HomeOpiniPendidikan dan Pencegahan Perundungan...

Pendidikan dan Pencegahan Perundungan Digital

Oleh: Yulia Erni
Pengurus PBSI Pidie, Aceh, Alumnus Guru Olahraga SSB Pidie

Menggunakan media sosial (medsos) di era digital saat ini bukan hanya masalah eksistensi atau tren semata, tetapi lebih merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Medsos tidak hanya digunakan sebagai hiburan, sumber informasi terkini, dan tempat berbagi berita penting seperti lowongan kerja, beasiswa, atau dokumen pribadi, tapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan pendapatan.

Banyak pengguna medsos, misalnya, yang mengelola bisnis belanja daring (online shopping), jasa antar jemput, dan bisnis daring lain tanpa perlu membayar tempat usaha fisik yang umumnya menjadi kendala bagi para pebisnis. Selain itu, mereka tidak perlu repot-repot beranjak dari tempat duduk dalam berbisnis. Banyak hal positif yang dapat dilakukan di dunia maya.

Dampak negatif

Namun, seiring dengan aktivitas positif tersebut, muncul juga perilaku negatif, seperti tindakan perundungan (bullying). Pernahkah Anda mengalami perundungan di medsos? Baik itu berasal dari akun asli maupun akun palsu? Dampak yang paling terasa dari perundungan tersebut ialah seseorang merasa tidak nyaman dan bahkan beberapa orang memutuskan untuk mengakhiri hidup. Pertemanan di dunia maya lebih bebas jika dibandingkan dengan di dunia nyata.

Dampak dari perundungan di medsos sebenarnya sangat serius. Beberapa orang memilih untuk bunuh diri karena tidak tahan dengan kondisi yang mereka hadapi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Microsoft, warganet Indonesia merupakan yang paling tidak sopan di antara para netizen negara-negara di ASEAN dalam berperilaku di dunia maya. Mereka sering kali dengan mudah melemparkan komentar yang merendahkan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Baca juga Tahun Baru 1445 Hijriah Umat Islam Harus Berubah Nasib

Korban perundungan tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga tokoh masyarakat yang memiliki pengalaman dan prestasi yang tinggi. Perundungan bukan hanya tentang identitas seseorang, tetapi lebih kepada bagaimana pelaku melihat celah untuk membuat korban merasa tidak nyaman melalui komentar negatif dan penghinaan. Bahkan berita yang bermanfaat pun sering kali menjadi sasaran cemoohan.

Menurut lembaga donasi anti-bullying, Ditch the Label, Instagram adalah medsos yang paling sering digunakan untuk melakukan perundungan daring. Alasan seseorang melakukan perundungan daring yang paling umum, seperti yang diungkapkan dalam riset Broadband Search 2023, ialah menghina penampilan (61%), prestasi akademik (25%), ras (17%), gender (15%), status finansial (15%), dan agama (11%).

Baca juga Oleh-Oleh Haji: Perjuangan tanpa Kekerasan

Perilaku merundung orang lain adalah perilaku yang sulit dimengerti. Pelaku perundungan seperti merasakan kepuasan ketika menjatuhkan dan melihat orang lain menderita. Perilaku ini merupakan bentuk dari kehidupan yang tidak menyenangkan. Jika mereka tidak menyukai seseorang, mengapa mereka membuang-buang waktu, pikiran, dan tenaga untuk menyakiti orang lain? Jika memang tidak menyukainya, bukankah sebaiknya blokir saja?

Sebagai negara Pancasila yang memiliki berbagai program pendidikan karakter, seharusnya kita dapat mengubah perilaku buruk ini berdasarkan norma-norma agama yang kita yakini karena ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan di kemudian hari. Mungkinkah agama hanya menjadi simbol belaka? Atau mungkin pendidikan karakter telah gagal mencapai tujuan yang diinginkan? Apakah ini merupakan bentuk degradasi moral generasi saat ini? Jika memang benar, langkah tepat apa yang dapat diambil? Dari mana harus memulainya?

Antisipasi dengan pendidikan

Mata pelajaran ICT atau komputer atau teknik informatika dimulai pada 1984. Pada saat itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia meluncurkan Program Pengajaran Komputer (P2K) yang diimplementasikan di sejumlah sekolah menengah. Program ini bertujuan memperkenalkan siswa-siswa Indonesia dengan dunia komputer dan teknologi informasi. Seiring dengan perkembangan teknologi, pelajaran komputer semakin berkembang dan menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan di berbagai jenjang.

Namun, sangat disayangkan, pelajaran komputer yang semakin lama semakin canggih tidak diimbangi dengan pendidikan etika penggunaan medsos dan internet sebagai mata pelajaran dalam kurikulum, misalnya. Tujuannya ialah pembiasaan perilaku bermedsos yang sesuai norma sosial. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena di sekolah siswa masih terikat dengan penilaian.

Baca juga Pesan Sam Altman bagi Pendidikan Indonesia

Banyak masalah dapat diselesaikan melalui pendidikan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan menganggap hal ini sepele dan aman-aman saja. Jika diabaikan, hal ini bisa menjadi bencana yang siap meledak. Melihat beberapa kasus di atas, semakin banyak korban perundungan, semakin meningkat pula kasus-kasus yang tidak diinginkan. Terdengar aneh jika di negara yang berlandaskan Pancasila dan menempatkan agama sebagai sila utama dan pertama, justru tidak dapat meletakkan Pancasila sebagai dasar perilaku bermedsos.

Sekolah seharusnya dapat memberikan pendidikan etika bermedia sosial (etika digital) untuk meningkatkan kesadaran siswa dalam menggunakan medsos yang bertanggung jawab dan aman. Dalam hal ini, sekolah harus melibatkan orang tua. Orang tua dapat diberikan informasi tentang tanda-tanda dan dampak perundungan digital, serta cara melindungi anak-anak mereka dari ancaman perundungan digital. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung.

Baca juga Haji dan Jihad Ekologis

Sekolah harus mengembangkan kebijakan yang jelas terkait dengan penggunaan media sosial dan penanganan kasus perundungan di medsos. Hal ini termasuk sanksi yang tegas terhadap pelaku perundungan di medsos dan dukungan yang tepat bagi korban.

Guru dan staf perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda perundungan di medsos dan memberikan dukungan emosional kepada siswa yang terkena dampak. Pelatihan ini dapat membantu guru dan staf sekolah menjadi lebih siap dan efektif dalam menangani isu-isu perundungan di medsos.

Sekolah juga harus mempromosikan budaya yang menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Terakhir, harus ada kolaborasi dengan lembaga eksternal.

Baca juga Haji Mabrur, Haji Transformatif

Semua manusia pada dasarnya memiliki perasaan yang peka terhadap bagaimana rasanya menjadi objek kata-kata kasar. Kita tidak boleh membiarkan diri kita terlibat dalam percakapan yang tidak pantas hanya karena berada di dunia maya. Hati dan perasaan kita juga memiliki batas. 

Kita harus menghindari perilaku yang membuat orang lain panik dan merasa tidak berguna, terutama sampai mereka membenci diri sendiri yang pada akhirnya dapat mengarah pada pilihan untuk mengakhiri hidup. Inilah sebabnya mengapa penting untuk melibatkan dunia pendidikan dalam memberantas perundungan di medsos.

*Artikel ini terbit di mediaindonesia.com, edisi Senin 24 Juli 2023

Baca juga Haji, Momentum Penguatan Moderasi Beragama

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....