Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku
13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan hati, arti berkat-Nya yang aku terima dan rasakan sejauh ini, bahkan arti dari pengkhianatan sekaligus.
Aku bersyukur dan berterima kasih dari peristiwa iman itu karena aku boleh merasakan begitu banyak lika-liku kehidupan yang membuatku semakin kuat dan bertumbuh dalam iman hingga sekarang ini; kalau bukan karena berkat dan rahmat-Nya, aku tidak bisa berdiri dengan kedua kakiku. Delapan tahun lalu, aku hampir roboh. Hari ini aku berdiri dan di tahun-tahun berikutnya, aku berdiri lebih kuat lagi terutama untuk diriku sendiri menjadi semakin kuat.
Aku bukan mau mengingat, apa lagi menangisi serta mendramatisir kejadian pengeboman yang dilakukan sekeluarga; tetapi aku merefleksikan buah-buah roh apa yang dapat aku maknai dari peristiwa iman itu.
Proses penerimaan dari peristiwa iman itu tidak dengan begitu cepat dapat aku pahami dan rasakan, apalagi aku terima menjadi bagian dari cerita dalam diriku. Tidak hanya bekas luka fisik saja yang dapat aku terima, melainkan juga bekas luka mental yang bahkan bisa saja aku rasakan seumur hidupku. Luka itu masih ada, namun luka itu sekarang bukan lagi sebuah belenggu bagiku. Luka itu menjadi pengingat bahwa aku pernah hampir jatuh, tapi Tuhan hadir dan memegang erat tanganku.
12 Mei 2026
Desmonda Paramartha P, Korban bom Gereja Santa Maria Tak Bercela (GSMTB) Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei 2018
