HomeOpiniPuasa dan Kedermawanan Otentik

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN Bukittinggi

Artikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026

Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang ibu rumah tangga di Kebumen, Jawa Tengah, 6 Januari 2026, menjadi sebuah fakta telanjang nan paradoks wajah kedermawanan kita. Peristiwa tragis lagi memilukan itu terjadi di Indonesia yang dinobatkan tujuh kali berturut-turut sebagai negara paling dermawan. Begitu juga dengan pengumpulan dana sosial umat tiap tahun grafiknya menunjukkan tren positif. Namun, angka bunuh diri karena latar problem ekonomi juga naik.

Kondisi paradoks di atas memunculkan pertanyaan, apa yang salah dalam tata kelola kedermawanan kita? Kenapa perilaku care ke sesama, memberikan sumbangan, bantuan, dan pertolongan sebagai manifestasi kedermawanan tidak berdampak nyata menyelamatkan orang miskin dari beban berat impitan ekonomi?

Kedermawanan di level kuantitatif

Tiap tahun jumlah dana sosial umat yang berhasil dihimpun menunjukkan kenaikan signifikan. Ambil contoh, pada 2022, dana zakat yang berhasil dihimpun mencapai Rp 22,475 triliun. Dua tahun kemudian, total dana sosial keagamaan terkumpul naik menjadi Rp 32,3 triliun. Tren positif ini juga terjadi pada pengumpulan wakaf uang (cash waqf) dalam tiga tahun terakhir. Angka tersebut bisa lebih besar jika ditambah dengan jumlah zakat dan dana sosial lainnya yang diserahkan langsung ke penerima dan itu tidak tercatat serta tidak dipublikasi.

Baca juga : Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Dana sosial umat yang besar di atas sejatinya tentu teralokasi ke masyarakat yang berekonomi lemah/dhuafa, orang-orang yang masuk kelompok miskin ekstrem dan yang di bawah garis kemiskinan serta rentan miskin. Semua mereka memiliki problem serius dalam kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs).

Atensi mesti diberikan kepada kelompok miskin. Hal ini bukan saja untuk tujuan membantu menguatkan ekonomi mereka, yang lebih penting dari itu adalah sebagai upaya menyelamatkan jiwa mereka. Orang yang berada dalam kemiskinan mudah dan cenderung menjadi sasaran empuk intimidasi, eksploitasi, dan marginalisasi. Kelemahan ekonomi membuat orang miskin kesepian di ruang sosial yang ramai dan terpingirkan pada relasi kuasa yang timpang.

Melihat kenyataan di atas dapat dikatakan kedermawanan kita baru di level kuantitatif dan populis. Aksi kedermawanan belum memiliki dampak inklusif dalam meringankan beban ekonomi yang kian berat mengimpit kehidupan kaum papa.

Dari lingkungan mikro ke makro

Bagaimana sebaiknya mengelola kedermawanan? Setiap agama memiliki ajaran kedermawanan dan kepedulian ke sesama. Agama Yahudi mengenal istilah tzedakah (memberi dengan sukacita dan tulus). Di Kristen dikenal ajaran memberi dengan sukacita, dan Islam memiliki amal sedekah, infaq, zakat, sebagai bentuk penyucian harta dan bukti cinta dalam persaudaraan.

Baca juga : Tetap Tangguh di Era Bencana

Model kedermawanan Islam dibangun dari motivasi intrinsik untuk menjalin persaudaraan. Jalinan persaudaraan akan menjadi determinan utama kesempurnaan iman seseorang. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW, ”Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedermawanan lebih difokuskan pada kelompok target yang paling terdekat/qurba ialah tetangga/jiran. Islam memerintahkan agar berbuat baik ke tetangga, berbagi, punya perhatian, suka memberikan pertolongan dan meminjamkan fasilitas (QS.4: 36). Rasul SAW bersabda, ”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berbuat baik ke jiran/tentangga” (HR Bukhari dari Abi Hurairah). Batas radius tetangga dimaksud adalah dalam jangkar 40 rumah.

Perhatian pada kelompok terdekat menyiratkan bahwa membangun lingkungan sosial dan ekonomi yang lebih besar (makro) diawali dari lingkup skala terdekat dan terkecil (mikro). Pada skala ini lebih memungkinkan perilaku berbagi, punya perhatian, dan suka memberikan pertolongan sebagai aktualisasi kedermawanan dan kepedulian tepat sasaran dan berdampak.

Baca juga : Belajar Berkesadaran

Mengabaikan tetangga yang miskin merupakan sikap yang kontra-produktif dengan keimanan dan mereduksi kemuliaan pribadi. Secara tegas Rasul menyebutkan, ”tidak masuk surga orang yang tidak berbuat baik ke tetangga” ( HR Muslim dari Abi Hurairah). ”Orang yang berbuat baik kepada tetangga berarti ia meningkatkan sendiri derajatnya di sisi Allah” (HR Ahmad dari Abi Hurairah).

Perilaku kedermawanan di atas dapat diproduksi melalui ibadah puasa. Orang yang berpuasa merasakan langsung kondisi lapar, haus, dan lemah, yang merupakan kondisi keseharian orang miskin. Gaya hidup orang yang menjalankan ibadah puasa terkontrol dari hidup hedonis dan extravagan.

Dalam durasi 1 bulan kondisi itu dijalani dan menjadi pengalaman diharapkan dapat membentuk kesadaran yang membatin terhadap kondisi serba kekurangan yang dihadapi orang miskin. Kesadaran ini menjadi motivasi lahirnya perilaku kedermawanan yang genuine, bukan instan, dan jauh dari polesan pencitraan sesaat.

Perilaku kedermawanan menjadi salah satu ciri orang yang bertaqwa. Sebagaimana firman Allah, ”orang yang bertawa, yaitu orang-orang yang selalu dan gemar bersedekah/ berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang dapat mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134).

Akhirul kalam, paradoks wajah kedermawanan kita perlu segera dikoreksi. Membantu orang miskin bukan untuk populis dan pencitraan. Lingkungan terdekat dan mikro menjadi kelompok target utama kedermawanan. Melalui ibadah puasa perilaku kedermawanan otentik dapat dibentuk . Selamat menunaikan ibadah puasa.

 

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...