HomeOpiniTidak Semua Orang Bisa...

Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Pendidik

Oleh: Sidharta Susila,
Pemerhati Pendidikan

Banyak orang bisa menjadi pengajar. Hanya sedikit yang bisa menjadi pendidik. Lebih-lebih pendidik bagi yang miskin dan tersingkirkan. Itulah yang akhirnya saya simpulkan dari pengalaman berinteraksi dengan sejumlah guru.

Hal yang paling dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan kita, khususnya bagi mereka yang miskin dan terpinggirkan, bukanlah uang, melainkan para guru atau dosen berjiwa pendidik. Dari pengalaman berinteraksi dengan sejumlah guru, ada pembeda besar antara guru berjiwa pengajar dan guru berjiwa pendidik.

Baca juga Berlarilah Menuju Allah

Beberapa tahun yang lalu saya berbincang dengan rekan guru di Tumbangtiti, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dalam perbincangan itu kami mengumbar ide untuk mengembalikan hakikat kehadiran sekolah kami, yaitu memberdayakan orang-orang muda hingga mereka menjadi orang-orang merdeka di daerahnya sendiri. Cara yang pernah kami pilih adalah memberi tambahan keterampilan di bidang pertanian.

Lalu saya tawarkan suatu proyek untuk membuat pertanian dan peternakan percontohan. Hal yang saya angankan adalah proyek itu menjadi laboratorium dan lahan latihan kreativitas bagi kaum muda dan masyarakat sekitar dalam melakukan pertanian dan peternakan dengan cara-cara yang murah, tetapi memberi hasil optimal.

Baca juga Efek Kobra Publikasi Ilmiah

Dalam bayangan saya, dengan belajar aneka kreativitas pertanian yang salah satunya didapatkan lewat Youtube, kaum muda di sekolah kami bisa mengalami aktivitas pertanian dan beternak yang keren. Saya tawarkan model pertanian hemat air, pembuatan kompos yang sederhana, ternak ayam dan ikan dengan magot, dan aneka pengelolaan pertanian dan peternakan kreatif lain.

Ujungnya, saya bayangkan naluri kreativitas dan nyali mengeksplorasi kreativitas menggelora. Tempurung pengerdil kreativitas tersingkap. Dengan demikian, setelah mereka meninggalkan sekolah kami, mereka menjadi manusia-manusia merdeka yang penuh daya kreativitas, memiliki nyali untuk menjalani hidup karena terbiasa mengelola kesulitan hidup dengan berlatih aneka cara serta kreativitas dalam menyelesaikan masalah.

Baca juga Islam dan Kerangka Etik Perubahan Sosial

Di ujung umbar gagasan itu, teman saya mengungkapkan, ”Kami tidak punya dana untuk melakukan itu semua.” Saat itu juga saya berjanji akan mencarikan dana lewat lembaga donasi untuk proyek itu. Dan terjadilah demikian.

Setelah beberapa bulan menerima puluhan juta rupiah untuk proyek itu, teman saya tidak juga segera memulai proyeknya. Katanya, dananya terlalu besar hingga kewalahan untuk membelanjakannya. Akhirnya, dengan tertatih-tatih dana donasi itu ia belanjakan juga. Sejumlah alat pertanian dan kegiatan pertanian dibuat, tetapi laboratorium pertanian untuk kaum muda dan masyarakat sekitar tidak pernah terwujud.

Selesai dengan diri sendiri

Kasus serupa saya alami dengan beberapa teman yang lain. Setiap kali saya tawarkan kreativitas pemberdayaan siswa atau masyarakat, tanggapan spontan yang dinyatakan adalah tidak ada dana untuk mewujudkannya. Lalu, ketika dana didapatkan, dana tersebut tidak dimanfaatkan dengan optimal. Ada yang membelanjakan dana itu hanya untuk proyek sesaat, ada juga yang dimanipulasi untuk proyeknya sendiri.

Pada pengalaman ini, rasanya pendidik itu mensyaratkan kondisi mental seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri berpotensi memanfaatkan, mengeksploitasi, serta memanipulasi orang-orang di sekitarnya dan hal-hal lain untuk kepentingan atau proyeknya sendiri. Bentuknya tidak selalu dalam korupsi uang.

Baca juga Mencegah Perundungan di Sekolah: dari Kebijakan ke Gerakan

Kepuasan guru atau dosen yang belum selesai dengan dirinya sendiri adalah ketika dirinya mendapat sanjungan atau bentuk apresiasi lain dari kegiatan pendidikan yang telah dilakukan. Biasanya mereka suka membuat status aktivitas pendidikan yang dilakukan di media sosial dengan harapan mendapatkan apresiasi atau pujian. Padahal, semestinya seluruh dinamika pendidikan diorientasikan untuk pemberdayaan peserta didik, bukan untuk diri sendiri.

Stephen R Covey, penulis The Seven Habits of Highly Effective People, menyatakan bahwa yang pertama dan utama dalam hidup ini harus mengorientasikan dan memperjuangkan kemenangan publik. Dalam konteks pendidikan, semestinya yang pertama dan utama diperjuangkan oleh para pendidik adalah kepuasan dan keberhasilan siswa, bukan kepuasan atau kemasyhuran diri sendiri.

Baca juga Membendung Perundungan dengan Sinergitas Tripusat Pendidikan

Dengan demikian, membangun pendidikan yang baik itu sebenarnya mengandaikan terjadinya pengolahan hidup para pendidik yang berkelanjutan agar pendidik semakin menjadi manusia merdeka dari hasrat-hasrat egoisnya. Aspek ini sering diabaikan, bahkan tidak disadari. Akibatnya, banyak ragam bentuk tindak kekerasan dan eksploitatif dalam pendidikan kita yang dilakukan para guru dan dosen.

Peran negara

Alasan lain ketika para guru enggan melakukan kreativitas yang memberdayakan peserta didik adalah tidak memiliki waktu karena harus mengerjakan urusan administrasi. Entah benar, entah tidak.

Yang lain, khususnya di sekolah-sekolah swasta yang kesulitan mendapatkan siswa karena ekspansi masif pembangunan sekolah negeri oleh negara, waktu dan fokus kerja mereka habis untuk mendapatkan siswa baru demi menyelamatkan keberlangsungan hidup sekolahnya. Kelangsungan hidup sekolah swasta akan menentukan kelangsungan hidup para guru di sekolah itu.

Baca juga Merindukan Kebiasaan Membaca Buku di Mana Saja

Dari fakta terakhir ini, bagaimanapun negara ikut memberi peran hingga menyebabkan para guru tidak memiliki pola didik yang berorientasi untuk memberdayakan dan memerdekakan siswanya. Masygulnya, korban terparah dari tata kelola pendidikan oleh negara semacam ini adalah siswa-siswa miskin, khususnya yang bersekolah di sekolah swasta miskin.

Dengan demikian, kita bisa paham, mengapa begitu banyak dana telah digelontorkan untuk pendidikan, tetapi jumlah kaum miskin di negeri ini tidak berkurang juga. Mungkinkah cara kita mengelola pendidikan justru melanggengkan kemiskinan di negeri ini?

*Artikel ini terbit di kompas.id, Rabu 24 April 2024

Baca juga Selepas Ramadhan Berlalu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....