Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali, 12 Oktober 2002 silam.
Sejak saat itu, kehidupan Ni Luh Erniati dan keluarganya mengalami keterpurukan. Ia harus melakukan peran ganda sekaligus sebagai ibu dan ayah bagi dua buah hatinya yang masih anak-anak. “Kisah hidup saya benar-benar terpuruk, waktu itu setiap hari badan yang saya rasakan dingin,” tutur Ni Luh Erniati dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 9 Bandar Lampung yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), November 2024 silam.
Keterpurukan dan beratnya beban yang ditanggung tidak membuat Ni Luh Erniati menyerah dan berputus asa. Ia berusaha untuk tetap tegar menghadapi dan menjalani ujian keterpurukan tersebut. Jika menyerah, ia memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya ke depan.
Baca juga: Generasi Muda Harus Tangguh Hadapi Cobaan
“Satu hal yang membuat saya harus tegar yaitu saya memikirkan anak-anak. Saya hingga berpikir jangan sampai terjadi apa-apa pada diri saya karena anak-anak sudah tidak memiliki ayah dan hanya mempunyai saya,” ujarnya.
Erni, begitu sapaan akrabnya, mengungkapkan pernah ada yang menanyakan kepada dirinya tentang kesulitan yang dialaminya, apakah pernah terbayang untuk melakukan bunuh diri. “Saya jawab tidak sama sekali. Saya harus tetap ada untuk anak-anak saya. Itu yang membuat saya tegar dan selalu berusaha tegar,” tandas Erni. [AS]
