HomeBeritaPelajar SMAN 1 Bulu...

Pelajar SMAN 1 Bulu Belajar Ketangguhan dari Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Pengalaman hidup penyintas terorisme melahirkan empati sekaligus menggerakkan hati generasi pelajar di SMAN 1 Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah. Siswa-siswi di sekolah tersebut mengaku semakin bersemangat untuk merawat kedamaian lantaran terinspirasi kisah korban aksi teror bom. Momen itu terjadi saat kegiatan Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh berlangsung di sekolah tersebut Mei lalu.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan AIDA dan didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut, peserta menyimak penuturan kisah korban dan mantan pelaku terorisme. Meskipun pernah mendapati musibah yang sangat berat, sebagian penyintas mampu bangkit, mengentaskan diri keluar dari kondisi keterpurukan. Ketangguhan mereka bahkan tak hanya sebatas itu. Mereka memaafkan kesalahan para pelaku terorisme yang telah menimpakan penderitaan. Para penyintas menanamkan semangat perdamaian dalam jiwa mereka sehingga bisa melampaui kepedihan masa lalu serta menjalani kehidupan pascatragedi dengan baik.

Baca juga Kepala SMAN 1 Bulu Sukoharjo: Berhati-Hatilah Belajar Agama

Kisah mantan pelaku terorisme turut menginspirasi para siswa untuk berjiwa tangguh. Perjalanan hidup mereka mengandung pelajaran bagi generasi muda untuk menguatkan pemikiran kritis sehingga tidak mudah terpengaruh paham atau ajaran kekerasan.

Setelah menyimak kisah penyintas dan mantan pelaku terorisme, para siswa peserta Diskusi Interaktif pun menuangkan gagasan. Salah seorang siswa mengatakan, kisah para penyintas mengingatkannya akan prinsip hidup yang sangat berarti. “Mempunyai pintu maaf sebesar mungkin dan selalu tabah dalam menghadapi suatu masalah,” ucapnya.

Baca juga Kepala SMAN 1 Bulu Sukoharjo: Kita Ingin Perdamaian

Sementara siswa lain mengakui bahwa pengalaman penyintas tidak hanya memberikan pengetahuan baru tentang terorisme, tetapi juga memberikan kesadaran akan pentingnya hidup rukun dan tidak menjadi pribadi yang pendendam.

“Saya lebih mengerti tentang damai. Jika kekerasan dibalas dengan kekerasan, tidak akan selesai. Maka itu, saya bisa menjadi orang yang tidak pendendam dan mencoba mengikhlaskan,” katanya.

Baca juga Mencetak Pejuang Damai di SMA Al-Muayyad Surakarta

Pembelajaran ketangguhan berikutnya juga disampaikan oleh seorang siswa lainnya. Menurutnya, cerita penyintas dan mantan pelaku memberikan pemahaman tentang kejadian kelam di masa lampau, sehingga generasi masa kini perlu kesadaran untuk memilih hal-hal yang baik sekaligus menghindari yang buruk. Menurutnya, pemuda seusianya penting untuk menelaah lingkungan dan pertemanan. “Berhati-hati terhadap pergaulan dan pentingnya pertobatan,” tuturnya.

Sedangkan peserta lain mengatakan, setelah mengikuti kegiatan AIDA, ia memedulikan betapa perlunya menjaga kedamaian untuk generasi muda, serta mempunyai sifat yang membawa perdamaian. “Dengan mengikuti kegiatan ini dapat memotivasi generasi muda untuk terhindar dari pengaruh terorisme dan menjadi lebih paham pentingnya sikap saling menghargai,” kata dia. [CNS]

Baca juga Perundungan Bisa Memicu Radikalisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...