Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta.
Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya untuk bisa menerima kenyataan ada bagian tubuhnya yang cacat akibat terkena ledakan bom terorisme yang terjadi di kawasan Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur, 24 Mei 2017 silam. Namun seiring berjalannya waktu, pada akhirnya Pandu menyadari bahwa bekas lukanya memang tidak mungkin bisa normal seperti sedia kala.
Baca juga: Mengikis Kebencian Menuai Perkawanan
“Saya bisa menerima karena luka saya tidak bisa sembuh seperti semula dan saya harus tetap bisa menatap masa depan saya. Saya laki-laki harus survive untuk anak dan istri saya,” tutur Pandu saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 8 Bandar Lampung yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), November 2024 silam.
Pandu menceritakan dahulu dirinya pernah merasakan lelah berobat dan susah menerima kenyataan akibat terkena ledakan bom terorisme. Ia juga pernah merasakan terpuruk (down) parah. Bahkan, dirinya pernah temperamental, membatasi interaksi sosial dan tidak mau bertemu banyak orang.
“Saya bisa sembuh ketika bertemu AIDA yang mempertemukan dengan komunitas korban lainnya. Titik baliknya saat saya bertemu dengan para korban lainnya, mental saya kembali sehat. Saya ingin dirangkul,” ujarnya. [AS]
