4 weeks ago

Kedamaian di Dalam Diri

Hingga saat ini, peristiwa tersebut masih teringat di kepala saya.

Seperti yang kita ketahui, ada bom yang meledak pada 9 September 2003 di depan Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta. Setelah itu, saya sadar bahwa kedamaian sulit sekali terwujud dalam kehidupan bermasyarakat yang sangat heterogen akan suku, ras, latar belakang pendidikan, bahkan kepercayaan. Kedamaian yang saya maksud adalah perihal menghargai satu sama lain, memberikan pelayanan kepada sesama manusia.

Saya mengerti bahwa tidak semua hal baik bisa kita gapai tanpa melewati hambatan dan rintangan. Dan itu bukanlah alas an untuk berhenti menyebarkan kebaikan. Upaya dari setiap individu akan menular. Percayalah, nilai baik akan menuai dan melahirkan sesuatu yang baik pula.

Negara kita terdiri dari berbagai pulau, suku, agama, bahasa daerah, dan banyak perbedaan lainnya yang menyebabkan kita membawa keunikan masing-masing. Tentunya di tengah-tengah keberagaman Indonesia, kita butuh sifat tenggang rasa, saling menghormati hak, serta kepentingan mulia orang lain. Meski jalan kita berbeda-beda, pada akhirnya, kita tetap satu-kesatuan yang saling membutuhkan.

Saya masih terus berharap dan berpegangan bahwa segala perbedaan adalah berkah. Kedamaian adalah jalan panjang yang pantas untuk diperjuangkan.

Saya memang masih ingat betul peristiwa tersebut. Namun, saya tidak akan membahasnya lebih lanjut. Buat apa? Toh, saya sudah memaafkan. Saya yakin, kita perlu belajar untuk memaafkan sebab damai bermula dari sana, sebab damai berpangkal dari diri kita, sebab damai tidak akan terwujud jika kita tidak memulainya. Bagi saya, memaafkan merupakan salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk menciptakan damai di dalam hati.

Semoga perdamaian selalu melekat di lubuk semua insan. Ingat, hal mulia itu menular, hal baik akan menuai dan melahirkan sesuatu yang juga baik.

Salam perdamaian.

Puisi “Kunang-Kunang yang Menyinari Hati”

Hatimu gelap
matahari enggan rasuk ke sana;
rembulan pantang mengetuk
sebelum kita dinginkan didih.

sama seperti harapan
yang takkan datang
kala kaki ini lalai menjemput

kau harus sibak tirai dan buka pintu
memaafkan yang sudah terjadi;

kau perlu sibak tirai dan buka pintu
merelakan kehilangan

sehingga kunang-kunang
mau sedikit saja
untuk bersinar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *