HomePilihan RedaksiTetap Tangguh di Era...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.

Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang besar. Banyak warga bertahan di pengungsian, menanti redanya bencana dan datangnya bala bantuan kemanusiaan.

Bencana Sumatera, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Utara dan kawasan lainnya merupakan ujian ketangguhan kita sebagai bangsa dan negara. Kita bisa melihat, negara awalnya gagap menyikapi bencana Sumatera awal Desember 2025 lalu. Pemerintah tidak menyangka, bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah menyapu desa-desa dan kota di sepertiga wilayah Sumatera.

Baca juga: Tantangan Perdamaian di Tahun 2026

Perlahan tapi pasti, pemerintah, TNI-Polri dan sejumlah relawan kemanusiaan, bahu membahu mencari para korban dan membantu warga mengungsi. Semua menyaksikan fakta yang hampir tidak masuk akal, bukan hanya air yang turun dari gunung dan meluap dari sungai, melainkan juga lumpur dan kayu gelondongan hasil deforestasi korporasi. Kita pun dibuat sadar, alam telah marah dengan kerusakan ekologi akibat tata kelola hutan yang tidak tepat.

Ketika pemerintah dan para relawan berjibaku menghadapi bencana Sumatera, pulau Jawa pun dilanda banjir dan cuaca ekstrem. Semua bencana alam yang melanda negeri ini merupakan ujian agar kita sebagai bangsa dan negara harus tetap tangguh.

Pertama, pemerintah dan aparat keamanan harus memastikan semua pengungsi mendapatkan layanan hunian, medis, psikologis dan psikososial yang memadai untuk mereka bertahan dan dan tetap tangguh di masa pascabencana. Pengawasan terhadap bantuan juga perlu ditingkatkan untuk mencegah kebocoran dan korupsi. Dana-dana kemanusiaan harus bisa dipertanggungjawabkan agar bantuan benar-benar tepat sasaran.

Baca juga: Pahlawan untuk Perdamaian 

Kedua, aparat keamanan juga harus memastikan semua pihak yang melakukan pelanggaran hukum yang berakibat pada kerusakan ekologi dapat bertanggungjawab baik dalam bentuk tanggungjawab hukum maupun sosial. Penegakan hukum dan tertib sosial perlu ditegaskan sebagai bentuk hadirnya negara di tengah-tengah masyarakat yang sedang lemah dan bangkit dari keterpurukan.

Ketiga, sebagai masyarakat, kita harus bisa menerima musibah dan bencana dengan ikhlas, sebagai bentuk takdir dari Tuhan pemilik jiwa-jiwa yang telah pergi, harta benda dan alam semesta. Dengan menerima bencana sebagai takdir, hal itu akan menjadi awal psikologis yang bagus untuk bergegas bangkit.

Kerjasama pemerintah, aparat keamanan, relawan dan masyarakat merupakan kunci untuk tetap tangguh di masa-masa sulit. Semua pihak harus saling percaya dan mendukung untuk memulihkan kondisi masyarakat agar kembali beraktivitas normal. Dengan bersatu dan bersinergi, bangsa dan negara akan tetap tangguh di masa bencana.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education;...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...