HomeOpiniGuru Bergerak

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G)

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026

Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa yang menjadi tontonan, dan selalu menjadi anak tiri dari anggaran pendidikan. Meski terus ditempa penderitaan, guru dianggap tidak banyak melawan. Namun jika diperhatikan, urutan waktu membuktikan, guru konsisten dalam gerakan. Berbagai aksi dilakukan, kecil dan besar, melalui jalanan atau kanal digital.

Jika kita perhatikan, sepanjang tahun 2025-2026, ada sekitar delapan aksi guru baik di tingkat daerah dan di level nasional. Pada 6 Januari 2025, ratusan guru di Jayapura berdemonstrasi akan tunjangan yang berbulan-bulan tidak cair. Pada 8 dan 15 Januari 2025, guru honorer madrasah berdemonstrasi di Pemkot Cilegon. Pada 13 Januari 2025 ribuan guru dan Tenaga pendidik long march ke Gedung DPRD Jawa Barat. Pada 30 Januari 2025, guru di Sukabumi menolak skema PPPK PW di DPRD Sukabumi. Pada 30 Oktober 2025, gabungan sejumlah organisasi guru berdemonstrasi di Istana menuntut agar guru honorer diangkat menjadi ASN. Pada 11 November 2025, ribuan guru honorer berdemonstrasi di depan Kantor Bupati Musi Banyuasin. Pada 26 Januari 2026, guru madrasah di Tasikmalaya melaksanakan apel akbar. Pada 11 Februari 2026, puluhan ribu guru madrasah berdemonstrasi di Istana dan DPR.

Belum termasuk berbagai upaya yang tidak terlihat, seperti mediasi yang gagal di kantor pemerintahan dan aspirasi yang diberikan dengan cukup sopan. Para guru sudah melakukannya. Pada akhirnya demonstrasi adalah upaya terakhir. Demonstrasi adalah bukti macetnya tata kelola guru oleh pemerintah pusat dan daerah. Artinya delapan aksi yang tercatat media masa ini hanya puncak gunung es bahwa para guru mengalami keresahan yang terus-menerus karena nasib mereka yang makin buruk in this economy.

Kemacetan

Ada beberapa aktor penghambat pergerakan guru. Pertama, pejabat pembuat kebijakan. Masalah kesejahteraan guru yang menahun, membuat para pejabat ini ”terbiasa” dengan keluhan guru sehingga memediasi masalah kesejahteraan seperti business as usual. Selain itu, pejabat yang tidak kompeten biasanya kesulitan merancang rencana kerja lintas kementerian/lembaga sehingga persoalan guru yang dikelola kementeriannya selalu mengalami kebuntuan ketika dibutuhkan koordinasi antarlembaga.

Kedua, ahli pendidikan. Para ahli pendidikan di Indonesia terbagi menjadi dua spektrum tradisional. Yaitu pendukung konsep kebijakan pendidikan masa lampau dan pendukung konsep pendidikan masa kini. Keduanya boleh jadi hanya berganti tempat. Namun yang berbahaya dari kebiasaan para ahli pendidikan ini menjadikan persoalan guru sebagai komoditas wacana, sehingga ketumpulan dalam membaca situasi terbaru sering kali membuatnya ketergantungan untuk menyalah-nyalahkan guru tanpa melihat masalah secara lebih luas.

Ketiga, organisasi guru itu sendiri. Saat ini ada banyak organisasi guru, tetapi yang bersuara untuk guru, masalah-masalah, penderitaan dan aspirasi dari bawah tidak terkonsolidasi dengan baik. Masih ada organisasi guru yang mencoba ”cari aman” karena hubungan mereka lebih dekat dengan pembuat kebijakan daripada nadi mereka sendiri: guru.

Keempat, pejabat struktural di lembaga pendidikan. Para pejabat ini berjenjang dari pemerintah daerah, dinas pendidikan, pengawas, pemilik yayasan, hingga kepala sekolah. Sering kali persoalan guru termediasi oleh perangkat struktural ini. Protes guru sering kali dihambat oleh kepala sekolah yang sulit memberi izin untuk mengungkap masalah di sekolah, dan pemerintah daerah serta dinas pendidikan dengan para pengawas sebagai aktor lapangan yang selalu berusaha mencegah para guru berdemonstrasi. Sering kali guru gagal berdemonstrasi karena malam sebelum aksi sudah ada surat edaran atau surat kaleng dengan ancaman dari pejabat struktural lembaga pendidikan.

Namun, bukan berarti pergerakan guru sia-sia. Masyarakat secara luas mulai memberikan perlindungan terhadap guru dan mendukung mereka. Gerakan ini awalnya adalah tontonan digital yang direproduksi oleh para guru influencer.

Guru “influencer”

Sebelum 2019, migrasi guru ke dunia digital berjalan secara lambat. Namun, sejak Nadiem Makarim menjadi Mendikbud, ia berkomitmen penuh untuk melakukan digitalisasi pendidikan untuk semua aspek kebijakan. Pandemik Covid-19 hanya mempercepat proses tersebut. Migrasi ini awalnya berjalan evolutif, menjadi mobilisasi masif. Guru menjadi aktor digital sekaligus menjadi produk digital itu sendiri. Pada satu sisi, ini melahirkan burn out, dan makin beratnya administrasi digital karena kementerian menuntut lebih banyak atraksi sosial di ruang digital. Namun pada sisi lain, ini melahirkan talenta digital, yang membuat para guru menjadi pemengaruh di media sosial.

