HomeOpiniBerlarilah Menuju Allah

Berlarilah Menuju Allah

Oleh: KH Agoes Ali Masyhuri,
Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo

Carilah hatimu yang telah lama hilang pada tiga tempat: ketika kamu membaca Alquran, ketika kamu berada di majelis zikir, dan ketika kamu berada pada sepertiga malam yang terakhir. Allah SWT berfirman, ”Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS Adz-Dzariyat: 50)

Masih banyak lagi kisah keajaiban yang diabadikan dalam Alquran dan hadis. Semua itu menjadi bukti bahwa betapapun perkasanya seseorang, dia tetaplah sebuah makhluk kecil tak berdaya di tengah belantara jagat yang bisa berubah-ubah. Doa tidak bisa dipisahkan dengan usaha. Keduanya adalah perintah Allah sehingga masing-masing dari keduanya adalah komplemen bagi yang lain. Keduanya harus menyatu secara seimbang dalam kehidupan seorang muslim secara kafah yang tak kenal putus asa karena doa dan tawakal tak kenal malas karena kewajiban ikhtiar.

Baca juga Efek Kobra Publikasi Ilmiah

Hidup kita terlalu singkat untuk diisi dengan pergi menuju Allah dengan cara berjalan. Kita harus berlari sebelum waktu kita di dunia habis dan berakhir. Kita harus berlari dari segala yang menarik perhatian kita, menuju kepada Yang Satu, sebagaimana telah ditegaskan oleh Baginda Rasul saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Nabi SAW meriwayatkan dari Rabb-nya (hadis qudsi) bahwa Dia telah berfirman, ”Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR Bukhari)

Baca juga Islam dan Kerangka Etik Perubahan Sosial

Balasan dari Allah selalu lebih hebat daripada yang kita lakukan. Kita hendaknya senantiasa mohon perlindungan kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya dalam segala urusan dan masalah dengan menaati segala perintah-Nya dan bekerja untuk tujuan taat kepada-Nya.

Perjalanan menuju Allah harus dilakukan dengan menyucikan diri dan membersihkan hati. Karena hati kita sering terkotori dengan dosa yang kita lakukan. Dosa-dosa itu menjadi penghalang bagi kita dari Allah. Ketahuilah, orang-orang yang mampu berjumpa dengan Allah adalah mereka yang membawa hati yang bersih, bukan membawa harta dan anak-anaknya. Allah SWT berfirman, ”(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy-Syu’ara: 88-89)

Baca juga Mencegah Perundungan di Sekolah: dari Kebijakan ke Gerakan

Allah swt juga berfirman, ”Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS Al-A’la: 14-15)

Kata bahasa Arab tazakka berarti ”menyucikan diri”, juga berarti ”tumbuh”. Maka sangatlah cerdas dan tepat di dalam Islam pertumbuhan seseorang diukur berdasar tingkat kesucian dirinya. Bukan dari pangkat, jabatan, dan status sosialnya serta atribut yang lain. Semakin suci dan bersih seseorang, semakin tinggi pula derajatnya.

Baca juga Membendung Perundungan dengan Sinergitas Tripusat Pendidikan

Abraham Maslow, seorang psikolog humanistik, berkata bahwa puncak pertumbuhan manusia adalah pertumbuhan kepribadiannya atau aktualisasi diri. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

Jangan Menganggur

Pengangguran bisa melahirkan rangkaian keburukan dan menciptakan benih-benih kehancuran. Rasulullah Saw telah memperingatkan bahwa banyak manusia yang mengabaikan nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan yang mereka miliki. Sebagaimana sabda beliau, dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, ”Ada dua nikmat yang banyak orang tertipu olehnya, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan.” (HR Bukhari)

Betapa banyak orang sehat dan punya waktu luang, tetapi hidup mereka terombang-ambing tanpa arah karena tidak memiliki tujuan dan cita-cita yang jelas. Mereka terpuruk karena tidak mau bekerja dan memanfaatkan kesehatan serta kesempatannya.

Baca juga Merindukan Kebiasaan Membaca Buku di Mana Saja

Jika tidak bergerak cepat dalam pusaran kebaikan dan kerja keras untuk menyusun program hidup yang rapi, pasti kita dikuasai pikiran jahat dan ditemani berbagai hal yang remeh tanpa arti. Tegasnya, agar hidup kita tetap terjaga, seseorang harus menyusun rencana yang bisa mengisi seluruh waktunya dan tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk mengganggunya dengan bisikan yang menyesatkan.

Sungguh tepat apa yang dikatakan Imam Syafi’i ketika menjelaskan prinsip-prinsip dasar pendidikan. ”Jika tidak menyibukkan diri dengan kebenaran, Anda akan disibukkan oleh kebatilan.”

Baca juga Selepas Ramadhan Berlalu

Pernyataan tersebut sungguh cerdas, tepat, dan benar. Karena itulah, Islam menetapkan berbagai kewajiban atas setiap muslim sehingga dapat mengisi waktu hidupnya dengan menjalankan kebaikan. Jiwa tidak boleh dibiarkan kosong dan dipenuhi kebatilan. Dengan terus melakukan kebaikan, setiap waktu jiwa akan tetap terpelihara dalam lingkup kebaikan. Orang bijak telah berkata, ”Kita tidak akan merasakan dampak kecemasan ketika sibuk bekerja.”

Pengangguran telah membuat akal pikiran diisi dengan hal-hal jahat. Sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi’i, ”Jika tidak disibukkan dengan kebaikan, kita akan disibukkan dengan keburukan.”

Baca juga Publikasi Ilmiah dan Pematangan Intelektual

Orang-orang bijak selalu menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Istirahatnya ia niatkan untuk beribadah. Waktu-waktu yang terlewat tidak luput dari kebaikan. Meskipun miskin harta, ia selalu sibuk dengan kebaikan. Doanya banyak, zikirnya banyak, membaca bukunya banyak, berdakwahnya banyak, salat sunahnya banyak, tilawahnya banyak. Jika tidak dapat memberikan manfaat kepada orang lain, ia akan memberikan manfaat kepada dirinya sendiri.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Allah tidak mengutus seorang Nabi, melainkan Nabi itu menggembalakan domba.” Mereka (para sahabat) bertanya: ”Dan engkau juga wahai Rasulullah?” Jawabnya, ”Ya! Aku menggembalakan domba-domba milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.” (HR Bukhari)

Baca juga Memimpikan Kurikulum Inklusif

Hadis di atas mengandung petunjuk dan pelajaran bahwa nabi-nabi Allah, termasuk Nabi Muhammad Saw, bekerja dengan keras untuk mencari nafkah dengan jalan menggembalakan domba. Bahkan, Nabi Muhammad Saw pada masa remaja menjadi penggembala domba dengan menerima upah dari pemilik domba. Hadis tersebut mengandung petunjuk bagi kita bahwa Islam melarang seseorang menganggur hingga ia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta. Tetapi, Islam memerintahkan setiap orang bekerja dengan sungguh-sungguh sekalipun menjadi buruh.

*Artikel ini terbit di jawapos.com, Selasa 22 Agustus 2023

Baca juga Meraih Kemenangan Hakiki Berbasis Ekologi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...