu meyakinkan para narasumber untuk memberikan informasi yang dibutuhkan, kemudian menjalankan metode olah data riset yang disiplin untuk melahirkan sajian data dan analisis yang akurat.
Dengan kompetensinya yang diakui publik, Kang So tak duduk nyaman di atas menara gading. Selama bertahun-tahun ia merawat hubungan baik dengan banyak mantan pelaku ekstremisme kekerasan dan terorisme, membantu serta mendukung disengagement maupun pertobatan ideologis mereka, secara materiel maupun imateriel. Kang So juga membantu instansi pemasyarakatan yang sempat kerepotan dalam membina para napiter.
Kepada saya, beberapa Waliter (sebutan bagi petugas Lapas yang membina napiter) mengakui jasa besar Kang Solah dalam merumuskan pola penanganan napiter yang simpel dan efektif, demi mencegah ekstremisasi di Lapas serta mengantarkan proses reintegrasi dan resosialisasi napiter. Ia tak segan merogoh kantongnya sendiri menggelar pelatihan-pelatihan bagi Waliter. Ini keistimewaan personal Kang So; dermawan.
Soal kedermawanannya, saya yakin orang-orang di lingkarannya tak ada yang meragukan penilaian subyektif ini. Ia mendirikan dan mengembangkan pondok pesantren bagi anak dhuafa di Depok, membiayai pendidikan beberapa orang yang saya kenal, dan gemar mentraktir hal-hal receh untuk menyenangkan anak-anak muda yang dikenalnya.
السخي قريب منَ اللهِ قريب من الناس قريب من الجنة بعيد من النار، وإن البخيل بعيد منَ اللهِ بعيد من الناس بعيد من الجنة قريب من النار، وجاهل سخي أحب إلى الله من عابد بخيل، وأدوى الداء البخل
“Orang dermawan dekat dengan Tuhan, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang kikir jauh dari Tuhan, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang dermawan yang bodoh lebih dicintai Tuhan daripada ahli ibadah yang kikir. Dan kekikiran adalah penyakit yang paling melemahkan” (HR. Tirmidzi).
Saya menyaksikan Kang So sebagai sosok salih sosial dan personal. Ia muslim taat yang menjalankan kewajiban-kewajibannya. Kepada saya ia pernah bilang, “Gue suka sama elu, Fiq. Elu tetap nunjukin identitas sebagai anak NU, tetap rajin shalat. Ada teman gue orang NU tapi shalatnya ngaco.” Tentu saya sedih mendengar pernyataan itu.
Sekira dua tahun terakhir Kang Solah menulis buku “dari JI ke ISIS”. Namun proyek tersebut terjeda oleh deklarasi pembubaran Jamaah Islamiyah (JI) pada 30 Juni 2024. Tak ingin kehilangan momentum, ia lekas mengabadikannya dalam catatan. Verba volant scripta manent (ucapan lenyap, teks abadi). Tampaknya Kang So mengimani pepatah latin itu. Maka lahirlah “JI Sampai NKRI: Deradikalisasi Kolektif Jemaah Islamiyah” terbitan Komunitas Bambu, 2025.
Belakangan ia kembali melanjutkan proyeknya yang tertunda itu sembari tetap menghadiri undangan-undangan ceramah. Rabu, 24 Desember 2025 saya mengobrol dengannya melalui fitur chat WhatsApp mengabarkan rencana kegiatan FGD di Bandung pada Senin 29 Desember 2025.
“Bungkus,” ia menjawab singkat. Kata itu menjadi percakapan terakhir kami. Jumat pagi, 26 Desember 2025, saya kirimkan undangan resmi melalui chat WA namun tak dibacanya. Sesaat setelah azan ashar berkumandang saya menerima chat di grup pertemanan WA, “Innalillahi wa innailaihi raji’un. Telah meninggal dunia Bapak Solahudin.”
Saya bergegas menuju rumahnya di kawasan GDC Depok, tak jauh dari gubuk saya di Pancoran Mas. Bukan untuk takziyah melainkan memastikan kebenaran kabar tersebut. Tiba di kediamannya, ART-nya membenarkan kabar tersebut dan sedang menyiapkan perlengkapan tajhiz jenazah. Kang So menghembuskan nafas terakhir pada usianya yang ke-55 tahun di apartemen yang kerap menjadi lokasi uzlahnya.
Saya langsung teringat sabda Nabi Muhammad Saw:
موت الفجأة راحة للمؤمن
“Kematian mendadak adalah relaksasi bagi seorang mukmin” (HR. Ahmad).
Kang Solah sosok sederhana, tak suka merepotkan orang lain. Saat diundang ceramah di luar Jakarta, ia tak pernah minta fasilitas neko-neko. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Jika lokasi acara tak jauh dari stasiun kereta atau bandara, ia memilih jalan kaki yang memang hobinya. Cara kematiannya seolah ingin menunjukkan karakter tersebut.
Jumat malam itu pula jenazah Kang Solah langsung dishalatkan dan dimakamkan. Saya ikut meletakkan jasadnya di atas tanah yang menjadi lokasi peristirahatan abadinya, seraya membatin, “Selamat jalan, Kang. Semoga Allah mengizinkan kita untuk ngopi dan nyebat bareng sambil ngobrol ngalor-ngidul lagi kelak.”