Pemengaruh ini terbagi dua. Mereka yang memang dilatih dan dibentuk untuk menjadi corong sosialisasi kebijakan dan mereka yang ikut dalam gelombang selebrifikasi guru. Keduanya sisi ini bertemu pada satu tempat di mana perhatian masyarakat tertuju pada ironi nasib guru. Suka tidak suka, mereka akhirnya perlu memberikan posisi moral terhadap sesama rekan seprofesi. Hal ini, meski ada dorongan ganda demi konten sekaligus komitmen moral, menjadikan dukungan atas nasib guru sebagai kebenaran digital yang jejaknya tidak bisa dibantah.

Penulis mengenal beberapa guru influencer yang konsisten membela sesamanya. Seperti Husein yang mundur dari ASN setelah mendapatkan intimidasi karena melaporkan pungli. Galih Sulistyaningra, guru SD peraih LPDP yang belakangan memberikan pemahaman tentang pendidikan anak, Rizki Rahmat yang konsentrasi tentang merdeka belajar, Alfian Bahri yang selalu mengkritik keras kebijakan pendidikan dan perilaku sesama guru, Ichalago Chaniago yang sering mengomentari nasib guru secara ironis, Guru Gembul yang mengomentari segalanya dan banyak lainnya. Meskipun di antara mereka ada yang sudah berhenti jadi guru, dan tidak selalu membicarakan guru, dalam satu waktu ada upaya memojokkan guru, pada sebuah kasus dan kebijakan tertentu, mereka akan seketika bereaksi untuk membela guru, disengaja atau tidak.

Begitupun beberapa artis, stand up comedy (Abdur dan Kiki), dan penyanyi (Morgan Oey), tidak segan untuk membela guru ketika nasib mereka dipermainkan kebijakan. Terkadang, dukungan luas ini bisa menjadi simalakama. Pada satu sisi ini adalah dukungan atas pergerakan guru, pada sisi lain, ada upaya merebut wacana guru dari guru itu sendiri.

Misal, podcaster Gita Wiryawan yang sering membuka dialog tentang pendidikan dan guru, sama sekali tidak pernah berdialog dengan guru eksisting, bahkan dalam satu sesi khusus mewawancarai tokoh-tokoh terkemuka untuk menyampaikan sosok guru dambaannya. Gita Wiryawan mewawancarai Rocky Gerung sampai Karlina Supeli untuk mendefinisikan ulang guru, tapi guru itu sendiri tidak dihadirkan sebagai subyek yang bisa bersuara atas dirinya sendiri.

Sekilas ini bagus untuk mengidealisasikan guru ke level yang lebih tinggi. Namun pada titik yang krusial, dialog semacam ini lebih pada ”merebut wacana guru” untuk menjadi obyektifikasi konten podcast. Sepengamatan penulis, tidak ada satu upaya pun dari Gita Wiryawan untuk memecahkan persoalan guru selain mengulang-ulang ungkapan bombastis dengan pernyataan bahwa guru layak digaji 40 juta rupiah tanpa ingin memahami dan membongkar lika-liku kesejahteraan guru.

Jalan pergerakan

Ada empat strategi pergerakan guru secara nasional. Pertama, mengonsolidasikan isu masalah guru di daerah dengan nasional. Kedua, merapatkan organisasi guru berbadan hukum dengan forum guru ad hoc. Selama ini forum guru ad hoc hanya bisa mengumpulkan kekuatan dalam jangka waktu pendek karena dibentuk untuk menghadapi satuan kebijakan yang kemudian bubar setelah tujuan tercapai. Pergerakan ini berbahaya karena mereka berbicara atas nama forum tidak resmi. Perikatan dengan organisasi berbadan hukum akan membuat aspirasi guru dari forum ad hoc ini lebih terlindungi.

Ketiga, mendelegitimasi organisasi guru yang cenderung menjadi benteng pemerintah, karena melemahkan pergerakan. Keempat, mengonsolidasi gerakan aksi lapangan dengan media sosial. Sering kali aksi besar tidak ramai di media sosial karena tidak ada konsolidasi yang semestinya menjadi perhatian mendesak. Misalnya, aksi guru-guru madrasah di Istana sepanjang tahun 2026, yang jumlahnya puluhan ribu, tidak ramai di media sosial. Jika saja ini bisa berbarengan, dan dikonsolidasikan dengan influencer guru di atas, kekuatannya bisa lebih besar lagi.

Jika keempat jalan tersebut dilaksanakan, pergerakan guru akan lebih berdampak dan tidak lagi dimediasi oleh angin surga di DPR maupun Istana. Sebab, tugas media sosial untuk mempertahankan isu sampai guru-guru yang aksi di lapangan mendapatkan tuntutannya. Saat ini, seorang guru honorer dan satu organisasi guru sedang bersidang di MK untuk menggugat MBG dalam UU APBN 2026.

Sadar atau tidak, delapan demonstrasi di atas adalah dampak efisiensi ketika anggaran pendidikan diambil oleh MBG. Diambilnya anggaran pendidikan untuk MBG telah merugikan semua guru tanpa terkecuali, termasuk seluruh masyarakat Indonesia. Seandainya semua organisasi guru satu suara dan semua guru, baik guru ASN (PNS, PPPK, PPP PW) maupun guru non-ASN (honorer, swasta, PAUD) juga merapatkan barisan untuk gugatan ini, mungkin hasilnya tidak selalu memuaskan, tapi setidaknya membuktikan bahwa guru bergerak, negeri ini tidak sedang baik-baik saja.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...