HomeOpini”Reengineering” Pendidikan Harmoni dan...

”Reengineering” Pendidikan Harmoni dan Refleksi Akhir Tahun

Oleh Syamsul Ma’arif, Guru Besar UIN Walisongo, Pengasuh Pesantren Riset Al-Khawarizmi Semarang, dan Penerima Dana Hibah Penelitian Mora The Air Funds Kemenag RI-LPDP (2024-2026)

Artikel ini dimuat di Kompas.id pada 28 Desember 2025

Di pengujung tahun 2025, semua anak bangsa harus segera melakukan pertobatan nasional, introspeksi dan refleksi diri menatap kehidupan yang lebih harmonis. Berbagai problematika yang mendera NKRI harus segera dicarikan pemecahan secara komprehensif. Mengharuskan antisipasi serta kewaspadaan secara kontinu—demi merealisasikan impian mewujudkan impian Indonesia Emas 2045.

Pemerintah bersama lintas sektor harus berkolaborasi dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan efektivitas penyelesaian masalah. Mengatasi sejumlah patologi sosial yang mengancam stabilitas dan keamanan nasional. Bahkan bisa segera keluar dari sejumlah krisis, seperti politik, ekonomi, dan lingkungan.

Bukankah masyarakat sekarang sedang menghadapi persoalan kompleks semisal banjir bandang dan bencana alam yang sedang menghantam di sejumlah daerah? Di samping fenomena ketidakadilan sosial, disintegrasi budaya, pudarnya nilai-nilai lama dan munculnya konflik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Serta meningkatnya wajah intoleransi, kekerasan, dan meningkatnya penyebaran ekstremisme melalui platform digital, sebagaimana kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta (7/11/2025).

Relefan dengan konteks ini, maka pendidikan harus diperhatikan secara serius; menjadi alat utama untuk menciptakan kesadaran dan solusi. Pendidikan harus terintegrasi dengan isu-isu keberlanjutan, seperti perubahan iklim, keadilan sosial, dan konservasi sumber daya alam.

Saatnya memikirkan kembali dan merekayasa pendidikan yang visibel dan benar-benar berdampak. Pendidikan yang memberikan ruang penyadaran, egaliter, kritisisme, dan mengembangkan imajinasi anak. Bukan sekadar logika tak bermakna (semacam delusi pengetahuan) atau inert ideas, kata Alfred North—yang tak terhubung dengan realitas dan persoalan masyarakat.

Sekaligus tahun baru harus dijadikan momen strategis merealisasikan sejumlah transformasi pendidikan yang sedang digaungkan pemerintah. Seluruh kementerian dan lembaga pun harus bersinergi untuk memperkuat program pendidikan nasional. Semisal kurikulum cinta dan inovasi pendidikan untuk penguatan kesadaran ekoteologi yang digagas Kemenag RI.

Kenapa kurikulum cinta urgen diimplementasikan?

Tiada lain agar pendidikan semakin berdampak dan semakin berkontribusi positif pada masyarakat luas. Pendidikan bukan sekadar mengejar parameter ranking dan internasionalisasi. Sementara para ilmuwan dan sivitas akademika seperti hidup di menara gading, sebagaimana kritikan sejumlah ahli. Namun, pendidikan diharapkan lebih peduli pada lingkungan sekitar dan mampu mencapai ekosistem kehidupan yang harmonis, seimbang, dan keberlanjutan.

Tidak ada salahnya pendidikan mem-branding diri dan memperkuat daya saing kelembagaan, menghadirkan layanan yang setara, modern, dan berkeadilan. Serta mengonfigurasi hubungan sinergis antar-berbagai pihak (networking) demi keberlanjutan dan resiliensi pendidikan.

Namun, pendidikan harus mempunyai kurikulum berbasis ekologi dan ramah lingkungan (green schools). Pendidikan harus membangun budaya kerja, perubahan mindset, menjaga keseimbangan dan keberlanjutan ekosistem. Pendidikan secara konsisten memperkokoh kecintaan pada negara, menjaga budaya, merawat alam, menjaga toleransi, dan merayakan kemajemukan bangsa.

Lebih-lebih dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, pendidikan harus menyadarkan kembali kekuatan bangsa dengan modalitas keragaman agama, etnis, budaya, dan bahasa. Mampu memperkuat identitas sosial dan kebudayaan masyarakat; membangun peradaban, mempertahankan kohesi sosial, menumbuhkan kepercayaan, kasih sayang, saling peduli, dan menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan.

Reorientasi pendidikan

Langkah penting yang perlu diupayakan agar pendidikan harmoni, kurikulum cinta dan inovasi pendidikan untuk penguatan kesadaran ekoteologi berhasil. Pendidikan harus melakukan pemikiran ulang mendasar (reengineering) dan pergeseran paradigma dari antroposentris ke teo-antroposentris.

Pendidikan berfungsi strategis mengubah perilaku manusia, memaksimalkan, dan mengangkat potensi yang dimiliki setiap lokalitas yang mengacu pada nilai filosofi kehidupan yang seimbang. Sehingga Seyyed Hossein Nasr, dalam buku Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man, mengharuskan pendidikan melakukan reorientasi manusia sadar dengan sifat transparan dari dunia yang mengitarinya dan dimensi transenden yang hadir di setiap situasi kosmis.

Reengineering pendidikan harmoni dan keberlanjutan ekosistem sangat penting supaya pendidikan mampu menawarkan jalan damai, membangun ketahanan budaya dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi berbagai krisis.

Sekaligus melakukan reorientasi pendidikan theomorphis yang bersifat holistik-integratif. Maksudnya, pendidikan berupaya membangkitkan totalitas kesadaran manusia pada fitrahnya sebagai ’Abdullah dan Khalifatullah.

Menawarkan pengetahuan yang bersifat luas dan spiritualistik-humanistik. Memandang dunia bukan pada tataran alam materialistik dan mekanistik belaka. Melainkan terdapat dunia lain yang tidak bisa ditangkap dengan kekuatan nalar dan harus kita yakini keberadaannya sehingga menimbulkan harmoni antara manusia dengan Tuhan dan alam sekitarnya.

Nilai aksiologis pendidikan harus bercita-cita luhur mencetak manusia seutuhnya. Membangun manusia berkualitas dan memiliki kemerdekaan sejati. Dalam konteks ini, pendidikan direkayasa sedemikian rupa untuk memproduk manusia dengan kualitas lebih tinggi. Mempersiapkan pendidikan bukan sekadar institusi normatif, melainkan sebagai agen perubahan sosial, ruang plural, dan medium dialog antarbudaya.

Dalam prosesnya, pendidikan harus mampu melahirkan generasi penuh keteladanan dan pantulan sempurna dari akhlak Tuhan. Masyarakat yang kuat penuh cinta dan penghormatan pada sesama dan alam semesta. Pendidikan tidak mengucilkan peran Tuhan dan agar manusia tidak terjebak arogansi (single entity).

Dalam wacana sosiologi, multikultural, dan antropolog—pendidikan nasional, termasuk pendidikan agama, sudah semestinya bersifat substantif, inklusif, emansipatif, dan tranformatif. Pendidikan menjadi ruang interseksi yang mengolah warisan, membuka dialog, dan menciptakan makna baru.

Dalam kacamata teori pendidikan kritis, saatnya pendidikan menekankan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk membebaskan individu dari penindasan dan ketidakadilan. Pendidikan dapat memberikan alternatif atau memberdayakan masyarakat untuk menghadapi tantangan global seperti ketidakadilan lingkungan dan sosial, termasuk kebijakan yang mengaturnya (Freire, 2001). Sementara dalam prespektif konstruktivisme pendidikan perlu menekankan bahwa pengetahuan dibangun berbasis pengalaman dan interaksi dengan lingkungan sekitar dan pengetahuan terus berevolusi (Piaget, 1970).

Merealisasikan pluralisme kovenantal

Seiring dengan perlunya meningkatkan sikap toleransi dan menumbuhkan spiritualitas cinta di hati masyarakat. Sekaligus menghadirkan prototipe khas nusantara dengan karakter positif dan inklusif serta ekspresi kebaragamaan masyarakat yang ramah, toleran, saling menghormati, hidup rukun, dan penuh harmoni.

Semua masyarakat tanpa terkecuali, terutama melalui pintu pendidikan, perlu menerapkan pluralisme kovenantal sebagai kerangka dasar yang kokoh bagi negara dan masyarakat mencegah kekerasan, mengatasi bahaya otoritarianisme dan perilaku diskriminatif (Ali, 2022). Membangun kultur pendidikan sebagai jembatan perdamaian dan saling pemahaman. Menghadirkan relasi sesama manusia yang egaliter, meaningful love, membangun spirit kebersamaan. Serta mengikis fanatisme dan egoisme menuju kemandirian, kesejahteraan, dan kebahagiaan hakiki.

Semua pihak perlu senantiasa bersama-sama menjunjung tinggi hak asasi manusia, menjamin kebebasan berekspresi dan berpendapat, serta bebas mengekspresikan kepercayaan dan agama di Indonesia, sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Semua elemen masyarakat harus berkontribusi positif bagi negara dan bangsa dengan menggunakan prespektif beragama moderat. Untuk keperluan ini, penguatan literasi keagamaan mutlak dilakukan. Agar masyarakat senantiasa mempunyai kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengaplikasikan ajaran agama secara tepat dan moderat dalam memahami perbedaan dan perjumpaan agama di kehidupan sosial, politik, dan budaya melalui keberagaman sudut pandang.

Termasuk dengan memberikan kemerdekaan bagi guru dan siswa bisa menggali potensi masing-masing. Dalam pendidikan, semua guru benar-benar diberi kebebasan merancang proses belajar mengajar, menerapkan berbagai strategi pembelajaran. Menjauhkan kekerasan dalam proses belajar dan mengajar. Stop bullying dan start loving.

Harapannya, mulai tahun depan dunia pendidikan akan dipenuhi manusia berkarakter baik, penuh cinta. Mempunyai relasi harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Sehingga tak akan terulang kembali berbagai fenomena deforestasi dan hancurnya ekosistem, kriminalisasi guru, dan berbagai bentuk kekerasan, baik verbal atau nonverbal, yang dapat melukai serta menyebabkan guncangan psikologi pada anak.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...