HomeBeritaTiga Faktor Penghambat Perdamaian

Tiga Faktor Penghambat Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Ada tiga faktor dominan yang menghambat atau bahkan menghancurkan perdamaian global. Tiga hal tersebut harus diatasi bersama agar tidak menimbulkan malapetaka bagi kehidupan umat manusia.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Syafiq Abdul Mughni, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saat menjadi pembicara kunci dalam Forum Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar AIDA di Samarinda, Kalimantan Timur, akhir Mei 2023 silam.

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu menjelaskan, faktor pertama penghambat perdamaian adalah rivalitas politik global di mana beberapa negara memerebutkan status sebagai kekuatan adidaya. Bagaimana Amerika Serikat dan sekutunya bersaing dengan Rusia dan sekutunya terus bersaing merebut pengaruh politik global.

Baca juga Mendorong Santri Melestarikan Perdamaian

“Perang itu tidak di negara mereka tapi perangnya di negara lain, di Yaman, Suriah, dan lain-lain. Ada perebutan sumber daya alam, ada kekuatan, yang pendek kata, ingin menjadi penguasa tunggal di dunia ini. Persaingan inilah yang menyebabkan ketegangan, konflik, peperangan di berbagai daerah,” ujarnya.

Dalam konteks ini, publik harus pintar mendiagnosis setiap konflik yang terjadi. Misalnya perang di Suriah dan Yaman yang banyak dipersepsikan sebagai pertikaian antara Sunni dan Syiah, sehingga muncul sentimen anti-Syiah di banyak negara. Padahal dalam hemat Syafiq, sejatinya konflik itu dipicu perebutan kekuasaan, sumber daya alam, dan perdagangan.

Baca juga Menumbuhkembangkan Budaya Damai

Faktor penghambat perdamaian yang berikutnya adalah violent extremism (ekstremisme dengan kekerasan). Ekstremisme bisa berlatar politik, budaya, maupun agama. Syafiq mencontohkan ketegangan yang terjadi di Myanmar. Baginya, konflik di sana dipicu oleh rasa kebangsaan yang mengeksklusi orang-orang muslim bersuku Rohingnya yang dianggap bukan warga negara Myanmar.

“Ini menunjukkan bahwa violent extremism terjadi tidak dalam konteks agama, tapi dalam konteks politik. Karena hak kewarganegaraan tidak diberikan kepada orang-orang muslim Rohingya. Mungkin dimensi agama ada, tetapi hakikatnya tidak dominan. Karena di tempat lain, misalnya di Yangoon, umat muslim di sana baik-baik saja,” tuturnya.

Baca juga Ketua PP Muhammadiyah: Agama Tak Boleh Abaikan Kemanusiaan

Ha yang  kurang lebih sama juga terjadi di negara-negara Barat dalam bentuk sentimen anti-imigran. Karena adanya kebencian terhadap muslim imigran, sejumlah politisi mengeksploitasinya untuk mengeruk suara dalam pemilihan umum. Isu yang diangkat adalah anti-imigran. Sehingga menguat perasaan white supremacy dan semacamnya.

Faktor berikutnya adalah perubahan iklim (climate change), yaitu pemanasan global yang membuat persediaan sumber daya alam menjadi sangat terbatas. Dalam situasi itu umat manusia akan berebut sehingga peperangan rawan terjadi. Karena itulah umat manusia harus memiliki kesadaran menjaga lingkungan dan kelestarian alam sebagai salah satu upaya menjaga perdamaian di muka bumi. [MSY-MLM]

Baca juga Melengkapi Trilogi Ukhuwwah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....