Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya.
Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Abu Qutaibah dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di MAN Balikpapan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Februari 2023 silam.
“Berarti jika ada orang yang membaca Alquran dan mempelajarinya lalu melakukan keburukan/kejahatan maka yang salah bukan Alquranya tapi salah memahami/menafsirkannya. Inilah yang terjadi pada dunia radikalisme, mereka salah menafsirkan Alquran dan mengambil penafsiran sendiri dan melupakan penafsiran ulama terdahulu,” tegas Iskandar.
Baca juga: Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan
Iskandar mencontohkan salah satu kesalahan menafsirkan kelompok jaringan terorisme yaitu ketika Allah Swt memerintahkan perang maka perang dimana-mana, lalu ketika Allah Swt menyuruh membunuh maka membunuh siapa saja yang bertentangan dengan mereka.
Iskandar mengatakan radikalisme tetap ada karena masih adanya orang-orang yang berambisi kekuasaan. Menurut dia, kelompok ekstrem bertujuan untuk menegakan syariat Allah tapi yang dibunuh atau yang menjadi korban adalah hamba Allah yang rajin beribadah dan baik.
“Masjid Mapolresta Cirebon juga di bom. Akal kalian tidak akan nyambung kenapa masjid kok di bom. Jika begitu, yang salah orangnya bukan agamanya. Yang salah bukan agama dan syariatnya tapi salah menafsirkannya,” tutur dia.
Baca juga: Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme
Ia mengingatkan generasi muda untuk tidak mudah mengambil kesimpulan instan. Ia juga mengajak anak-anak muda untuk belajar agama yang baik. Menurutnya, agama memiliki tuntunan dan sebaik-baik tuntunan adalah Rasulullah Saw. [AS]
